Pembinaan

Mujizat, bersyukur, berubah

Teks hari ini bercerita tentang sepuluh orang kusta yang mengalami mujizat kesembuhan. Yang menarik adalah dari sepuluh orang kusta yang disembuhkan itu, hanya seorang yang kembali kepada Tuhan Yesus dan mengucap syukur. Ironisnya, orang yang bersyukur itu adalah orang Samaria. Orang Samaria adalah orang yang dianggap rendah oleh orang Yahudi. Mereka dianggap bangsa yang tidak murni karena keturunan dari pernikahan campur antara orang Yahudi dengan orang Babel berabad-abad sebelumnya. Penginjil Lukas ingin memberikan sindiran kepada orang Yahudi "asli", yang dianggap lebih murni imannya, namun kenyataannya tidak tahu berterima kasih meskipun sudah mengalami mujizat. Justru orang yang dianggap rendah kerohaniannya ternyata lebih "rohani" daripada orang yang merasa lebih dekat kepada Tuhan.

Anda mungkin pernah mendengar tentang orang yang bernazar ketika masalah mendera, misalnya sakit berat: "Kalau saya sembuhsaya akan...." Nazar yang saya maksud adalah nazar untuk berubah atau bertobat. Dengan kata lain kalau sembuh saya akan mengubah jalan hidup saya. Saya akan memberi persembahan kepada gereja atau lembaga sosial. Kenyataan yang saya amati, tidak semua orang yang bernazar konsisten dengan nazarnya. Sebagian melupakan nazarnya dan kembali kepada kehidupan yang lama. Janji tinggal janji. Mengapa hal itu terjadi? Bagaimana orang yang mengalami mujizat dahsyat tidak mengalami perubahan apa-apa? Jangankan berubah hidupnya, mengucap syukur pun kadang-kadang tidak. Ia malah memuji-muji dokter atau rumah sakit yang hebat yang telah menyembuhkannya.

Mari kita melihat sekilas Mzm 106. Mazmur ini menceritakan pengalaman bangsa Israel mengalami penyelamatan yang ajaib oleh Tuhan. Berkali-kali. "Demikian diselamatkan-Nya mereka dari tangan pembenci, ditebus-Nya mereka dari tangan musuh" (Mzm 106:10). Untuk sesaat mereka percaya kepada-Nya, bahkan memuji-muji Tuhan (ay.12). Namun itu tidak berlangsung lama. "Tetapi segera mereka melupakan perbuatan-perbuatan-Nya, dan tidak menantikan nasihat-Nya." (ay.13). Mereka kembali kepada kehidupan yang lama (ay.14-20). Lupa lagi, lupa lagi (ay.21).

Lupa adalah fenomena hidup manusia. Sering sekali orang mengatakan dia lupa sebagai alasan tidak menunaikan kewajibannya. Lupa yang dimaksud adalah lupa dalam hal mengingat secara kognitif. Ingatan manusia ada dua: ingatan jangka pendek dan jangka panjang. Anda tentu pernah lupa meletakkan kaca mata padahal itu baru beberapa menit lalu. Itu contoh lupa karena peristiwa Anda menaruh kaca mata beberapa saat lalu masuk ingatan jangka pendek. Sedangkan ingatan jangka panjang misalnya, peristiwa Anda dibaptis atau Anda sakit demam berdarah bertahun-tahun lalu. Anda ingat persis sakitnya jarum infus di tangan. Tidak semua hal harus masuk ingatan jangka panjang. Pikiran Anda akan menjadi susah kalau semua hal teringat. Ibarat hape yang terlalu penuh memorinya, otak Anda bisa jadi lemot.

