Pembinaan

Berkarya bagi bangsa

Sebuah pergumulan bagi kita sebagai orang-orang Kristen ketika kita diperhadapkan kepada pertanyaan: Apakah Anda mau berkarya bagi bangsa? Apakah kira-kira yang terlintas dalam pikiran kita? Mungkin kita akan langsung berpikir bahwa berkarya bagi bangsa itu harus duduk di pemerintahan, menjadi pegawai negeri atau anggota TNI Polri. Mereka yang sudah duduk sebagai pegawai negeri dianggap sebagai warga negara yang sudah mengabdi dan berkarya bagi bangsa ini. Sehingga tanpa kita sadari, sosok seperti Ahok menjadi figur orang yang sudah berkarya dari kalangan Kristen. Pertanyaan adalah apakah berkarya bagi bangsa hanya dalam peranan tersebut di atas? Apakah berkarya hanya sebatas itu saja? Tentu tidak. Berkarya bagi bangsa artinya kita dapat mengambil bagian untuk memajukan atau memberikan sumbangsih terhadap kesejahteraan masyarakat di mana kita tinggal. Seperti yang disampaikan oleh Nabi Yeremia kepada para tua-tua, imam-imam, nabi-nabi dan kepada seluruh rakyat Israel yang telah diangkut ke dalam pembuangan di negeri Babel, mereka diminta "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu" (Yer. 29:7). Karena itu, kita pun harus turut ambil bagian di dalam kesejahteraan kota di mana kita tinggal, di negara di mana kita lahir, besar, dan bekerja serta menikmati semua sumber daya alam dan fasilitas yang ada di negara ini. Walaupun negara kita bukanlah negara yang sempurna, tetapi kita dapat berkarya di tengah bangsa sebagai "garam dan terang dunia" untuk membawa kemuliaan bagi nama Tuhan.

Menurut David G. Burnett, dalam bukunya "The Healing of the Nations," sebagai orang Kristen, kita dapat mengambil peranan bagi bangsa dalam tiga hal yaitu:

Pertama, berdoa bagi pemerintah.

Dalam 1 Timotius 2:1-2 Paulus berkata "Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan." Paulus menyadari bahwa pemerintah memegang peranan sangat penting di dalam membawa kesejahteraan bagi rakyat. Kita diminta berdoa bagi pemerintah. Ketika pemerintah dapat melaksanakan tanggung jawab dengan baik, maka pemerintah dapat membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Tetapi jika pemerintah tidak menjalankan tanggung jawabnya dengan baik, maka rakyat akan sengsara, miskin dan tidak memiliki masa depan. Akhirnya, rakyat akan marah dan negara dapat mengalami chaos. Calvin sendiri menyatakan "Ia telah menetapkan kekuasaan atas pemerintahan dunia yang sah dan adil….hak pemerintahan ditetapkan oleh Allah untuk kesejahteraan umat manusia" (David W. Hall, Calvin di Ranah Publik, 90). Bahkan bagi Calvin, melayani dalam pemerintahan sipil dapat menjadi panggilan yang sakral dan paling terhormat dari semua panggilan dalam seluruh kehidupan manusia yang fana. Karena itu, kita harus berdoa supaya pemerintah dapat melaksanakan tanggung jawabnya dan bukan hanya demi kepentingan partai, kelompok atau dirinya sendiri tetapi untuk kepentingan rakyat. 

Kedua, taat kepada pemerintah.

Tentu tidak mudah untuk taat kepada pemerintah terutama dalam konteks di negara Indonesia. Karena pemerintah sudah dianggap sebagai bagian dari budaya korupsi. Apalagi di Indonesia, walaupun ada upaya untuk menegakkan keadilan dan menumpas korupsi, tetapi kita mengetahui bersama bahwa hampir semua ketua lembaga tinggi negara masuk bui karena tertangkap korupsi oleh KPK. Walaupun demikian, Paulus meminta kepada jemaat Tuhan untuk tetap taat kepada pemerintah kita. Karena menurut Paulus, semua pemerintah yang ada adalah karena kedaulatan Allah sendiri. Allah sanggup menaikkan dan menurunkan pemerintah/penguasa menurut kebijakanNya. Selain itu, pemerintah

adalah wakil Allah di dalam dunia. Karena itu, Paulus meminta orang Kristen taat kepada pemerintah seperti yang dinyatakan dalam Roma 13:1. Kata "takluk" di sini artinya kita harus mau taat dan tunduk di bawah aturan atau hukum yang ditetapkan oleh negara.

