Pembinaan

Pengharapan orang percaya

'Pengharapan' adalah sebuah kata yang memiliki makna dalam bagi banyak orang. Ketika seseorang mengalami sakit parah dan dokter mengatakan bahwa operasi akan membereskan penyakitnya, maka orang tersebut akan memiliki pengharapan. Seseorang yang tersesat di gunung yang tidak dikenalnya dengan baik akan memiliki pengharapan untuk selamat ketika melihat ada rumah di kejauhan. Penumpang kapal laut yang sedang tenggelam akan memiliki pengharapan untuk selamat ketika ia berhasil mengenakan jaket penyelamat atau pelampung.

Pengharapan memberikan semangat untuk bergerak ke depan. Bahkan bagi sebagian orang, pengharapan adalah satu-satunya yang memberikan alasan untuk hidup. Persoalannya, pengharapan sebagaimana dimaksud oleh dunia adalah sebuah pengharapan yang belum tentu akan menjadi kenyataan. Operasi bukannya menyembuhkan malahan membawa komplikasi lanjutan; orang yang tersesat dalam perjalanan di gunung ternyata terpeleset dan jatuh ke dalam jurang; penumpang kapal laut yang mengenakan jaket penyelamat ternyata digigit oleh ikan hiu. Jadi, pengharapan yang muncul belum tentu betul-betul pengharapan yang memberikan hasil pasti sesuai yang diharapkan.

Jikalau ini adalah satu-satunya jenis pengharapan yang ada di dalam kehidupan kita, alangkah menyedihkannya hidup ini. Kita tidak memiliki kepastian akan apapun dalam hidup ini di masa depan. Kita berjalan dalam hidup sepenuhnya bergantung kepada belas kasihan ‘alam semesta’ atau nasib, betapapun kita berusaha melawan itu semua. Tetapi bersyukur bahwa sebagai orang percaya kita memiliki pengharapan yang bukan hanya 'mimpi siang bolong' atau pengharapan yang tidak pasti. Alkitab memberitahu kita akan sejumlah pengharapan yang pasti akan terjadi pada diri kita di suatu waktu di hadapan kita. Semua pengharapan ini tentunya didasarkan atas karya Kristus yang mati di kayu salib dan bangkit. Kebangkitan-Nya memastikan bahwa apa yang dijanjikan-Nya akan terjadi, sebab penghalang terbesar telah dikalahkan yakni maut.

Apa sajakah pengharapan yang dimiliki oleh orang percaya yang pasti akan diterimanya?

Pertama, orang percaya memiliki pengharapan pasti bahwa dia akan hidup selamanya bersama dengan Tuhan Yesus. Ini artinya kehidupan tidak akan pernah berakhir. Mengapa demikian? Karena dosalah yang menyebabkan manusia tidak bisa hidup bersama dengan Tuhan dan suatu hari harus masuk neraka. Tetapi ketika seseorang percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat pribadi yang menebus dosanya, Dia segera memiliki relasi yang hidup dengan Allah. Benar, kehidupan di bumi sebagaimana yang kita kenal sekarang ini akan berakhir. Setiap kita akan berakhir pada kematian, tetapi kematian tidaklah mengakhiri segalanya. Ketika kita meninggal, kita akan segera bersama-sama dengan Tuhan Yesus dan meninggalkan dunia yang kita kenal sekarang. Pengharapan ini pasti, sebab Tuhan sendirilah yang berjanji untuk menyertai setiap orang percaya sampai kepada akhir zaman. Pengharapan ini menyelesaikan masalah ketakutan akan kematian dan akan keterasingan manusia di dalam hidupnya.

Kedua, orang percaya memiliki pengharapan yang pasti akan kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Dahulu Dia datang dalam segala kerendahan dan kehinaan, dalam palungan binatang, dikejar-kejar oleh Raja Herodes sehingga harus menyingkir ke Mesir, mengalami penolakan, hinaan bahkan hukuman yang paling rendah saat itu, yakni penyaliban.

Tetapi setelah Dia bangkit dan membuktikan kuasa-Nya atas segala sesuatu. Dia berjanji akan datang kembali untuk kedua kalinya dalam segala kemuliaan.Kedatangan-Nya kelak akan mengubah segala sesuatu yang ada dan yang kita kenal dari dunia sekarang. Kejahatan tidak akan ada lagi karena Iblis dan antek-antek-Nya dikalahkan, pengadilan yang paling adil akan terwujud dengan Allah sebagai Sang Hakim, umat percaya yang selama ini mengalami penderitaan akan dibebaskan dan iman mereka akan diperlihatkan tidak sia-sia. Langit dan bumi yang baru akan terwujud, tempat orang percaya akan hidup selamanya dengan Allah. Pengharapan akan hal ini sungguh akan memberi kekuatan bagi orang percaya untuk bertahan hidup dalam dunia yang penuh dosa.

Ketiga, orang percaya memiliki pengharapan akan kebangkitan tubuh. Inilah juga yang setiap minggu kita nyatakan melalui Pengakuan Iman Rasuli. Tuhan menciptakan manusia secara utuh, yakni unsur jasmani dan unsur rohani. Dosa memisahkan kedua hal ini untuk sementara pada waktu manusia mengalami kematian jasmani, tetapi di akhir zaman nanti, tubuh kita akan dibangkitkan. Tubuh yang dibangkitkan ini tentu memiliki perbedaan dengan tubuh yang sekarang kita miliki. Tubuh itu adalah tubuh yang mulia, yang tidak dapat binasa. Jadi, kita bukanlah roh yang melayang-layang tanpa bentuk di Surga. Pengharapan yang pasti ini seharusnya membawa kita pada suatu cara hidup yang sangat berbeda dengan kehidupan orang-orang yang menganggap bahwa tubuh kalah penting dibandingkan jiwa atau roh. Kita akan sungguh-sungguh menghargai tubuh fisik yang Tuhan telah berikan kepada kita, tidak memakainya untuk sembarangan berdosa tetapi menyerahkannya untuk dipakai bagi kemuliaan Allah.

Keempat, orang percaya juga memiliki pengharapan akan kekuatan dan penyertaan Allah senantiasa dalam hidup sehari-hari saat ini, bukan hanya secara eskatologis. Sebagai anak-anak dari Sang Pencipta dan Bapa Yang Mahakuasa, orang percaya bisa memiliki keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkannya bahkan dalam situasi yang paling gelap sekalipun, termasuk ketika melewati bayang-bayang maut. Sang Gembala Agung akan selalu menyertai mereka. Sekalipun Dia tidak dapat dilihat dengan mata jasmani, Roh yang diberikan-Nya kepada setiap orang percaya menjamin kehadiran Allah Tritunggal setiap waktu, 24 jam sehari, sepanjang masa. Dia bukan hanya hadir, tetapi juga menolong, menguatkan, menghibur, memberi keyakinan dalam diri setiap umat-Nya.

Selain hal-hal di atas, ada pengharapan pasti akan hal lain seperti kepastian akan pemulihan hubungan dengan Allah ketika kita mengakui dosa dalam hidup sehari-hari, pengharapan bahwa doa-doa orang percaya tidak akan sia-sia karena Allah mendengarkan dan sebagainya. Semua pengharapan ini bisa terjadi dengan pasti sebab Yesus telah menderita dan mati di kayu salib dan bangkit serta naik kepada Bapa. Dialah dasar yang pasti dari semua pengharapan ini. Soli Deo Gloria. [DK]