Lupa dapat terjadi karena tidak memberi perhatian yang serius. Sesuatu tidak dianggap serius karena ada muncul hal lain yang dianggap lebih penting. Dalam hal sembilan orang kusta yang sembuh dan tidak kembali bersyukur, mungkin mereka sangat bahagia dan segera melakukan apa yang tidak bisa dilakukan selama ini sampai-sampai melupakan Tuhan Yesus. Bagi mereka, merayakan kebahagiaan itu lebih penting daripada bersyukur. Mereka fokus pada berkat dan lupa bahwa pemberi berkat itu lebih penting.

Hal kedua yang membuat orang lupa pemberi berkat adalah bahwa memang sesungguhnya mereka tidak pernah menganggap penting pemberi berkat sejak semula. Dengan kata lain, bagi mereka, pemberi berkat itu hanya instrumen. Sama seperti Anda naik kapal terbang. Anda akan fokus pada tujuan Anda sampai dengan selamat. Apakah Anda pernah mengingat nama pilotnya? Seumur-umur saya naik kapal terbang, tak seorang pun nama pilot yang saya ingat meskipun ia selalu memperkenalkan diri di awal penerbangan. Siapa dia tidak penting bagi saya. Yang penting adalah dia menerbangkan saya selamat sampai tujuan.

Bukankah kehidupan iman kita acapkali seperti itu? Kita melupakan Tuhan setelah menerima berkat-Nya karena kita berfokus pada kesenangan yang baru itu. Siapa yang memberikan tidak lagi penting. Dan lebih buruk lagi, jika memang sejak mulanya sebenarnya kita tidak memedulikan Tuhan. Kita kelihatannya saja mencari Tuhan tetapi sesungguhnya motivasi kita tidak tulus (tentu kita tidak akan akui hal itu). Kita bukan ingin menjalin persekutuan dengan Tuhan dalam arti sesungguhnya melainkan mendekat hanya untuk mendapat manfaat dari Tuhan. Orang-orang seperti ini mudah sekali kelihatan aslinya ketika mereka mengalami krisis hidup. Persis bangsa Israel di padang. Ketika mengalami kekurangan air misalnya, mereka langsung bersungut-sunggut. Padahal mereka sebelumnya sudah berkali-kali mengalami mujizat Tuhan. Jadi selama ini mereka memang tidak pernah mengenal siapa Tuhan. Mengenal dalam arti mengerti isi hati Tuhan, percaya dan taat kepada-Nya.

Berhati-hatilah jika iman Anda berfokus pada berkat dan bukan pada pemberi berkat. Saya terhenyak ketika Januari lalu melihat reklame KKR yang sangat besar di kawasan elit Jakarta. Selain foto pendeta dan istrinya, ada janji dalam reklame yang menyatakan: punya rumah di bumi dan di surga dan di bumi, bebas kutuk resesi, kemiskinan, sakit penyakit. Siapa yang tidak tertarik? Apalagi disertai klaim bahwa sang pendeta diberi karunia roh the best, the biggest dan roh juara dibidangnya. Tidak ada sedikit pun disinggung perihal berkat kekal dan dan sempurna di dalam Tuhan: Kristus dan karya-keselamatan-Nya. Berkat kekal tidak lagi menjadi fokus iman melainkan berkat-berkat fana. 

Menghendaki berkat jasmani tentu tidak salah. Tuhan tahu kita membutuhkan semua itu. Dan Tuhan juga tidak akan melupakan kita (Mat 6:33, Mzm 37:25) tetapi alangkah buruknya kualitas iman kita jika berkat (baca: jasmani) menjadi tujuan hubungan kita dengan Allah. Bukankah seharusnya fokus kita kepada Kristus dan karya keselamatan-Nya? Bukankah hanya Kristus yang "the best"? Dan setelah mengalami berkat terbesar itu, hati kita melimpah dengan ucapan syukur meskipun belum punya rumah di bumi dan masih didera krisis ekonomi atau tubuh masih menanggung penyakit. Kiranya kita memahami hal ini: mujizat (keselamatan) membawa kepada rasa syukur dan perubahan fokus hidup.*** [BSB].