Pembinaan

Berkat Tuhan di dalam pergumulan

"Aduh pak, sekarang ini saya benar-benar lelah. Minggu ini pergumulan datang bertubi-tubi. Suami baru saja kena PHK, belum dapat kerja, eeh anak kecelakaan jatuh dari motor. Belum pulih dari lukanya karena kecelakaan, sekarang saya sakit dan harus rawat inap di rumah sakit. Semua tabungan yang mustinya untuk modal usaha kecil-kecilan, akhirnya harus ludes untuk kebutuhan keseharian, biaya pengobatan anak dan biaya perawatan saya di RS."

Ungkapan di atas adalah gambaran tentang pergumulan seorang ibu yang merasakan kelelahan karena masalah beruntun yang dia alami. Siapakah ibu ini? Jikalau kita membayangkan seseorang dengan kehidupan yang tidak bertanggungjawab, seseorang berkarakter buruk, cuek dan tidak peduli pada sesamanya, atau seseorang yang belum kenal Tuhan, maka bayangan kita salah. Ibu ini adalah seorang anak Tuhan yang setia melayani, punya kepedulian yang tinggi pada sesamanya, bertanggungjawab, dan terlibat dalam pelayanan.

Kondisi ini tentu dapat memperlihatkan kepada kita bahwa seorang Kristen adalah seorang yang tidak imun (kebal) terhadap pergumulan hidup. Berapa tahun kita sudah Kristen, apapun pelayanan yang kita kerjakan saat ini, seberapa besar kepedulian kita kepada sesama, dan seberapa besar kesungguhan kita kepada Tuhan, pergumulan hidup tetap bisa terjadi dalam kehidupan kita, bahkan untuk waktu yang tidak terduga. Ayub sendiri, seorang anak Tuhan yang dikenal saleh pernah menyatakan, "Bukankah manusia harus bergumul di bumi dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan." (7:1) Sebuah pernyataan yang keluar sebagai salah satu bagian dari keluhan Ayub ketika menghadapi pergumulan hidupnya.

Sebagai anak-anak Tuhan pun mengalami hal yang sama yang dialami orang yang tidak/belum kenal Tuhan. Tidak ada jaminan karena kita anak Tuhan, maka kita bebas dari kesulitan hidup. Lantas apakah yang membedakan kita dengan mereka dalam pergumulan hidup? Setidaknya ada dua hal perbedaan mendasar yang dapat kita perhatikan. Pertama, pergumulan hidup bagi orang percaya adalah kesempatan untuk semakin mengalami Tuhan secara nyata. Artinya melalui pergumulan hidup kita bisa mendapatkan berkat-berkat Tuhan. Apakah yang dimaksudkan dengan berkat-berkat Tuhan di sini? Kesembuhan, pertolongan dari seseorang yang tidak terduga yang digerakkan Tuhan, mengalami kasih Tuhan melalui perhatian saudara-saudara seiman, rekonsiliasi dengan seseorang, damai sejahtera yang kita rasakan meskipun pergumulan belum selesai, karakter yang diubahkan, atau pemaknaan yang semakin dalam akan keberadaan Allah yang semakin meneguhkan iman kita. Kita bisa melihat hal ini yang pada akhirnya muncul pada Ayub yang nampak dari pengakuannya dalam merespons pergumulan yang ada. "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau." Kata "sekarang" merujuk pada kondisi waktu di mana Ayub masih sedang menjalani pergumulan artinya pergumulannya belum selesai. Tapi justru dalam kondisi ini, Ayub mengalami Tuhan secara nyata yaitu pengenalan akan Allah yang semakin dalam.

Kedua, pergumulan hidup bagi orang percaya adalah kesempatan untuk semakin memuliakan Allah. Setelah melalui pergumulan hidup ini, Ayub dipulihkan oleh Tuhan secara luar biasa. Pengalaman hidup Ayub ini telah menjadi kisah yang menginspirasi selama ribuan tahun termasuk bagi kita saat ini. Melalui kisah Ayub kita melihat Allah yang mengasihi umat-Nya dan tidak membiarkan mereka sendirian, walaupun menghadapi pergumulan. Melalui kisah ini kita juga melihat kedaulatan Allah atas hidup manusia dan bagaimana kemahakuasaan-Nya dinyatakan kepada orang-orang yang mengandalkan Tuhan. Pada akhirnya kita pun memuliakan nama Tuhan melalui kisah hidup Ayub. Bagaimana di zaman sekarang?

Seorang ibu pernah divonis menderita kanker dan sudah pada stadium yang membahayakan. Ibu ini pada akhirnya tidak mampu melewati penyakitnya dan telah Tuhan panggil. Yang membuat istimewa adalah selama menderita sakit, ia menceritakan bagaimana Tuhan telah menjadi sumber kekuatannya untuk bertahan, bagaimana Tuhan memberikan pengharapan sehingga dia tidak takut dengan kematian, bagaimana Tuhan menunjukkan kasih kepadanya melalui saudara-saudara seiman yang memperhatikan dengan ketulusan. Ini menjadi pesan yang dia sampaikan dalam setiap kesempatan yang diberikan kepadanya untuk memberikan kesaksian. Pada akhirnya, siapakah yang dimuliakan? Tentu saja Tuhan. Jika demikian apakah Tuhan begitu kejam memanfaatkan kita yang mengalami kesusahan karena pergumulan? Tentu saja tidak. Kita didesain sedari awal untuk hidup memuliakan Allah. Ketika kita menjalani kehidupan sesuai dengan desain awal ini di sinilah kita menemukan kebahagiaan sejati. Dan luarbiasanya adalah Tuhan sangat baik karena menolong kita untuk melihat pergumulan (yang diakibatkan dunia yang telah jatuh dalam dosa) secara positif, sehingga kita mendapatkan kesempatan untuk memuliakan Allah (menjalani hidup sesuai desain awal). Di sinilah pada akhirnya kita bermegah dan dapat berkata, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku." Amin. (TA)