Pembinaan

Motivasi memberikan persembahan

Bicara soal persembahan, biasanya dikaitkan dengan persembahan yang dijalankan setiap minggunya dalam ibadah. Tetapi sebenarnya pembahasan tentang persembahan itu cukup luas dan banyak aspek di dalamnya. Persembahan itu tidak bisa dilepaskan dengan motivasi, suatu bagian yang sulit untuk dinilai karena asalnya dari dalam hati, hanya si pemberi dan Tuhan saja yang tahu. Sebuah tulisan dari Steven J. Cole (Giving God's Way – Bible.org), memaparkan seseorang perlu memeriksa motivasinya dalam memberikan persembahan, apakah motivasinya benar atau salah. Beberapa motivasi salah yang harus dihindari dalam memberikan persembahan:

  1. Penghargaan
    Seseorang dapat memberikan persembahan agar mendapat pengakuan dan penghargaan yang lebih dari orang lain.Dimulai dengan keinginan dari dalam hati agar persembahannya dapat diketahui oleh orang banyak, dengan harapan pujian mengalir kepadanya. Padahal Tuhan Yesus mengajarkan seharusnya ketika seseorang memberi suatu persembahan, janganlah menuntut pengakuan dari orang banyak, karena Tuhan sudah mengetahuinya (Mat.6:1-4)
  2. Perasaan bersalah
    Motivasi ini lahir saat seseorang sadar bahwa penghasilannya didapatkan dengan cara yang tidak benar lalu berusaha menebusnya dengan memberikan persembahan yang banyak. Persembahan itu lahir bukan dari hati yang bersyukur tetapi hati yang penuh ketakutan akan hukuman. Jika seseorang sadar akan kesalahannya karena tidak menjadi penatalayan yang baik dalam keuangan, dia harus bertobat terlebih dahulu, membereskan di hadapan Tuhan.
  3. Tekanan
    Persembahan dengan motivasi yang salah jika persembahan itu diberikan karena ada dibawah tekanan atau "ancaman-ancaman rohani", bahwa jika tidak memberikan persembahan hidupnya tidak akan diberkati, ada penghukuman yang menanti, dsb. Hal seperti ini sudah Paulus ingatkan kepada jemaat di Korintus "Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita" (2Kor.9:7)
  4. Keserakahan
    Motivasi salah lainnya adalah memandang persembahan itu sebagai transaksi dengan Tuhan, supaya mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Waspadai motivasi yang seperti memancing Tuhan, memberikan jumlah sekian dengan harapan mendapatkan balasan beberapa kali lipat.
  5. Kekuasaan
    Ini salah satu motivasi yang cukup berbahaya, uang tidak dapat membeli pengaruh spiritual (Kis.8:18-24). Dunia mengajarkan siapa yang kuat dia yang berkuasa, siapa yang memiliki uang dia yang mempunyai kuasa. Persembahan yang tidak berkenan dan tidak dibenarkan, adalah yang diberikan dengan motivasi untuk mendapatkan kekuasaan atau kedudukan yang terhormat.

Periksalah dengan sungguh dan terbuka semua motivasi kita sebelum memberikan persembahan. Motivasi yang benar yang harus dimiliki orang yang percaya dalam memberikan persembahan adalah:

  1. Pengakuan Kedaulatan Allah
    Motivasi seseorang dalam memberikan persembahan tidak bisa dilepaskan dari pengakuannya dari mana berkat itu diterima. Seseorang yang melihat semua yang dimilikinya adalah berkat Tuhan mempengaruhi bagaimana dia memberikan persembahan itu. Orang seperti ini akan memberikan dengan penuh sukacita, karena menyadari semua yang didapatkan dan dimilikinya karena Tuhan saja. Berbeda dengan orang yang memandang semua yang dimilikinya adalah sepenuhnya hasil kerja kerasnya tanpa adanya campur tangan Tuhan. Persembahan dipandang bukan sesuatu yang perlu, melainkan tuntutan yang menyusahkan. Saat memandang segala yang kita miliki dari Tuhan, baik kesehatan untuk bekerja, otak untuk berpikir, dsb, maka persembahan diberikan dengan sukacita. Memberi persembahan kepada Tuhan itu bukan hanya sebagai bentuk pengakuan penyertaan Tuhan di masa lampau, tetapi juga menandakan iman akan pemeliharaan Tuhan di hari depan yang kita tidak ketahui.
  2. Memuliakan Tuhan
    Persembahan itu ungkapan dari rasa syukur kita karena berkat dan pemeliharaan-Nya. Ketika mengucap syukur maka tidak mengharapkan timbal balik dari Tuhan. Persembahan yang memuliakan Tuhan itu dipandang dari 2 sisi.
    Pertama adalah hati yang tulus. Di dalam Perjanjian Lama kita bisa melihat hal yang menarik orang Israel pernah dengan keras ditolak Tuhan persembahannya. "Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan…jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku…" (Yes.1:10-20). Secara kasat mata persembahannya sangat luar biasa, mereka memberikan korban-korban nomor satu. Tetapi Tuhan itu menilai hati, persembahan semahal apa pun tanpa motivasi yang murni di hadapan Tuhan, maka persembahan itu tidak ada nilainya. Persembahan yang nilainya fantastis tidak dijamin diterima Tuhan, tetapi persembahan yang begitu sederhana tapi dari hati yang tulus pasti diterima Tuhan.
    Kedua, persembahan sesuai dengan kemampuan yang dipercaya Tuhan. Pada ekstrim lain, ada pandangan bahwa persembahan yang penting hatinya bukan jumlahnya. Persembahan dari hati itu selalu berkaitan dengan keseriusan memberikan persembahan terbaik. Apa itu terbaik? Tuhan dengan keras menegur orang Israelkarena asal-asalan memberikan persembahan "Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, bukankah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman Tuhan semesta alam..Aku tidak berkenan menerima persembahan dari tanganmu." (Mal.1:8, 10) Tuhan tahu kemampuan setiap orang dalam memberi, Tuhan tidak meminta apa yang tidak ada pada kita (2Kor.8:12). Persembahan terbaik adalah memberikan yang terbaik sesuai dengan kapasitas yang sudah Tuhan berikan. Motivasi memberikan persembahan untuk memuliakan Tuhan adalah perpaduan dari hati yang tulus dan persembahan yang terbaik. [RR]