Sebagai konsekuensi ketaatan kita atau tanggung jawab kita sebagai warga negara, maka kita harus membayar pajak. Pajak merupakan gambaran bahwa kita pun turut membangun bangsa Indonesia. Sebagai orang Kristen kita harus taat kepada pemerintah sebagai wakil Tuhan dan mau ambil bagian di dalam mensejahterakan negara ini melalui pajak yang kita bayarkan.

Ketiga, berani memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Sebagai orang Kristen, kita tidak boleh membiarkan segala penyimpangan dan ketidakadilan terjadi di negara kita. Kita harus memperjuangkan keadilan dan kebenaran nyata di negara kita ini. Dengan demikian, kita dapat menjadi garam dan terang di dalam dunia ini (Mat. 5:15). Dalam hal ini, Burnett berkata: "The Church cannot and must not be silent in the face of injustice and oppression" (The Healing of the Nations, 213). Justru sebagai orang Kristen, kita harus menunjukkan identitas sebagai murid Kristus yang sejati, yang hidup takut akan Tuhan sehingga dapat menjadi teladan dan berkat bagi sesama. Dengan kehidupan yang kita yang telah diubahkan, kita pun dapat menunjukkan hidup yang berbeda seturut firman Tuhan sehingga kita berharap, kita dapat membawa transformasi ke dalam lingkungan masyarakat di mana kita tinggal. Kita harus berkarya bagi bangsa kita. Burnnet menyatakan : "In the Christian believers that Christ is the transformer of culture, he also must be a part of that process of transformation. He must be seeking the redeeming of the social structures of his own society and not merely the redemption of his fellow human beings. In this manner, the Christian is not only involved with the fulfilling of the redemption mandate, but also of the wider cultural mandate." (The Healing of the Nations, 213-214).

Dalam bukunya "Pelayanan Perkotaan," Herlianto mengusulkan bahwa sebagai orang Kristen kita harus melakukan pelayanan yang bersifat penyadaran, pertolongan, pengembangan, pendampingan dan pembebasan. Pelayanan penyadaran adalah pelayanan di mana kita melakukan penyadaran kepada jemaat Tuhan untuk bertobat dari praktek-praktek korupsi, kolusi dan nepotisme yang kita lakukan. Jemaat harus menjadi "orang-orang kudus" yang berani menampilkan sosok murid Kristus yang sejati di mana pun kita berada, termasuk dalam konteks bisnis yang digelutinya, dijalankan dengan jujur dan penuh itegritas. Pelayanan pertolongan adalah pelayanan kasih yang langsung dengan memberikan kebutuhan seseorang. Jemaat Tuhan harus peka dengan kondisi lingkungan sosial dan menjadi garda terdepan dalam menunjukkan kasih. Pelayanan pengembangan adalah pelayanan yang ditujukan untuk memberdayakan orang-orang yang tidak berdaya sehingga mereka dapat berusaha membangun dirinya sendiri. Pelayanan pendampingan adalah pelayanan yang memberikan bantuan hukum bagi mereka yang membutuhkan. Melalui pelayanan ini, gereja atau jemaat Tuhan dapat menyatakan kasihnya dengan memberikan bantuan hukum bagi mereka yang tidak mendapatkan keadilan. Pelayanan pembebasan adalah pelayanan yang dilakukan untuk membebaskan orang-orang dari situasi yang sulit dan tak berdaya seperti kemiskinan, buta huruf, bahkan perbudakan yang tidak manusiawi. Seperti tujuan Kristus hadir dalam dunia untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, memberitakan pembebasan kepada para tawanan, penglihatan bagi orang buta, membebaskan orang-orang yang tertindas dan memberitahukan tahun rahmat Tuhan yang telah datang, maka kita sebagai gereja Tuhan, harus menghadirkan "shalom" bagi mereka yang membutuhkan.