365 renungan

Di mana engkau Tuhan?

Mazmur 22:1-6

“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku, berseru tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku?”
- Mazmur 22:2

Di mana Kau Tuhan ketika anakku, pasanganku, orangtuaku, sahabatku dan aku menderita? Entah sudah berapa banyak jam aku memohon, menangis, dan berdoa.” Mendengar seruan itu, saya lantas memahami mengapa banyak di antara kita yang menjadi kecewa. Kita patah hati karena seolah-olah Tuhan menghilang dan terdiam saja.

Ada yang berseru, “Apakah Tuhan tidak tahu kalau didiamkan itu tidak enak?” Yang lain bertanya, “Di mana Tuhan? Aku berseru tapi Engkau seolah tak mau tahu.” “Apakah penderitaan dan pedih hatiku bukan lagi jadi peduli-Mu? Engkau diam dan begitu jauh! Engkau seolah mempermainkan apa yang sudah kutitipkan kepada-Mu... hatiku, diriku, dan percayaku.”

Tak ada lagi kata dalam doaku, hanya lidah yang kelu. Hanya tarikan nafas mengiringi linangan airmata. Ada begitu banyak perasaan yang tak mampu diungkapkan, hanya bisa dirasakan. Banyak perkara yang tak terucapkan dengan kata-kata, hanya airmata semata.

Anda pernah mengalaminya? Selamat! Anda tidak sendirian. Pemazmur dan Tuhan Yesus pun pernah mengalaminya. Itu adalah bagian dari proses hidup yang harus dijalani. Tidak ada kemuliaan tanpa salib, tidak ada kemenangan tanpa perjuangan. No pain, no gain.

“Allahku, mengapa Engkau meninggalkanku? Aku berseru, tapi Engkau tetap jauh dan tidak menolongku?” Itu ungkapan yang sarat dengan emosi, jeritan hati. Perasaan ditinggalkan, penuh kepedihan. Mazmur 22 ini penuh kesengsaraan. Ada yang menyebut sebagai Mazmur Salib karena ayatnya diucapkan Yesus Kristus saat berada di kayu salib.

Dalam penderitaan-Nya ditinggalkan Bapa, Yesus tidak kehilangan iman-Nya. Pemazmur dan Tuhan Yesus tidak pernah menyerah. Mereka tetap memandang Allah. Penderitaan adalah bagian tak terpisahkan dari hidup pemazmur. Melalui kesusahan justru persekutuannya dengan Allah diperkaya dan imannya diperdalam.
Bagaimana dengan kita? Jangan menyerah. Hayoo bangkit! Karena semua akan ada akhirnya. Karena semua akan tiba pada waktu-Nya. Tetaplah setia walaupun tidak mudah. Kesulitan yang sedang Anda alami justru terkadang membuat Anda dekat dengan Yesus. Dari sana iman Anda kepada-nya akan bertumbuh dan terlatih untuk percaya kepada-Nya.

Refleksi Diri:

  • Kapan Anda pernah merasa ditinggalkan Allah, seakan Dia terdiam tak mendengar seruan Anda?
  • Sadarkah Anda bahwa melalui kesengsaraan dan penderitaan, persekutuan dan iman Anda justru bertumbuh?