Bagikan artikel ini :

Api yang Membara dalam Sanubari

Pendahuluan

Kita akan menyoroti suatu topik penting yang sangat mempengaruhi kualitashidup kita di dunia ini dan di dunia yangakan datang, yaknipassion (hasrat mendalam).Di dalam psikologi, kita mengenal model yang disebut Cognitive-AffectivePersonality System (CAPS) yang menjelaskan perilaku manusia sebagaiaktifitas kognitif dan afektif yang dimilikinya. Di dalam filsafat, kitajuga mengenal faham mekanisme yang menjelaskan perilaku manusia sebagaifenomena biologis, dan menyelidiki manusia dari aspek biofisika danbiokimia. Namun, dalam terang firman Allah kita mendapatkan kebenaran yanglebih komprehensif dan akurat. Kitab Amsal dengan jitu mengungkapkankebenaran ini, “Jagalah hati kita dengan segala kewaspadaan, karena darisitulah terpancar kehidupan” (Ams. 4:23). Sebagai makhluk ciptaaan Allah,manusia bukan saja sebongkah massa biologis dengan kapasitas kognitif danafektif saja, melainkan memiliki kapasitas volatif (kehendak bebas) yangmembuatnya menjadi manusia bermoral.

Di dalam Kejadian 4, dikisahkan peristiwa pembunuhan pertama oleh Kain yangpanas hati melihat Habel dan korban persembahannya yang diindahkan Allah,sedangkan dia dan korban persembahannya tidak. Menjelang detik-detikpembunuhan itu, Tuhan berfirman, “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jikaengkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu, ia sangatmenggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya” (Kej. 4:6-8). Tuhanmenginginkan Kain yang adalah makhluk bermoral untuk mengurungkanpassion jahatnya untuk membunuh adiknya, namun ditolaknya. Habel terbunuhdan Kain mendapat stigma sebagai pembunuh.

Banyak orang tidak sadar bahwa passion mereka di dunia ini akan samaseperti passion mereka di dunia yang akan datang. Mari kita simakpengajaran Tuhan Yesus dari perumpaman-Nya, “Passion si kaya dan Lazarus”(Luk. 16:19-31). Di dalam perumpamaan tentang orang Kaya dan Lazarus, TuhanYesus memberikan gambaran yang sangat jelas akan passion si kaya danLazarus si pengemis, dan akibat yang ditimbulkannya.

Dikisahkan si kaya hidup berpakaian jubah ungu dan kain halus, danbersukaria dalam kemewahan. Dia pasti adalah seorang yang cukup religius,karena mengenal sosok Abraham dengan baik, dan dia juga pasti terhisap didalam komunitas yang rajin beribadah di sinagoge setiap hari Sabbat, danjuga rajin mematuhi hukum-hukum Musa lainnya. Namun itu bukanlah hal yangterpenting dalam hidupnya, karena passion hidupnya adalah bergelimang didalam kemewahan, kehormatan, dan kesenangan dunia.

Sebaliknya, si pengemis, Lazarus, dengan badan yang penuh borok, berbaringdekat pintu si kaya, untuk mengharapkan remah-remah yang jatuh dari meja sikaya untuk mengisi kelaparannya. Sahabat Lazarus hanyalah anjing-anjingyang dengan setia datang untuk menjilati boroknya. Semua orang memandangLazarus dengan sebelah mata, dan dia pasti tidak terhisap di dalamkomunitas religius manapun. Akan tetapi, passion Lazarus kepada Allah,sangat murni. Allah sajalah kerinduan hatinya yang terdalam.

Pada suatu hari, si kaya dan Lazarus sama-sama meninggal dunia. Malaikatmembawa Lazarus ke pangkuan Abraham, sedangkan si kaya masuk di alam mautdan menderita sengsara. Dan sama persis seperti passion-nya di dalam dunia,si kaya di alam maut tetap saja merasa dirinya sebagai bos besar yang harusdilayani oleh orang bawahan seperti Lazarus. Dimohonkannya agar Abrahammenyuruh Lazarus melaksanakan beberapa pekerjaan untuknya, namun semuapermohonannya ditolak. Passion si kaya untuk diri dan kesenangan diri inimemang tidak akan tahan jika berada di surga, karena semua warga di surgahanya memiliki passion tunggal, utuh, dan murni untuk Allah saja, samaseperti apa yang dimiliki Lazarus.Passion di Taman Eden

Mari kita telusuri lebih jauh ke akar passion si kaya. Di Taman Eden, apipassion yang membara di dalam hati nenek moyang si kaya, Adam dan Hawa.Firman Allah memberitahu kita bahwa passion yang membara di sanubari Adamdan Hawa bukanlah sekedar ingin mencicipi buah pengetahuan yang baik danburuk yang elok rupanya. Bukan pula passion ingin memiliki kemampuanmelihat dengan lebih terang, melainkan ingin menjadi seperti Allah, dapatmenentukan sendiri apa yang baik dan yang buruk.

