Pembinaan

Hidup bersama yang tidak sempurna

Manusia adalah makhluk sosial, demikianlah kita diajarkan dan demikian juga yang kita rasakan. Sebagai makhluk sosial, kita relasi dengan manusia lain. Kalau kita normal, kita tidak akan nyaman hidup sendirian terus menerus. Sifat sosial manusia berlaku bagi siapapun, termasuk bagi orang percaya. Namun bagi orang percaya, kita bukan hanya memiliki sifat sosial sebagai manusia biasa, tetapi juga dari natur kita yang baru. Pada waktu kita menerima Yesus sebagai juruselamat pribadi, maka kita diangkat menjadi anak-Nya, dimeteraikan dengan Roh Kudus dan disatukan menjadi satu Tubuh Kristus. Kita menjadi bagian dari sebuah komunitas yang melampaui struktur dan ikatan apapun dari dunia ini, yakni komunitas gereja yang kudus dan am.

Keberadaan Roh yang sama dalam diri orang percaya akan membawa orang percaya untuk selalu rindu berada bersama-sama dalam komunitas. Inilah yang bisa kita lihat dari diri Rasul Paulus yang merindukan kehadiran Timotius bersamanya di penjara di hari-hari akhir hidupnya (2Tim. 1:4), yang juga siang dan malam rindu dapat bertemu dengan jemaat di Tesalonika (1Tes. 2:10). Rasul Yohanes juga sadar bahwa sukacitanya akan lengkap ketika dia bisa bertemu dengan jemaat yang dikasihinya (2Yoh. 12). Jadi para murid menunjukkan betapa besarnya sukacita ketika bisa berjumpa dengan orang percaya lainnya.

Bisa hadir di tengah komunitas orang percaya sebenarnya juga merupakan anugerah sebab memang tidak selalu ada kesempatan demikian bahkan seandainyapun kita mau untuk bersama orang percaya lainnya. Ada yang harus tergeletak sendirian karena penyakit, sebagian lagi harus mendekam di penjara atau mungkin ada di ladang misi yang jauh dari orang percaya lainnya. Bukan hanya pada keadaan-keadaan tertentu seperti itu saja yang membuat kita jauh dari orang percaya lainnya. Kehidupan kita sehari-hari pun bisa jadi jauh dari orang percaya lainnya sebab kita memang dipanggil untuk hidup di tengah dunia yang tidak bersahabat dengan kekristenan.

Kehadiran dalam komunitas orang percaya seharusnya bisa menjadi pengalaman rohani yang indah. Kadar pengalamannya tentu bervariasi tergantung apakah kita hadir secara fisik atau melalui doa atau email/media sosial. Pengalaman rohani seharusnya lebih indah ketika memiliki keluarga yang percaya atau bisa berjumpa secara rutin dalam ibadah gerejawi setiap minggu. Seperti apapun Tuhan memberikan pengalaman rohani itu, setiap kehadiran di komunitas seharusnya mengingatkan bahwa mereka adalah orang-orang yang akan terus bersama-sama dengan kita dalam kekekalan. Sukacita dan rasa syukur karena dapat berada di tengah saudara seiman merupakan cicipan dari sukacita sempurna ketika di kekekalan kita selalu ada bersama mereka. Kesadaran akan hal ini seharusnya membawa orang percaya tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah atau perjumpaan dengan orang percaya lainnya.

