Bagikan artikel ini :

Mengenal Tuhan Secara Pribadi (Knowing God in Person)

Ayub 39:34-38; 41:1-10

BAHAN CARE GROUP

Siapa yang tidak tahu ttg kisah tenggelamnya kapal Titanic pada tahun 1912? Kisah epic ini pun pernah di film kan di tahun 1997, disutradari oleh James Cameron dengan pemeran utama Leonardo Dicaprio (Jake) dan Kate Winslet (Rose). Kapal Titanic adalah salah satu kapal termewah dan terbesar kala itu sebagai hasil mahakarya dari arsitek yang terkenal Thomas Andrews. Namun, sikap arogansi Thomas begitu tercermin tatkala dia menyampaikan kepada reporter bahwa ”keamanan kapal yang dibuatnya sangat aman bahkan Tuhan sekalipun tidak mampu menenggelamkannya”. Apa faktanya? Yang terjadi adalah sebaliknya, tepatnya tanggal 14 April 1912, kapal Titanic yang baru berlayar empat hari, akhirnya diijinkan tangan Tuhan untuk tenggelam di samudera Allatik dan menewaskan banyak korban jiwa sebanyak 1517 orang, termasuk Thomas Andrews yang ada di dalamnya.

Bertolak belakang dengan apa yang dicatat oleh Alkitab tentang tokoh Ayub. Seorang tokoh yang tetap mengingat keberadaan Tuhan, baik pada saat berada di ”puncak” kejayaan sebagai orang ”yang terkaya dari semua orang di sebelah timur” (Ayub 1:3b) maupun pada saat berada di ”lembah” ujian kehidupan sebagai orang ”yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya” (Ayub 1:7). Walaupun, kita tahu, Ayub juga adalah manusia biasa, yang tidak mudah menjalani semua ujian hidup nya, tapi kita bersyukur pada akhirnya Ayub justru semakin mengenal akan siapa Tuhan secara pribadi (knowing God in person).

EKSPLORASI FIRMAN

Mari kita mempelajari lebih lanjut melalui perikop FT hari ini, dalam hal apa Ayub semakin mengenal Tuhan secara pribadi (knowing God in person). Diskusikanlah, siapakah Allah bagi Anda, lalu siapakah Anda di hadapanNya?

  1. Allah adalah Yang Maha Kuasa, sementara kita adalah debu adanya.
    Tatkala Ayub diperhadapkan pada Allah ”Yang Mahakuasa” (Ayub 39: 35a), maka sikap Ayub adalah merendahkan dirinya dan menyadari bahwa dia hanya debu adanya. Ayub berkata, ”Sesungguhnya, aku ini terlalu hina; jawab apakah yang dapat kuberikan kepadaMu? Mulutku kututup dengan tangan” (Ayub 39:37). Ayub diam seribu bahasa. Pengenalannya akan siapa Tuhan menuntunnya pada pengenalannya akan siapa dirinya. Sikap merendahkan diri pun terjadi. Ayub menjadi tahu diri.
    Demikian pula dengan keberadaan kita sebagai anak-anakNya. Tatkala Tuhan mengijinkan kita mengalami penderitaan, seringkali kita mengugat Tuhan dan mempertanyakan ketidakadilannya sebagai Allah, Sang Pencipta, Pribadi Yang Mahakuasa. Seringkali kita seperti Ayub yang bisa lupa akan siapa kita yang kecil dan terlalu hina untuk mempertanyakan keputusan-keputusanNya atas hidup kita. Sementara dari sisi Allah, Dia cukup menyadarkan Ayub akan siapa Allah dan siapa dirinya dengan satu pertanyaan ini: ”Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian!” (Ayub 38:4).
  2. Allah dalam rencanaNya tidak pernah gagal, sementara kita yang seringkali gagal mengenapi rencanaNya.
    Tuhan tidak pernah gagal dalam rencanaNya sebab Dia adalah Allah yang berdaulat atas segala sesuatu. Apapun yang terjadi di bawah kolong langit ini adalah atas seijinNya, termasuk saat si Iblis hendak mencobai Ayub dan menguji kesalehan imannya. ”Maka firman
    Tuhan kepada Iblis: ”Nah, ia dalam kuasamu, hanya sayangkan nyawanya” (Ayub 2:6). Tuhan tidak pernah merancangkan sesuatu yang jahat atas hidup Ayub, hambaNya yang setia itu. Justru sebaliknya, Tuhan hendak membuktikan kemurnian iman Ayub dan mengijikan penderitaan dari si Iblis sebagai ”kendaraan” supaya Ayub semakin mengenal Allah secara pribadi (knowing God in person) dimana pada akhirnya Ayub pun bisa mengatakan: ”Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (Ayub 42:5). Itu adalah berkat terindah yang diterima oleh Ayub, disamping pada akhirnya ”Tuhan memulihkan keadaan Ayub...dan Tuhan memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaaanya dahulu” (Ayub 42:10).
    Jadi berkat bukan semata-mata sekedar kekayaan materi/kemewahan yang berlimpah, tapi berkat dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu apapun/siapapun yang melaluinya, kita dapat dibawa pada pengenalan akan Allah yang lebih pribadi (knowing God in person), itulah berkat yang paling ultimat. Oleh karena itu, segala cobaan hidup (misalnya, kegagalan studi/karir, sakit penyakit kronis, pengalaman kebangkrutan, dll) dimana melaluinya akan membawa kita lebih dekat pada Tuhan dan rencanaNya atas hidup kita, maka itu sesungguhnya berkat sejati yang patut diterima sebagai pengalaman iman yang otentik.
  3. Allah mengasihi kita, walau murka, sementara kita memaki Allah, tatkala susah.

Dalam Ayub 42:7-8, Allah menyatakan murkaNya kepada Elifas dan kedua temannya, Bildad dan Zofar, yang tidak berkata benar tentang Allah. Untuk menerima pengampuan Ilahi, mereka perlu mempersembahkan korban dan memohon kepada Ayub untuk meminta doa bagi mereka. ”Lalu, mereka melakukan seperti apa yang difirmankan Tuhan kepada mereka. Dan Tuhan menerima permintaan Ayub” (Ayub 42:9)

Seringkali saat kita susah, gambaran kita tentang siapa Allah menjadi kabur dan tidak jarang kita malah menyalahkan Tuhan atas keadaan yang terjadi. Namun, Allah bertindak sebaliknya. Walaupun Dia murka atas pelanggaran kita, namun dibalik murkaNya selalu tersedia pintu pengampunan bagi mereka yang datang memohon kepadaNya dengan kesungguhan. Itulah kasih kemurahan Allah yang lebar, panjang, tinggi dan dalam atas hidup manusia yang berdosa. Daripada makian yang keluar dari mulut kita, marilah kita naikan syukur atas apapun yang terjadi atas hidup kita. Dia tidak akan memberikan pencobaan yang melampaui kekuatan kita (I Korintus 10:13) dan segala yang terjadi pasti akan mendatang kebaikan (Roma 8:28). [CK]

APLIKASI KEHIDUPAN

Pendalaman

Bagaimana penderitaan dapat membawa orang percaya ke dalam pengenalan akan Allah secara lebih pribadi?

Penerapan

Sikap seperti apa yang seharusnya Anda lakukan di kala menghadapi persoalan sebagaimana yang dikehendaki Allah?

SALING MENDOAKAN

Akhirilah Care Group Anda dengan saling mendoakan satu dengan yang lain.