Pembinaan

Zona nyaman: area berbahaya !

PENDAHULUAN

Seiring berkembangnya dunia di abad ke-21, maka manusia pada zaman ini terus ditawarkan beragam kemudahan, kecepatan, dan kenyamanan hidup.Segala pengembangan produktivitas hari ini sekaligus membawa efek potensi yang baik maupun buruk terhadap orang-orang yang hidup dengan area kenikmatannya masing-masing. Kita harus menyadari bahwa zona kenyamanan yang kita hidupi hari ini bisa menjadi bumerang bagi kerohanian kita, yakni dapat menjadi penghalang bagi pertumbuhan iman kita. Apakah kita menyadari bahwa tembok kenyamanan pada hakikatnya juga dapat membunuh iman kita?

Oleh karena itu, sebagai orang percaya, kita harus berhati-hati terhadap situasi kemapanan dan kenyamanan yang tersedia bagi kita. Mengapa kita harus berhati-hati terhadap zona nyaman kita? Setidaknya ada dua alasan yang perlu kita perhatikan.

  1. Karena zona nyaman dalam hidup kita dapat membuat diri kita menjadi tinggi hati(Hosea 13:6a, Ulangan 8:14).

    Bagian Hoseapasal 13 menceritakan salah satu suku Israel yang terbesar yaitu suku Efraim, dalam suatu periode dimana bangsa Israel telah hidup makmur dan tenang. Mereka dipelihara oleh Tuhan dengan kasih setia-Nya menyediakan apa yang mereka butuhkan, sehingga mereka dapat hidup makmur dan tentram. Namun dari segala kelimpahan yang mereka dapatkan justru membuat mereka menjadi tinggi hati.
    Oleh karena itulah Hosea di panggil oleh Allah untuk memperingati bangsa tersebut. Melalui sebuah puisi ia berkata ayat 6a: “Ketika mereka makan rumput, maka mereka kenyang; setelah mereka kenyang, maka hati mereka meninggi.”Disini Hosea mengingatkan mereka bagaimana Allah memelihara Israel pada waktu yang sukar di padang gurun, dimana Allah menjaga mereka dengan memberikan manna, serta melindungi mereka selalu. Dan hal ini sangat memuaskan dengan memberikan rasa aman dan nyaman sehingga mereka merasa tidak ada masalah yang mengancam mereka. Situasi inilah yang membuat mereka menjadi tinggi hati. Jauh sebelum bangsa itu bisa hidup enak dan nyaman, Allah telah terlebih dahulu memperingati bangsa tersebut melalui Musa, sebelum mereka akan menduduki tanah Kanaan yang subur dan makmur. Dalam kitab Ulangan 8:14 Musa mengatakan: “Jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan.”
     
  2. Karena zona nyaman berpotensi membuat kita melupakan Tuhan (Hosea 13:6b, Ulangan 8:11).

    Salomo memiliki segala kesuksesan, hikmat, sertakenyamanan dalam perjalanan hidupnya, yang membuat ia lupa kepada Tuhan. Seperti yang kita ketahui pada akhirnya Salomo jatuh ke dalam penyembahan berhala karena kemegahan dan kesuksesannya. Ia lupa kepada Tuhan. Segala hikmat dan kemenangan-kemenangan yang telah diraih oleh Salomo memang adalah juga usahanya, tapi ia lupa bahwa sesungguhnya Tuhanlah Sumber segala hikmat, Tuhan Pelindungnya dan yang memberi kemenangan kepadannya.  Hal inilah yang terjadi pada bangsa Israel, dimana mereka hidup dalam kelimpahan dan kenyamanan. Bahkan dikatakan dalam ayat-ayat yang sebelumnya dalam Hosea pasal 13 mereka membuat patung-patung tuangan sesuai dengan keinginan mereka. Semua sejarah yang Tuhan kerjakan kepada nenek moyang mereka dipahami dengan salah kaprah.
    Semua kenyamanan yang ada membuat bangsa tersebut menjadi tinggi hati dan melupakan Tuhan dalam hidup mereka, yang mana segala hasil yang  telah Israel peroleh itu semua adalah karena kasih setia Tuhan dan karena janji yang telah Tuhan berikan terhadap nenek moyang mereka.Dalam Ulangan 8:11dikatakan “Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini.” Sebelum bangsa tersebut masuk dalam tanah perjanjian serta menikmati segala kemakmuran dan kenyamanan bebas dari perbudakan, Tuhan telah memberikan mereka pedoman, “berhati-hatilah supaya jangan engkau melupakan Tuhan Allahmu.” Tuhan memberikan lampu kuning tersebut agar mereka berhati-hati terhadap kemapanan dan kenyamanan yang akan mereka rasakan nanti, karena hal tersebut adalah merupakan salah satu faktor yang dapat membuat iman mereka menjadi mati sehingga mereka menjadi tinggi hati dan melupakan Tuhan.

***

Melalui bagian-bagian ini, Tuhan menghendaki kita berhati-hati terhadap kemapanan dan kenyamanan dalam hidup kita. Ditengah peradaban dunia yang berkembang dengan pesat dan membentuk pola kehidupan yang instan serta nyaman, Tuhan mengingatkan kita untuk terus rendah hati, mengakui segala keterbatasan kita serta tidak melupakan-Nya dalam seluruh aspek kehidupan kita.

Sah saja bagi kita untuk merasakan kenyamanan dan kemapanan hidup, namun berhati-hatilah terhadap semua itu. Janganlah sampai semua yang telah kita dapatkan itu membuat kita menjadi tinggi hati sehingga kita merasa semua itu karena usaha kita dan bahkan melupakan Tuhan yang ada di atas semuanya.  Tidak salah menikmati segala hasil jerih lelah kita, namun kita harus tetap mengingat bahwa Tuhanlah  yang telah menolong serta memampukan kita dengan kasih setia-Nya sehingga kita dapat menikmati segala hal itu. Biarlah segala yang kita peroleh itu tidak membuat kita menjadi tinggi hati dan melupakan Tuhan tetapi biarlah semuanya itu membuat kita melihat betapa baiknya Tuhan. Oleh karena oleh kasih-Nya,Ia melimpahkan semuanya itu kepada kita sehingga kita menjadi tunduk kepada-Nya.     [DAm]