Kisah Para Rasul 2:41-47 memberikan gambaran ideal seperti apa kehidupan dalam komunitas orang percaya. Mereka adalah orang-orang yang bersatu setelah bertobat dan dibaptis sebagai hasil dari khotbah Petrus di hari Pentakosta. Mereka tampak demikian sempurna: bertekun dalam pengajaran para rasul, dalam persekutuan, dalam perjamuan kudus, dalam menunjukkan kemurahan, dalam kuasa melakukan mukjizat maupun dalam menjangkau jiwa-jiwa baru. Kesadaran bahwa mereka adalah orang-orang yang disatukan secara unik melalui darah Kristus dan bahwa mereka adalah komunitas minoritas di tengah orang-orang Yahudi yang tidak suka kepada mereka lebih mendorong kesatuan hati jemaat awal ini. Waktu membaca ini, kita merasakan betapa indahnya jika komunitas orang percaya bisa selalu hidup sebagaimana pada waktu itu. Sayang dalam kenyataannya di gereja mula-mula sekalipun kehidupan dalam komunitas tidak selalu seindah seperti itu. Dalam waktu beberapa belas tahun setelah diperlihatkan keindahan hidup jemaat mula-mula, Rasul Paulus memberikan teguran yang keras kepada jemaat di Korintus karena mereka saling bertengkar dan terpecah belah dalam berbagai hal. Perselisihan di dalam komunitas orang percaya juga dapat kita baca di dalam sejumlah surat lainnya di Perjanjian Baru dan sepanjang perkembangan gereja di abad-abad selanjutnya. Di dalam hidup kekinian kita juga dapat melihat banyak perselisihan di tengah komunitas orang percaya, entah di komunitas kecil semacam kelompok sel, gereja lokal, sampai antar gereja yang lebih luas. Gambaran tentang komunitas ideal sebagaimana yang ada di jemaat mula-mula terlalu sering menjadi mimpi yang sulit terwujud di masa kini. Mengapa bisa demikian ?Tentu ada banyak penyebab yang mungkin: keengganan kita untuk disakiti orang lain, ada perasaan tidak layak dalam sebuah komunitas entah secara iman atau status sosial, pengalaman buruk masa lalu ketika berelasi dengan orang percaya lain dan sebagainya. Hal-hal di atas mungkin dilatarbelakangi karena kita punya keinginan dan idealisme sendiri tentang seperti apa seharusnya komunitas orang percaya. Ketika kita masuk ke sebuah komunitas, kita membawa bayangan itu dan kecewa karena ternyata tidak sesuai harapan kita sehingga kita menarik diri atau memaksakan agar orang-orang di komunitas itu sesuai dengan apa yang kita harapkan. Hal ini pada akhirnya menghancurkan komunitas tersebut. Kita lupa bahwa komunitas orang percaya pada dasarnya dibentuk bukan oleh kita tetapi oleh Allah. Dia memanggil orang berdosa yang masih terus bergumul dengan berbagai dosa, kelemahan dan ketidaksempurnaan untuk bersama-sama mengalami kasih karunia, pengampunan, janji pengharapan dari Allah. Ketika kita memaksakan sebuah komunitas untuk hidup sebagaimana yang kita inginkan, kita bisa jatuh ke dalam kesombongan seolah-olah Allah tidak mampu memakai komunitas yang tidak sempurna untuk memuliakan Dia dan membawa anggotanya semakin menyerupai Kristus.

Karena itu, sekalipun kita harus hidup bersama dengan orang percaya lain yang tidak sempurna, kita diingatkan untuk selalu bersyukur boleh bersama-sama menikmati kasih karunia Allah untuk bertumbuh, memproklamasikan diri sebagai orang-orang yang dilayakkan untuk mendapat keselamatan dan terus menerus dilayakkan melalui pengampunan dan anugerah-Nya. Kita perlu memindahkan fokus dari diri kita, kelemahan orang lain dan bayangan 'ideal' komunitas yang tidak nyata kepada Kristus yang hadir dalam komunitas, karya penebusan-Nya, serta pengudusan yang terus dilakukan melalui Roh Kudus bagi setiap orang percaya. Ketika kita mampu melihat komunitas kita dengan perspektif ini maka kehidupan bersama dalam komunitas akan membawa sukacita, pengharapan dan berkat bagi kita, bahkan menjadi kesaksian bagi dunia.

(Catatan: didasarkan atas bab pertama dari buku Life Together oleh Dietrich Bonhoeffer)