Renungan

Tanggal: 18 Oct 2017
Ayat Alkitab: 1 Samuel 2:12-17

Kisah Lirih Bapa Eli (2)

“Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” Kejadian 4:7

Pada renungan kemarin kita sudah membahas tentang ketidakhadiran Eli dalam tumbuh-kembang anak-anaknya. Kita akan melihat kegagalan kedua Eli dalam menjadi ayah, yaitu Eli permisif terhadap dosa anak-anaknya. Eli tahu apa yang mereka perbuat. Ia menegur perbuatan mereka tetapi tidak mengkonfrontasi dosa itu lebih lanjut. Teguran itu sekadar ucapan bibir. Ia tidak memberi sanksi atas kejahatan itu dan tidak mendesak mereka bertobat. Eli tidak memberhentikan mereka dari tugas pelayanan.

Sikap permisif bukanlah ungkapan kasih. Permisif terhadap kesalahan anak sama saja menjadikan anak itu berhala karena menempatkan anak dan kelakuannya lebih tinggi daripada Tuhan dan kehendak-Nya. Kalau saja Eli menghukum mereka, maka hukuman yang lebih berat dari Tuhan tidak akan menimpa.

Dampak sikap permisif terhadap dosa orang lain adalah sikap kompromi dengan diri sendiri. Ketika Eli tidak tegas terhadap dosa, maka kompromi dengan dosa terjadi pada dirinya. Eli pun terjerat dosa yang sama. Ia ikut menikmati jarahan anak-anaknya (2:29). Eli bukan saja tidak bisa lagi memberi pengaruh tetapi ia sudah terpengaruh. Permisifisme terhadap dosa orang lain dapat menyeret kita untuk melakukan hal yang sama.

Disadari atau tidak, banyak orangtua hari ini berperilaku sama. Hal “sepele” seperti membiarkan anaknya malas-malasan ke gereja dengan alasan kasihan sepanjang minggu lelah bersekolah, atau terlambat datang ke gereja adalah permisifisme yang kelak bisa menjadi racun terhadap kehidupan. Anak belajar bahwa beribadah kepada Tuhan adalah hal yang tidak seserius pergi sekolah. Itu berarti, Tuhan juga bukan pribadi yang patut dijunjung setinggi gurunya yang menghukumnya kalau terlambat. Kesan itu akan terbawa sampai dewasa. Mereka permisif kepada anak-anaknya karena mereka sendiri tidak disiplin terhadap diri sendiri. Kembali pada contoh soal terlambat ke gereja: orangtua sendiri bangun siang pada hari Minggu karena kemarin nonton bola sampai dini hari.

Hendaklah kita, para orangtua bersikap tegas terhadap dosa supaya anak-anak dan generasi muda di bawah kita bersikap hormat kepada Allah Bapa, sebagai satu-satunya Tuhan yang kita sembah.

PERMISIFISME TERHADAP DOSA ADALAH AWAL DARI MALAPETAKA.


Lihat Arsip Renungan
Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perbuatanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu

~ I timotius 4:12

Visi GII Hok Im Tong
Menjadi sebuah gereja yang berkenan di hati Tuhan, mempersembahkan yang terbaik bagiNya, mencapai kualitas dan kuantitas pelayanan yang berkembang, agar dalam dinamika dapat menggerejakan keluarga dan mengkeluargakan gereja bagi kemuliaan Allah.
Rekening Persembahan
BCA
514.003.0700 a/n GII Gardujati
CIMB Niaga
205.01.00018.00.1 a/n GII Hok Im Tong
OCBC NISP
073.800.00005.8 a/n Gereja Injili Indonesia
Sekretariat
Jl. Gardujati no. 51
Bandung 40181
Tel. (022) 6015276
Fax. (022) 6015275
Email: gii@hokimtong.org
Website: http://hokimtong.org
©2017 GII Hok Im Tong