365 renungan

Tidak melakukan tidak ada artinya

Lukas 10:25-37

Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”
- Lukas 10:37

Kisah perumpamaan ini sangat akrab di telinga orang Kristen karena berbicara soal kasih. Mari kita lihat kisah ini dari sisi sang penanya. Nama sang penanya tidak diketahui, tetapi ia adalah ahli Taurat. Dari kedudukannya, ia pasti punya ilmu agama di atas rata-rata orang lain. Seharusnya orang yang punya pengetahuan firman, hidupnya tidak jauh-jauh dari firman, pasti hidupnya pun sesuai firman. Tetapi, yah pasti ada tetapinya, hidup sang ahli Taurat ini tidak mencerminkan kedekatan dengan firman. Apa buktinya?

Pertama, niatannya sudah jelek saat mendatangi Tuhan Yesus. Ia datang bukan dengan niatan tulus untuk berdiskusi dengan Yesus, melainkan datang untuk mencobai. Di dalam firman, yang pasti diketahui orang ini, tidak pernah diajarkan untuk mencobai. Niatan jeleknya bermaksud untuk menjatuhkan, mencari kesalahan Yesus.

Kedua, pertanyaannya hanya mencerminkan keahliannya dalam menghafal tetapi tidak melakukan. Ia dengan tepat menjawab pertanyaan Yesus tentang inti hukum Taurat. Apakah ia tahu siapa sesamanya manusia? Kemungkinan besar ia tahu, karena ada tertulis kalimat: untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus (ay. 29). Sampai pada akhirnya, setelah pemaparan indah Yesus tentang orang Samaria, ahli Taurat ini pun enggan menyebutkan bahwa sesamanya manusia adalah orang Samaria. Padahal jawaban yang diucapkan akan lebih pendek kalau ia menjawab, “Sesamaku manusia termasuk orang Samaria itu.” Akibat kedegilan hatinya, Yesus menimpali di akhir percakapan, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” Lakukanlah firman, kasihi sesamamu, itu inti yang Yesus sampaikan.

Sungguh menyedihkan kalau kita bisa menjelaskan arti dari kasih di dalam Alkitab, kasih yang tanpa pamrih, kasih yang tak pandang ras, kasih yang tanpa mencari keuntungan diri, kasih yang rela berkorban, tetapi pada kenyataannya kita tetap pilih kasih. Kita mengkotak-kotakkan orang-orang yang layak dikasihi dan tidak layak dikasihi. Yang lebih parah lagi, ada orang yang lebih meyayangi hewan piaraannya ketimbang pegawai di rumahnya. Apa Anda tahu tentang kasih? Ngga usah banyak tanya, lakukan saja yah. Tuhan memberkati.

Refleksi Diri:

  • Siapakah yang selama ini Anda anggap sebagai sesama yang layak dikasihi?
  • Apakah Anda mau belajar untuk mengasihi orang yang dipandang tidak layak dikasihi?