Maka ketika Hawa mengulurkan tangannya menggapai buah terlarang itu, iasudah melakukan apa yang di dalam istilah hukum disebut sebagai “willfulact” (tindakan pidana intensional), yang nekad untuk memberontak terhadapAllah yang menjadi penghalang untuk mencapai passion-nya itu. Sayangsekali, usaha kudeta mereka tidak membawa hasil. Allah setia pada janji-Nya, pada hari mereka memakan buah terlarang itu, mereka akan mati. Makamereka menjadi makhluk yang hidup dengan hubungan yang terputus denganAllah Sumber hidup (mati rohani).

Kini mereka tidak lagi memiliki passion untuk Allah, melainkanpassion untuk diri dan diri saja, hingga mereka muak dengan diri, karenayang mereka peroleh hanyalah kekosongan jiwa yang tidak dapat dipuaskanoleh diri. Kondisi ini berdampak bukan saja pada Adam dan Hawa, tapiseluruh keturunan mereka sama-sama terperangkap di dalam api passion yangsama. Siapakah yang dapat menolong manusia dari tragedi ini?

Passion di dalam Alkitab

Percaya atau tidak, seluruh Hukum Taurat Musa digantungkan pada satupassion yang tunggal, utuh, dan murni kepada Allah, yang disiratkan dalamshema (Ibrani: dengar), demikian bunyinya, “Dengarlah hai orang Israel:Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengansegenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu”(Ul. 6:4-5). Di sini ada dua kata yang sangat menarik, “Tuhan” (Yehovah)yang bersifat tunggal, dan “Allah” (Elohim) yang bersifat jamak. Setiapkali bangsa Israel mengikrarkan shema, mereka mengakui bahwa terlepas dariopini masyarakat sekitar yang politeistik, mereka percaya hanya ada satuAllah yang benar, yaitu Allah Yehovah yang Esa, yang unik di dalamkejamakannya. Dan kepada Tuhan Allah yang sedemikian inilah, akan merekadedikasikan seluruh passion mereka yang prima, baik siang ataupun malam.

Mungkin kita bertanya-tanya apakah tuntutan Allah yang sedemikian itumerefleksikan Allah yang berjiwa egois? Sama sekali tidak. Karena TuhanAllah Pencipta memang berbeda jenis dari segala ciptaan-Nya, dan harusditinggikan oleh ciptaan-Nya. Ketika Allah Pencipta ditinggikan, makaordo (keteraturan) di dalam tatanan semesta terjaga. Sebaliknya, ketikaordo ini dirusak, maka timbullah kekacauan di seluruh tatanan semesta,seperti dunia yang kita lihat sekarang.

Ketika kita masuk di dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus sekali lagimenggarisbawahi shema sebagai hukum yang pertama dan yang terutama (Mat.22: 37). Secara konkritnya, tidak boleh ada objek kasih lain yang bolehberkompetisi menyaingi Allah. Tuhan Yesus menandaskan, “Jikalau seorangdatang kepada-Kudan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, iatidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk. 14:26). Ketika kasih terhadap TuhanYesus mendapat prioritas utama, dan ordo tatanan semesta dijaga, maka kasihterhadap hal-hal lainnya akan menjadi beres. Sebaliknya, Allah akanmelaksanakan janji-Nya, “Orang yang mendua hati jangan mengira mereka akanmenerima sesuatu dari Tuhan” (Yak. 4:8-9).Passion Tuhan Yesus

Di antara anak manusia yang gagal memiliki passion yang murni kepada Allah,ada sesosok anak manusia yang berhasil melakukannya, Dialah Kristus Yesus.Makanan-Nya adalah melaksanakan kehendak Allah Bapa yang mengutus-Nya (Yoh.4:34).

Hal ini terlihat jelas dari insiden berikut ini. Pada suatu hari, ketikadilihat-Nya Bait Allah penuh dengan pedagang-pedagang kambing, domba,lembu, dan penukar-penukar uang, amarah-Nya meluap-luap, dan dibuat-Nyacambuk dari seutas tali dan diusir-Nyalah semua pedagang-pedagang daribisnis kotor para imam kepala, keluar dari Bait Allah, dan dibalikkan-Nyameja-meja penukar uang, sehingga uang berhamburan ke mana-mana. Diberikan-Nya peringatan keras, “Ambil semuanya dari sini, jangan kamu membuat rumahBapa-Ku menjadi tempat berjualan.” Maka teringatlah murid-murid-Nya akanFirman Tuhan, “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku” (Maz. 69:9).Tindakan Tuhan Yesus ini menuai rasa benci yang mendalam di kalangan parapemimpin Israel, tapi Dia lebih takut kepada Allah Pencipta semestaketimbang makhluk ciptaan perusak ordo semesta.

Penutup

Adalah terlalu naif bagi Gereja Kristen liberal untuk berpikir bahwajemaatnya mampu melaksanakan tuntutan kasih Allah yang sempurna hanyadengan daya persuasi. Pada realitanya, hal ini bukanlah opsi bagi merekayang masih terperangkap di dalam passion terhadap diri. Passion YesusKristus hanya dimiliki oleh mereka yang oleh kuasa Injil yang supernaturalmenjadi milik Kristus. Mereka tidak begitu tertarik membahas isu-isutentang etika moral, dan lebih tertarik memberitakan Injil dan kuasanyayang mengubahkan. Passion mereka yang berkobar-kobar bagi Injil, akan terusmembara sampai di dunia yang akan datang. Sudahkah kita memiliki hidup danpassion Kristus ini? (IT)