Pembinaan

Penghiburan sejati

Ada sebuah kota kecil. Sekilas keadaan terlihat damai dan menyenangkan. Tetapi begitu kita tahu mengenai orang-orang yang hidup di sana, kita akan segera menemukan masalah serius dalam setiap rumah tangga. Ada seorang janda muda yang dirundung duka karena suaminya terbunuh. Rumah disebelahnya, sepasang ayah dan ibu yang tertekan karena bayi mungil mereka terlahir dengan abnormalitas yang serius. Rumah tangga yang lain tercerai-berai karena perselisihan antara suami dan istri. Ada lagi rumah tangga yang terguncang hebat karena anak-anak remaja mereka yang memberontak. Realita ini menggambarkan sebagian kecil kondisi manusia yang tragis. Belum lagi kalau kita pikirkan tentang jutaan orang yang terbunuh di dalam perang, tentang semua orang yang dianiaya, tetang semua penderitaan yang ditanggung karena penyakit, semua kejahatan dan sengsara yang diakibatkannya, tentang sengsara menghabiskan semur hidup di dalam penjara.Itu sebab, kita sangat membutuhkan penghiburan.

Katekismus Heidelberg memulai pengajaran iman kristiani tentang penghiburan.
Pertanyaan 1: "Apakah satu-satunya penghiburan Saudara, baik pada masa hidup maupun pada waktu mati?"
Jawaban: "Bahwa aku, dengan tubuh dan jiwaku, baik pada masa hidup maupun pada waktu mati, bukan milikku, melainkan milik Yesus Kristus, Juruselamatku yang setia. Dengan darah-Nya yang tak ternilai harganya Dia telah melunasi seluruh utang dosaku dan melepaskan aku dari segala kuasa iblis. Dia juga memelihara aku, sehingga tidak sehelai rambut pun jatuh dari kepalaku di luar kehendak Bapa yang ada di surga, bahkan segala sesuatu harus berguna untuk keselamatanku. Karena itu juga, oleh Roh-Nya yang kudus, Dia memberiku kepastian mengenai hidup yang kekal, dan menjadikan aku sungguh-sungguh rela dan siap untuk mengabdi kepada-Nya." Satu-satunya penghiburan kita adalah bahwa kita milik Tuhan Yesus Kristus. Ini adalah hati iman kita yang membuat kita hidup.

Pertanyaan 2: "Berapa banyak hal yang perlu Saudara ketahui, supaya dengan penghiburan ini Saudara hidup dan mati dengan sukacita?"
Jawaban: "Tiga. Pertama, betapa besar dosa dan sengsaraku. Kedua, bagaimana aku mendapat kelepasan dari semua dosa dan sengsaraku. Ketiga, bagaimana aku harus bersyukur kepada Allah atas kelepasan yang demikian itu." Artinya,

  • Kita harus belajar untuk mengaku bahwa kita adalah manusia yang sudah berdosa. Secara rendah hati menginsafi bahwa kita sudah bersalah kepada Allah karena kita coba pegang kendali atas diri sendiri; yang pada dasarnya kita bukan milik kita sendiri, tetapi milik iblis. Menyadari situasi ini maka kita ingin sekali dilepaskan dari tangan iblis.
  • Kelepasan itu diberikan jikalau kita percaya kepada Yesus Kristus. Dengan mengorbankan hidup-Nya, Ia telah membayar untuk menebus kita. Setelah itu, kita boleh mempercayakan diri sepenuhnya kepada Dia sebagai Tuan yang baru dan yang baik. Kini kita milik-Nya (penebusan oleh Yesus Kristus tidak berarti bahwa kita dibebaskan dari segala bentuk penderitaan, tetapi ditengah-tengah kehancuran hidup, kita menerima sokongan dan penghiburan). Oleh karena karya Yesus Kristus ini kita memperoleh kehidupan kekal.
  • Hidup berpenghiburan juga berarti bahwa saya siap melatih diri untuk hidup dengan bersyukur. Pengetahuan bahwa kita dibebaskan oleh Yesus Kristus membangkitkan dalam diri kita sebuah kerinduan untuk berterima kasih. Ini akan nampak dalam kehidupan kita yang baru yang tidak lagi diarahkan kepada diri sendiri tetapi kepada Allah, juga hidup bagi sesama. Roh Kudus mempersiapkan dan menolong kita.

Tiga hal di atas, seperti tiga sisi sebuah segitiga. Bersama-sama tiga sisi ini secara tak terpisahkan membentuk tiga sisi kehidupan iman kita. Yesus Kristus adalah pribadi yang sentral dalam iman kita. Relasi dengan Kristus ini selalu melatih kita untuk mengenal diri sendiri sebagai orang berdosa, dan mengenal Yesus sebagai Penebusku, dan mengenal tujuan kehidupanku yaitu pengucapan syukur kepada Allah. (AA).

Sumber: Zakharias Ursinus dan Caspar Olevianus, Katekismus Heidelberg: Pengajaran Agama Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016). Wim Verboom, Kidung Cinta dari Heidelberg (Surabaya: Literatur Perkantas, 2016). G. I. Williamson, Katekismus Heidelberg (Surabaya: Momentum, 2017)