Pembinaan

KeIlahian Yesus

"Siapakah Yesus itu?" Mengapa nama-Nya menyebabkan banyak orang terganggu? Alasannya, karena Ia menyatakan dirinya sebagai Allah. Salah satu bagian Alkitab yang merupakan pengakuan Yesus atas diri-Nya sendiri adalah pada waktu Dia diadili (Mrk 14:60-64).

Maka Imam Besar bangkit berdiri di tengah-tengah sidang dan bertanya kepada Yesus, katanya: "Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Imam Besar itu bertanya kepada-Nya sekali lagi, katanya: "Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?" Jawab Yesus: "Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit." Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Untuk apa kita perlu saksi lagi? Kamu sudah mendengar hujat-Nya terhadap Allah. Bagaimana pendapat kamu?" Lalu dengan suara bulat mereka memutuskan, bahwa Dia harus dihukum mati.

Analisis terhadap kesaksian Kristus membuktikan bahwa Dia menyatakan diri-Nya sebagai (l) Anak dari Yang Terpuji (Allah); (2) Dialah yang akan duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa, dan (3) Dialah Anak Manusia yang akan datang di tengah awan-awan di langit. Masing-masing penegasan ini nyata sekali menunjukkan bahwa Yesus memang Sang Mesias. Dampak yang bertambah-tambahdari ketiga pernyataan ini mencolok sekali. Sanhedrin, yaitu Pengadilan Yahudi, menangkap ketiga pernyataan tersebut, dan imam besar menanggapinya dengan mengoyakkan pakaiannya serta berkata, "Untuk apa kita perlu saksi lagi?" Akhirnya mereka sudah mendengarnya dari mulutNya sendiri. Yesus dinyatakan bersalah berdasarkan kata-kata yang keluar dari mulutNya sendiri.

Robert Anderson menunjukkan, "Tak ada bukti yang lebih meyakinkan daripada bukti dari para saksi yang menaruh benci. Dan kenyataan bahwa Yesus menyatakan keilahian-Nya terbukti jelas melalui tindakan musuh-musuh-Nya. Kita harus ingat bahwa orang-orang Yahudi bukanlah bangsa yang bodoh, melainkan berbudaya tinggi serta amat saleh beribadah. Dan justru berdasarkan tuduhan itu, tanpa satu suara pun yang tidak setuju, hukuman mati-Nya dijatuhkan oleh Sanhedrin, yaitu dewan nasional tertinggi mereka, yang terdiri dari para pemimpin keagamaan yang paling terkemuka, termasuk orang-orang segolongan dengan Gamaliel dan muridnya yang hebat, Saulus dari Tarsus.

Oleh karena itu jelaslah bahwa Yesus justru ingin memberikan kesaksian itu mengenai diri-Nya. Kita pun dapat melihat bahwa orang-orang Yahudi itu memahami jawaban-Nya sebagai pernyataan-Nya bahwa Dia adalah Allah. Karena itu ada dua alternatif yang harus kita hadapi: yaitu bahwa pernyataan-pernyataan-Nya itu memang hujatan, atau bahwa Dia memang Allah. Hakim-hakim-Nya melihat masalahnya dengan jelas, malah dengan begitu jelas sehingga mereka menyalibkan Dia dan kemudian mengejekNya karena "Ia menaruh harapan-Nya pada Allah…Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah" (Mat 27:43).

H.B. Swete menjelaskan makna tindakan imam agung yang mengoyakkan pakaiannya itu: "Taurat melarang Imam Agung mengoyakkan pakaiannya, kalau itu cumamasalah-masalah pribadinya (Im 10:6; 21:10). Tetapi bila dia bertindak sebagai hakim, kebiasaan masyarakatnya memaksanya untuk memperlihatkan dengan cara ini kengeriannya akan hujatan apa pun yang diucapkan dalam kehadirannya. Kelegaan yang dirasakan oleh hakim yang sebelum Yesus berbicara merasa dirinya dipermalukan itu memang jelas. Kalau bukti yang dapat dipercaya itu tidak kunjung muncul, maka kini bukti itu tak lagi diperlukan: Sang Tahanan telah membuat diri-Nya terhukum.

Kita mulai melihat bahwa pengadilan ini bukan pengadilan biasa, seperti yang diungkapkan oleh pengacara Irwin Linton: "Ini adalah pengadilan yang unik di antara berbagai pengadilan kejahatan di mana yang menjadi masalah bukanlah perbuatan-perbuatan, melainkan identitas si tertuduh. Tuduhan kejahatan yang dikenakan kepada Yesus, pengakuan atau kesaksian atau, lebih tepatnya, tindakan di depan pengadilan, berdasar mana Dia dinyatakan bersalah, interogasi oleh gubernur Romawi serta tulisan dan pernyataan pada salib-Nya di waktu pelaksanaan hukuman, semuanya berkaitan dengan satu masalah, yaitu identitas dan kehormatan Yesus yang sebenarnya. Siapakah Yesus itu menurut anda? Anak siapakah Dia." Pada kebanyakan pengadilan, orang diadili karena perbuatan mereka, tetapi bukan demikianlah halnya pada pengadilan Yesus. Yesus diadili karena siapa diri-Nya.

Pengadilan Yesus ini seharusnya cukup untuk membuktikan kepada manusia dengan pasti bahwa Dia mengakui keilahian-Nya. Hakim-hakim-Nya memberikan kesaksian terhadap hal itu. Tetapi juga, pada hari penyaliban-Nya, musuh-musuh-Nya mengakui bahwa Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang menjelma dalam daging. "Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata: "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya.Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah." (Mat 27:41-43).

Masih banyak lagi bagian dalam Alkitab di mana Yesus mengakui diri-Nya sebagai Allah. Seorang pengusaha yang memeriksa Alkitab untuk memastikan apakah Yesus benar-benar menyatakan diriNya sebagai Allah, berkata, "Bila ada seseorang yang membaca Perjanjian Baru, tetapi tidak menyimpulkan bahwa Yesus menyatakan diri-Nya sebagai ilahi, maka dia sama halnya dengan seorang buta yang berdiri di luar ruangan pada suatu hari yang cerah dan berkata bahwa dia tak bisa melihat matahari." (AA).

Sumber: Josh McDowell. Benarkah Yesus itu Allah? Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994