Tema Sepekan

ilustrasi tema sepekan
15-21 Oktober 2017

Bersyukur dalam Ketidaksempurnaan Ayub 1:20-21

EKSPRESI PRIBADI

Corrie Ten Boom adalah seorang pahlawan iman yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang mencintai Tuhan dan juga sangat mengasihi orang Yahudi. Pada tahun 1940, di bawah kuasa Hitler, Jerman menduduki Belanda dan mulai mengadakan aksinya melarang orang Kristen beribadah dan menangkap orang-orang Yahudi untuk disiksa sampai mati. Corrie ditangkap karena menyembunyikan orang-orang Yahudi agar terhindar dari penganiayaan. Penjara yang ditinggali oleh tawanan Jerman tidak pernah layak untuk ditinggali. Berbau busuk. Tanpa makanan yang cukup dan layak. Orang-orang yang tidak tahan dan meninggal, jasadnya tetap dibiarkan di tahanan. Tidak heran, jika kemudian ada begitu banyak kutu, lalat, cacing dan serangga lainnya. Namun selama di penjara, Corie tidak menjadi putus asa. Ia justru menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman agar dapat memenangkan orang Jerman kepada Kristus.

Kegiatannya tersebut tidak pernah diketahui oleh tentara Jerman. Mengapa? Karena tidak seorang pun tentara Jerman tersebut yang mau masuk ke dalam penjara yang sedemikian jorok dan menjijikkan. Demikianlah Corie bertahan hidup dan terus berkembang menjadi berkat bagi banyak orang. Situasi buruk yang Ia lewati setiap hari justru menjadi “perisai” yang menjaga hidupnya.

Sharingkan apakah anda pernah merasakan hal yang sama - bahwa situasi tidak ideal dan buruk justru menghasilkan sebuah kebaikan.

EKSPLORASI FIRMAN

Tidak banyak orang yang tidak mengenal Ayub dan kisah hidupnya. Ia seorang yang luar biasa kaya dan penuh kelimpahan. Namun, dalam satu hari, Ia kehilangan semua harta dan keluarga yang dikasihiNya. Ayub kehilangan semua kenyamanannya, padahal ia sangat terbiasa dengan semua kemudahan. Ia memiliki istri yang berada disampingnya, namun justru menjadi orang memakinya. Ia mempunyai tiga sahabat, namun mereka justru mencari-cari kesalahannya. Ia masih memiliki tubuhnya, namun badannya penuh dengan luka dan rasa sakit yang mengerikan.

Ayub bergumul berusaha memahami situasinya dan mencari jawaban atas tragedi dan penderitaan yang dialaminya. Seberapa pun ia mencari penjelasan demi ketenangan jiwanya, ia tidak menemukannya - sampai ia berserah untuk percaya pada Allah saja. “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang pula aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” (Ayub 1:20-21) Ayub memuji Tuhan di tengah situasinya yang jauh dari sempurna. Ia memilih untuk fokus pada Tuhan daripada apa yang ia rasakan.

Allah itu nyata, tidak peduli apa yang kita rasakan. Tingkat penyembahan yang terdalam adalah memuji Allah meski dalam pergumulan, mengucap syukur kepadaNya pada saat pencobaan, berharap kepadaNya ketika dalam pencobaan, berserah diri sementara sedang menderita, dan tetap mengasihi Dia ketika Dia terasa jauh. Untuk mendewasakan relasi kita, Tuhan sekali-kali mungkin mengujinya dengan masa-masa yang rasanya seperti keterpisahan, yakni masa-masa ketika rasanya seolah-olah Allah meninggalkan atau melupakan kita. Dalam Yes. 8:17 dikatakan, “Dan aku hendak menanti-nantikan TUHAN yang menyembunyikan wajah-Nya terhadap kaum keturunan Yakub; aku hendak mengharapkan Dia.” Ayat ini menunjukkan bahwa ada waktunya Tuhan mungkin “menyembunyikan wajah-Nya.” Ketika itu terjadi, apa yang perlu kita lakukan adalah tidak berhenti berharap pada Tuhan.

Inilah tahapan yang alami dari ujian dan pendewasaan hubungan kita dengan Tuhan. Ayub mengalaminya dan ketika ia bertahan, maka ia mendapatkan bagian terbaiknya dari Allah. Tuhan pada akhirnya memulihkan kehidupan Ayub-bahkan lebih baik dari sebelumnya.

Beberapa orang cenderung berpikir bahwa dosa atau kesalahan kitalah yang membuat Allah terasa jauh. Namun sesungguhnya, seringkali perasaan keterpisahan ini tidak berkaitan dengan dosa, tetapi sebuah ujian iman. Kesalahan yang paling umum orang percaya dalam penyembahan sekarang ini adalah mencari suatu pengalaman dan bukannya mencari Allah. Banyak orang mencari “rasa” Tuhan dan frustrasi ketika gagal menemukannya. Lebih dari sekadar “rasa,” Tuhan ingin kita mempercayaiNya dalam segala keadaan. Itulah ujian iman kita.

Apa yang dapat kita lakukan ketika situasi hidup kita tidak ideal? [1] Jangan berhenti berdoa (bdk. 1Tes. 5:17); [2] Belajar fokus pada kepastian keberadaan Allah, bukan pada perasaan kita; [3] Pusatkan perhatian pada apa yang perlu (terus) kita lakukan, bukan pada apa yang kita perlu rasakan; [4] Belajar untuk terus mengucap syukur di tengah ketidaksempurnaan (bdk. 1Tes. 5:18).

APLIKASI KEHIDUPAN

M

Pernahkah Anda mengalami sepertinya Allah itu tidak nyata di tengah situasi kehidupan yang tidak ideal ?

U

Masihkah Anda bisa mengucap syukur di tengah ketidaksempurnaan kehidupan ?

R

Sharingkan pengalaman pergumulan berat yang memperkuat iman Anda kepada anggota CG !

I

Pelajaran apakah yang Anda bisa petik dari pengalaman iman Yakub ?

D

Sampai sejauh mana ujian iman yang Anda alami membawa kesaksian indah bagi orang yang belum kenal Tuhan ?

SALING MENDOAKAN

Akhiri Care Group Anda dengan saling mendoakan satu dengan yang lain

Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah bergantung daripada kekayaannya itu.

~ Lukas 12:15

Visi GII Hok Im Tong
Menjadi sebuah gereja yang berkenan di hati Tuhan, mempersembahkan yang terbaik bagiNya, mencapai kualitas dan kuantitas pelayanan yang berkembang, agar dalam dinamika dapat menggerejakan keluarga dan mengkeluargakan gereja bagi kemuliaan Allah.
Rekening Persembahan
BCA
514.003.0700 a/n GII Gardujati
CIMB Niaga
205.01.00018.00.1 a/n GII Hok Im Tong
OCBC NISP
073.800.00005.8 a/n Gereja Injili Indonesia
Sekretariat
Jl. Gardujati no. 51
Bandung 40181
Tel. (022) 6015276
Fax. (022) 6015275
Email: gii@hokimtong.org
Website: http://hokimtong.org
©2017 GII Hok Im Tong