Pembinaan

Maju tak gentar

Maju tak gentar adalah sebuah lagu ciptaan Cornel Simanjuntak, yang diciptakan untuk menumbuhkan semangat pejuang Indonesia yang berada di garis depan ketika harus berjuang melawan penjajah Jepang. Kala itu Cornel Simanjuntak adalah anak muda yang memiliki bakat luar biasa di dalam bidang seni musik. Awalnya ia menjadi guru musik di sekolah-sekolah untuk mengisi kekosongan guru dari Belanda yang pergi karena adanya ancaman dari pihak Jepang. Namun akhirnya Cornel Simanjuntak beralih menjadi pejuang kemerdekaan di garis depan. Ia menggunakan senjata dan lagu ciptaannya untuk berjuang melawan penjajah pada masa itu. Salah satu lagu yang ia ciptakan adalah “Maju tak Gentar.” Lagu ini berhasil membakar semangat para pejuang untuk melawan penjajah demi kemerdekaan Indonesia. Tentu saja ini bukanlah hal yang mudah. Ada banyak tantangan dan kesulitan yang harus dihadapi oleh Cornel Simanjuntak ketika ia berusaha melawan para penjajah. Namun ia tetap berkarya bagi bangsa dengan senjata dan karya nyata-nya, yaitu lagu. Kisah Cornel Simanjuntak berakhir ketika ia tertembak oleh peluru lawan di bagian paha, dan itulah salah satu penyebab kematiannya. Tetapi hasil karya-nya tetap berhasil membakar semangat juang para pahlawan bangsa.

Bukan hanya Cornel Simanjuntak yang berjuang bagi bangsa Indonesia ini. Tentu kita mengenal sosok wanita yang bernama Raden Ajeng Kartini. Beliau adalah seorang wanita yang dengan gigihnya berkarya untuk membangun bangsa dan negara dengan cara membela dan memperjuangkan hak-hak kaum wanita pada zamannya. Pasa masa itu di Indonesia, wanita hanya boleh bersekolah hingga lulus sekolah dasar, dan hanya laki-laki saja yang diperbolehkan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. R. A. Kartini berpendapat bahwa wanita juga layak mendapatkan kesetaraan seperti kaum pria. Hal ini terbesit di benak Kartini setelah ia berteman dengan beberapa teman perempuan dari Eropa. Perempuan di Eropa sudah bisa merasakan kebebasan untuk mendapatkan ilmu pendidikan, bebas bekerja dan bebas mengemukakan pendapat. Oleh sebab itu munculah yang namanya emansipasi wanita di Indonesia, yang dicetuskan oleh Kartini. Emansipasi wanita yang diperjuangkan saat itu oleh R. A. Kartini adalah kebebasan mengenyam pendidikan, kebebasan bekerja, dan kebebasan mengemukakan pendapat. Setelah Kartini menikah, suaminya mendukungnya untuk membuka sekolah bagi kaum wanita. Hal ini mengawali kegerakan emansipasi di Indonesia, sekalipun R. A. Kartini sudah meninggal tidak lama setelah beliau melahirkan anak pertamanya. Namun kegerakan ini terus berkembang dan kita bisa merasakan dampaknya saat ini, yaitu wanita Indonesia mendapatkan hak untuk mengenyam pendidikan, mendapatkan kebebasan untuk bekerja dan kebebasan dalam mengemukakan pendapat. Namun tentu saja hal ini tidak dengan mudah dilakukan oleh Kartini. Ada banyak tantangan dan kesulitan yang ia hadapi ketika hendak menyetarakan wanita dengan pria. Ada banyak penolakan dari orang di sekitarnya, bahkan oleh pemerintah pada masa itu. Namun penolakan dan tantangan yang demikian tidak menyurutkan tekad Kartini untuk berkarya bagi bangsa Indonesia.

Selain kedua nama di atas, tentu kita tahu ada lebih banyak lagi orang-orang yang bekerja dan berkarya untuk membangun bangsa Indonesia dengan kesulitan dan tantangan yang berbeda. Misalnya Presiden Jokowi, atau menteri keuangan, Sri Mulyani, yang mencetuskan tax amnesty. Mereka juga adalah orang-orang yang berkarya bagi bangsa Indonesia hingga saat ini. Namun sebagai orang percaya, kita seringkali membedakan pelayanan dan pekerjaan. Kita membedakan antara memberikan perpuluhan dan membayar pajak. Kita berpikir bahwa apa yang kita lakukan di gereja adalah untuk Tuhan, sedangkan apa yang kita lakukan di luar gereja, di dalam keseharian kita, adalah untuk diri kita sendiri, untuk atasan kita di kantor dan untuk pemerintah yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan

Allah. Bukankah di dalam perjanjian lama, Allah memerintahkan umat untuk berdoa dan mengusahakan kesejahteraan kota di mana mereka berada (Yer. 29:7). Hal ini berarti, Allah ingin kita sebagai orang percaya juga berperan aktif untuk berkarya bagi kota atau bangsa di mana kita ditempatkan.

