Renungan

Tanggal: 28 Jun 2017
Ayat Alkitab: Markus 9:33-37

Etika Memimpin

Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Markus 9:35

Berawal dari perbincangan para murid tentang siapa yang terbesar di antara mereka, Yesus tergerak hatinya untuk berbicara tentang “Etika Memimpin”. Dia mengatakan, “Jika seseorang ingin jadi yang pertama, hendaklah ia jadi yang terakhir dan jadi pelayan bagi semua orang.” Etika memimpin yang disampaikan oleh Yesus, tampak terbalik dari etika memimpin dalam konteks politik, yang memandang kesempatan memimpin selalu berkaitan dengan kekuasaan dan pengaruh. Yesus memberi peringatan bahwa memimpin dengan menekankan kekuasaan, mudah tergoda untuk jatuh dalam sikap sombong, arogan, dan otoriter. Yesus tahu bahwa di masa depan, para murid suatu saat mau tidak mau akan diletakkan dalam satu persekutuan yang memerlukan pemimpin.

Untuk mengantisipasi ini, Yesus memberi sebuah etika memimpin yang lebih mencerminkan kekuatan kerendahan hati dengan mengambil semangat seorang pelayan. Etika memimpin yang ditawarkan Yesus, mengandalkan sebuah hati yang siap mengabdi, siap berkorban, siap melayani, dan mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

Etika memimpin ini, penerapannya tidak hanya dalam skala organisasi saja, tetapi juga mulai dari kehidupan berkeluarga hingga bergereja. Suasana hidup berkeluarga dan bergereja yang diwarnai dengan kerelaan untuk saling melayani, saling berkorban, saling memperhatikan, merupakan pantulan dari suasana kepemimpinan orangtua yang menekankan etika memimpin ala Yesus. Kalau setiap keluarga dan komunitas gerejani menekankan etika memimpin ala Yesus, maka tidak mustahil hidup bersama akan diwarnai dengan suasana kekeluargaan yang hangat dan saling mengandalkan.

Inti utama firman Tuhan adalah soal melayani dengan kasih. Kunci pelaksanaannya adalah dengan menghormati orang lain dan mendengarkan mereka. Sikap rendah hati mendorong sikap menghormati dan menghargai orang lain yang membuat orang lain senang dan semangat. Sikap ini bisa menciptakan suasana kondusif dan itu membahagiakan.

Tuhan Yesus mau para murid-Nya - termasuk kita semua dalam hal memimpin, belajar menghormati/menghargai dan belajar mendengar orang lain sehingga hidup murid-Nya bisa lebih bijak dalam melayani Tuhan dan memimpin sesama. Salam menghormati dan mendengar.

MEMIMPIN DENGAN SEMANGAT SEORANG PELAYAN MEMBUTUHKAN KERENDAHAN HATI UNTUK MENGHARGAI DAN MENDENGAR ORANG LAIN.


Lihat Arsip Renungan
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

~ Efesus 2:8-9

Visi GII Hok Im Tong
Menjadi sebuah gereja yang berkenan di hati Tuhan, mempersembahkan yang terbaik bagiNya, mencapai kualitas dan kuantitas pelayanan yang berkembang, agar dalam dinamika dapat menggerejakan keluarga dan mengkeluargakan gereja bagi kemuliaan Allah.
Rekening Persembahan
BCA
514.003.0700 a/n GII Gardujati
CIMB Niaga
205.01.00018.00.1 a/n GII Hok Im Tong
OCBC NISP
073.800.00005.8 a/n Gereja Injili Indonesia
Sekretariat
Jl. Gardujati no. 51
Bandung 40181
Tel. (022) 6015276
Fax. (022) 6015275
Email: gii@hokimtong.org
Website: http://hokimtong.org
©2017 GII Hok Im Tong