Pembinaan

"Apologetika" keluarga kristen

PENETAPAN ILAHI

Keluarga adalah sebuah komunitas terkecil yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak. Biarpun sebagai komunitas terkecil, ternyata keluarga mempunyai peranan dan kedudukan yang sangat penting dan strategis, dalam pengertian: (1). Keluarga menjadi dasar dari komunitas yang besar, yaitu gereja, masyarakat dan bangsa. (2). Keluarga menjadi sarana penyedia dan pendukung lahirnya generasi-generasi penerus yang akan datang, yang akan melanjutkan tongkat estafet sejarah kehidupan manusia di dunia ini

Kepentingan dan strategis didalam keluarga ini dengan jelas diungkapkan Alkitab pada awal kitab Kejadian. Setelah manusia itu diciptakan Allah, maka lembaga pertama yang Allah bentuk, yang usianya sama tuanya dengan penciptaan dunia adalah lembaga pernikahan atau keluarga. Dengan jelas dikatakan: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki. Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging" (Kej 2:23-24). Ini adalah penetapan ilahi yang sangat indah dan luar biasa, yaitu keberadaan manusia yang sejati dan yang sebenarnya secara kodratnya adalah lahir, ada, berada, bertumbuh di dalam sebuah keluarga. Allah tidak pernah menghadirkan manusia diluar keluarga! Hanya manusia pertama saja, yaitu Adam, yang kehadirannya tidak lewat keluarga. Manusia selalu di dalam pandangan Allah, berawal, berlanjut terus dan berakhir di kehidupan ini didalam berelasi dengan keluarga.

Yang sangat menarik adalah bahwa penetapan ilahi ini digambarkan dengan sangat menyentuh dan intim (dekat) sekali, yaitu: menjadi satu daging. Ada 3 pengertian yang dapat diungkapkan:
(1). Bicara tentang konsep monogami, yaitu suami istri adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
(2). Bicara tentang kedalaman relasi, yaitu: suami istri dikatakan "telanjang" dan tidak menjadi malu, karena sudah menjadi satu tubuh - tidak ada yang ditutup-tutupi dan terbuka didalam seluruh aspek kehidupan.
(3). Bicara tentang "prokreasi", yaitu suami istri didalam kesatuan daging (seksual) "menciptakan" (melahirkan) manusia baru keturunannya untuk memenuhi perintah Tuhan beranak-cucu dan memenuhi bumi (Kej 1:28).
Semua kebenaran ini dibingkai oleh Allah sendiri didalam keluarga.

Apologetika adalah sebuah usaha untuk mempertahankan dan membela kebenaran. Kebenaran yang bukan hanya bersifat subjektif tapi objektif. Bukan yang bersumber pada diri manusia, dunia, apalagi Iblis; tetapi pada pribadi Allah sendiri, karena Allah adalah kebenaran yang sejati. Alkitab menjadi instrument bagi orang percaya untuk menggali dan menemukan kebenaran itu.

Namun demikian, apologetika janganlah dipahami secara sempit atau picik yaitu sebagai "pejuangan" untuk membela Allah (Allah tidak perlu dibela karena Ia dapat membela diri-Nya sendiri), tetapi lebih dipahami sebagai bentuk pertanggungjawaban iman (1 Pet 3:15). Konsep pertanggungjawaban iman inilah yang menjadi titik berangkat didalam mengupas pembahasan apologetika keluarga Kristen, dalam pengertian bagaimana sebagai orang percaya yang Tuhan sudah anugrahkan keluarga dapat dipertanggung jawabkan. Tidak hanya dihadapan manusia tetapi khususnya dihadapan Tuhan, baik sebagai orang tua, suami – papa, istri – mama maupun sebagai anak-anak!

Konsepnya sangat jelas yaitu bukan hanya sekedar berkeluarga dan ada didalam keluarga semata, tetapi yang terpenting adalah apa yang Tuhan kehendaki dan rancangkan untuk setiap keluarga yang dimiliki. Meminjam istilah dalam Mzm 127:4 yaitu: "Seperti anak panah di tangan pahlawan". Artinya bagaimana "melesatkan" (membawa) keluarga – setiap anggota keluarga pada sasaran yang tepat yang Tuhan inginkan, yaitu hidup didalam kebenaran dan memuliakan Tuhan (Yes 33:7b bnd Rom 11:36). Inilah "pahlawan" yang sejati dalam keluarga. Pahlawan yang dapat menemukan sasaran yang jelas dan tepat bagi dirinya sendiri dan anggota keluarganya.

Apologetika dihadirkan sebagai sebuah penangkal yang handal untuk menolak semua konsep dunia yang sudah meracuni dan merusak kehidupan keluarga-keluarga sepanjang zaman. Perselingkuhan, perceraian, pertengkaran, KDRT, keegoisan, penyimpangan seksual, kesibukan didalam urusan pribadi dan pekerjaan, emosi yang tak terkendali, hedonisme, penelantaran anak, kerohanian yang dangkal, persaingan dalam keluarga, dan masih banyak lagi. Semua ini menjadi kondisi darurat keluarga yang perlu direspon dengan cepat, untuk melakukan tindakan penyelamatan. Apologetika sebagai sebuah tindakan penyelamatan yang dapat melahirkan kesadaran akan kebutuhan tindakan Allah sendiri dalam penebusan.

Hakekat ultima apalogetika Kristen adalah Allah dan FirmanNya. Oleh karena itu, tindakan penyelamatan keluarga harus selalu dilakukan didalam kuasa Allah dan kebenaran Firman-Nya. Inilah bentuk konkret dari pertanggungjawaban iman. Yang pasti didalam apologetika, setiap anggota keluarga harus mengalami perjumpaan baik secara pribadi maupun komunal dengan Allah dan kebenaran Firman-Nya, sebagai pintu masuk mengenal Dia, didalam segala karakter dan keberadaan rencana-Nya yang sempurna untuk setiap keluarga.

PerjumpaanAllah ini hanya bisa terjadi dan terwujud pada saat relasi kedekatan dengan Allah itu dilakukan. Lihat gambar dibawah "Triangle Family Christianity".

Pusat hidup dari keluarga (suami, istri dan anak-anak) adalah pada Tuhan sendiri. Anggota keluarga didalam kesadaran penuh menjadikan Tuhan sebagai:
(1). Kepala Keluarga, yang menjadi pemimpin yang berotoritas, yang perlu ditaati, dihormati dan ditakuti.
(2). Penyelamat keluarga, menjadi juru selamat pribadi dan keluarga untuk memberikan jaminan kelahiran baru, pertobatan, iman, pembenaran, penyucian, ketekunan dan hidup kekal.
(3). Sumber berkat keluarga, menjadi pemenuhan dan pemuas untuk segala kebutuhan jasmani (sandang, papan, pangan) maupun rohani (ketenangan, kedamaian, kepuasan hidup) Untuk dapat mengalami langkah apologetika yang penuh, maka peranan dari Roh Kudus sangatlah dibutuhkan. Hanya Dialah yang dapat mengarahkan seluruh kehidupan ini secara benar dan kudus, sehingga keluarga menjadi "Bait Allah" yang hidup (1 Kor 6:19-20).
Semangat didalam Apologetika keluarga Kristen adalah: Kasih dan Kesetiaan (Ams 3:3-4). Inilah yang membuat keluarga mendapatkan kasih dan penghargaan di hadapan Allah dan manusia. Soli Deo Gloria. [LHP]