Beberapa minggu ini kita belajar banyak tentang Nehemia. Kisahnya bermula ketika kerajaan Israel terpecah menjadi dua, yakni kerajaan Israel Utara dan Israel Selatan. Israel Utara dijajah oleh bangsa Asyur, sedangkan Israel Selatan dijajah oleh bangsa Babel, yang kemudian dikalahkan oleh bangsa Persia. Nehemia, adalah bagian dari orang-orang Israel yang ditawan oleh bangsa Persia. Setelah beberapa waktu lamanya, Nehemia mendengar kabar bahwa tembok Yerusalem telah runtuh. Keruntuhan tembok ini menjadi sesuatu yang memalukan bagi sebuah kota pada masa itu. Oleh karena kecintaan Nehemia kepada Yerusalem, maka ia memberanikan diri menemui raja, untuk memohon diri kembali ke Yerusalem dan membangun kembali tembok Yerusalem. Oleh karena kemurahan Allah, raja mengizinkan Nehemia untuk kembali pulang ke Yerusalem, dan membangun tembok kotanya.

Pada suatu malam, Nehemia pergi bersama dengan beberapa orang untuk melihat-lihat keadaan sekitar tembok Yerusalem yang telah menjadi reruntuhan tersebut. Setelah melihat-lihat keadaan sekitar, Nehemia berkata kepada beberapa orang tersebut, “Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela.” Sungguh ajaib, oleh kemurahan Tuhan, orang-orang yang bersama-sama dengan Nehemia berkata, “Kami siap membangun!” Dan dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan pembangunan tembok Yerusalem. Namun tidak semua pihak mendukung pembangunan kembali tembok Yerusalem. Ketika Sanbalat, Tobia, dan Gesyem mendengar hal itu, mereka mengolok-ngolok dan menghina Nehemia. Tetapi Nehemia tidak menjadi kecil hati, justru ia membalasnya dengan berkata “Allah semesta langit, Dialah yang membuat kami berhasil! Kami, hamba-hamba-Nya, telah siap untuk membangun.” Maka dengan pertolongan Allah mulailah mereka membangun kembali tembok Yerusalem.

Kisah pembangunan tembok Yerusalem tidak berhenti sampai di sana. Ketika didengar oleh Sanbalat, Tobia, dan orang-orang lain mengenai pembangunan tembok Yerusalem yang terus berjalan, mereka mengadakan persepakatan untuk memerangi Yerusalem dan membuat kekacauan di sana. Namun Nehemia memimpin orang-orang Israel untuk berjaga-jaga dan siap sedia jika musuh menyerang. Ia juga mengingatkan orang-orang Israel agar jangan takut, dan ingatlah akan Allah yang mahabesar dan dahsyat. Pada akhirnya, pembangunan tembok Yerusalem pun dapat diselesaikan, sekalipun ada ancaman dan persepakatan untuk membunuh Nehemia, guna menghentikan pembangunan tembok tersebut. Namun mereka yang berusaha menggagalkan pembangunan tersebut menjadi malu dan kehilangan muka, dan akhirnya menyadari bahwa pekerjaan itu dilaksanakan dengan bantuan Allah. Allah bukan hanya menyertai pekerjaan pembangunan bait Allah (yang tercatat di dalam Ezra), namun Ia juga menyertai pembangunan tembok kota (yang tercatat di dalam Nehemia). Sekali lagi kita dapat melihat, bahwa Allah tidak membeda-bedakan pekerjaan pembangunan rumah Tuhan dan tembok kota. Allah sama-sama menyertai kedua pekerjaan ini.

Ketiga kisah ini memberitahukan kepada kita bahwa berkarya bagi bangsa bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Para pendahulu kita sudah merasakan banyaknya tantangan dan kesulitan yang harus mereka hadapi ketika hendak berkarya bagi bangsa. Sebagai warga negara, kita wajib berkarya nyata bagi bangsa.