Pembinaan

Kebaikan Allah

Allah itu baik. Ini adalah judul sebuah lagu yang akan terus mengingatkan kita akan kebaikan dan betapa baiknya Allah itu. Tentu saja sebagai orang yang percaya akan Allah, kita dengan yakin akan mengatakan bahwa benar Allah itu baik. Tentunya akan sangat baik kalau kita bisa lebih memahami dimensi apa saja yang bisa dilihat dari kebaikan Allah dan bagaimana Alkitab sendiri melukiskan kebaikan Allah. 

John Frame di dalam bukunya Systematic Theology: An Introduction to Christian Belief mengatakan bahwa kebaikan adalah salah satu atribut Allah, yakni sesuatu yang menggambarkan Allah. Kebaikan adalah sebuah konsep yang luas dan mencakup setidaknya kasih, anugerah, kesabaran, kesetiaan, belas kasihan dan keadilan. Alkitab berbicara secara luas tentang bentuk-bentuk kebaikan Allah tersebut, tetapi dalam artikel ini hanya akan disinggung tentang kebaikan Allah dalam pengertian luas.

Secara umum, kebaikan sendiri dapat dimengerti dalam setidaknya dua aspek yakni baik dalam pengertian moralitas (misalnya, tidak pernah berbohong, senang membantu orang dan sebagainya) maupun baik dalam pengertian keunggulan (misalnya, seorang pengemudi yang baik, meskipun secara moral bisa saja dia seorang yang suka gonta-ganti isteri), bahkan kebaikan juga dapat dikenakan untuk benda mati – lebih sesuai diterjemahkan dengan kata ‘bagus’ (tulisan yang bagus, mobil yang bagus dsb). Ketika berbicara tentang kebaikan Allah, maka Allah itu berarti baik secara moralitas (tak pernah berdusta, jauh dari kejahatan dsb) maupun baik dalam pengertian keunggulan atau kesempurnaan (keadilan-Nya sungguh sempurna). 

Ketika membicarakan soal kebaikan, maka satu hal yang sangat penting adalah standar kebaikan itu sendiri – atas dasar apa suatu tindakan dapat disebutkan baik? Di alam manusia, tentu ada banyak standar yang bisa diberikan, yang sangat dipengaruhi oleh diri sendiri maupun oleh sebuah komunitas entah besar atau kecil. Standar kebaikan sebagaimana yang diharapkan atau ditetapkan manusia tentu saja bisa berbeda dari satu tempat ke tempat lain atau dari suatu zaman ke zaman lain atau dari suatu komunitas ke komunitas lain. Alkitab sendiri memandang manusia itu baik ketika dia taat kepada Allah. Tetapi ketika berbicara tentang kebaikan Allah, tentunya ketaatan tidaklah tepat karena standar yang paling tepat adalah standar Allah itu sendiri. Tidak ada standar lain yang bisa lebih tinggi, adil dan menyeluruh dibandingkan standarnya Allah. 

Secara lebih khusus, di dalam Alkitab, kebaikan Allah ditunjukkan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk keuntungan pihak lain. Misalnya, Kejadian 50:20 mencatat ucapan Yusuf kepada saudara-saudaranya: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar“ atau Ulangan 30:5 yang mencatat bagaimana “TUHAN, Allahmu, akan membawa engkau masuk ke negeri yang sudah dimiliki nenek moyangmu, dan engkaupun akan memilikinya pula. Ia akan berbuat baik kepadamu dan membuat engkau banyak melebihi nenek moyangmu”. 

Alkitab juga mencatat bahwa Allah adalah sumber segala berkat sejati. Pemazmur mengatakan: “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! … tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia! … orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik” (Mazmur 34:8-10) dan Yakobus di dalam suratnya pasal 1 ayat 7 mengingatkan bahwa “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang…”

Kebaikan-Nya diperlihatkan terutama tentu saja kepada umat-Nya. Mazmur 73:1 menyatakan hal ini: “Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya”. Tetapi bahkan Dia baik kepada orang-orang sebelum mereka mengakui Dia sebagai Tuhan. Ini dinyatakan dengan jelas dalam konteks penebusan Kristus: “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8). Inilah puncak ungkapan kebaikan Allah. 

Terhadap mereka yang bukan saja belum menjadi umat-Nya, malahan yang menjadi musuh-Nya, Alkitab menyatakan bahwa Dia pun memperlihatkan kebaikan-Nya kepada merekasekalipun dengan intensitas yang tidak sama, sebab Dia juga menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Mat. 5:45). Kebaikan-Nya terhadap mereka yang memusuhi Dia sebetulnya cukup luar biasa dan seharusnya membawa orang-orang tersebut untuk bertobat (Kisah 14:17 dan Roma 2:4). Dengan kebaikan Allah yang diperlihatkan sedemikian besar, tidak ada seorang pun yang berhak untuk mengatakan bahwa Allah tidak berbuat baik kepada Dia, bahkan perbuatan baik yang diterima seseorang selama hidupnya menjadi kesaksian negatif ketika seseorang menolak Sang Allah Mahabaik. 

Gerald Bray di dalam bukunya God Is Love: A Biblical and Systematic Theology menyatakan bahwa kebaikan Allah nampak dalam penciptaan dunia dan manusia maupun di dalam menyediakan segala sesuatu yang kita perlukan untuk mempertahankan kehdiupan. Kebaikan-Nya juga yang telah membawa Dia menjangkau kita ketika kita tidak taat dan menyediakan jalan pendamaian. Kebaikan-Nya pula yang telah membawa kita menyadari keberdosaan diri kita dan mendorong kita untuk memercayai kebaikan dari pengampunan-Nya bagi keselamatan kekal. 

Di satu sisi semua ini tentu harus membawa kita bersyukur bahwa Allah kita bukanlah Allah yang diam dan jauh ‘di sana” tanpa peduli kepada manusia, apalagi bagi kita yang sudah merasakan kebaikan-Nya melalui jalan penebusan yang dilakukan oleh Anak-Nya. Di sisi lain, sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah dan sebagai manusia baru yang telahl dipulihkan dari kerusakan gambar ini, kita perlu mengimitasi, tentunya dalam bentuk dan cara terbatas, kebaikan Allah. Bagaimana caranya? Dengan memberikan kebaikan kepada semua orang, tentunya dengan intensitas yang berbeda ketika diungkapkan bagi orang percaya dan bukan percaya, baik melalui perkataan, sikap maupun karya nyata bagi lingkungan sekitar kita. Kebaikan ini bahkan juga bisa kita perlihatkan kepada dunia ciptaan non-manusia antara lain melalui pemeliharan lingkungan. Bagi mereka yang bersalah kepada kita atau mereka yang memang berbuat jahat, kita bisa memperlihatkan seberapa dalamnya kejahatan itu dan memperlihatkan alternatifnya, yakni kebaikan. Kita bisa menunjukkan kebaikan dengan memberikan pengampunan kepada mereka sambil berharap bahwa mereka akan datang kepada Tuhan untuk menikmati kebaikan penuh dari Allah Tritunggal. Dengan cara inilah kebaikan Allah semakin terungkap dan dinikmati oleh semua ciptaan-Nya.