Pembinaan

Wanita yang memengaruhi dunia

Raden Ajeng Kartini adalah pejuang kaum wanita yang tidak asing bagi kita. Pada zamannya, wanita hanya boleh bersekolah hingga lulus SD, kecuali wanita dengan latar belakang tertentu; hanya laki-laki yang dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, itu pun terutama yang memiliki latar belakang tertenu pula (bangsawan, pejabat, keluarga kaya dsb). Kartini termasuk wanita yang mendapatkan keistimewaan ini dan ia berkeyakinan bahwa wanita lain pun seharusnya memiliki akses seperti kaum pria dalam hal ini. Kartini memperjuangkan emansipasi wanita dalam dalam mengenyam pendidikan, mencari pekerjaan dan mengemukakan pendapat. Setelah Kartini menikah, suaminya memberi dukungan untuk membuka sekolah bagi kaum wanita. Apa yang dilakukan Kartini menjadi awal kegerakan emansipasi kaum wanita di Indonesia, yang terus berkembang dan bisa dirasakan dampaknya sampai saat ini.

Di sepanjang zaman dan dalam berbagai budaya, wanita memang sering berada pada posisi marjinal. Dalam kehidupan umat Yahudi pun wanita kurang mendapatkan tempat yang layak. Kesaksian maupun perkataan mereka tidak dianggap bernilai. Hal ini tentu tidak benar, karena pada waktu Hawa diciptakan, Allah mengatakan bahwa wanita adalah penolong yang sepadan bagi laki-laki. Ia tidak lebih rendah dan tidak lebih tinggi dari laki-laki, dan ditempatkan untuk menolong bukan merongrong laki-laki. Di dalam Alkitab kita dapat melihat bahwa Allah tidak pernah merendahkan wanita, namun secara istimewa memakai wanita dengan segala keunikan, ketulusan, kekuatan dan keterbatasan mereka untuk menjadi alat di tangan Sang Penjunan Agung.

Sara, isteri Abraham, adalah sosok wanita yang berdosa tetapi tetap dipakai Allah. Sebagai isteri Abraham, ia ikut pergi ke sebuah negeri yang dijanjikan Tuhan tetapi tidak jelas tempatnya. Allah berjanji kepada Abraham untuk membuat keturunannya sangat banyak, namun sampai masa tuanya, Sara tidak juga mengandung. Ia kemudian berusaha ‘menulis sendiri kisahnya’ dengan memberikan Hagar, seorang budak, supaya Abraham memiliki keturunan. Tentu saja cara yang dilakukan Sara tidak benar karena Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Terbukti, di masa tuanya, Sara mendapatkan seorang anak bernama Ishak yang merupakan anak yang dijanjikan Tuhan. Melalui Ishak yang lahir dari kandungan Sara, Allah memberkati Abraham dan menjadikannya bapa segala bangsa. Allah memakai Sara yang tidak setia menanti janji Allah untuk sebuah tujuan besar dan mulia.

Tidak jauh berbeda dengan Sara, seorang perempuan bernama Yokhebed melahirkan seorang anak laki-laki di bawah pemerintahan raja Firaun, justru pada masa Firaun memerintahkan untuk membunuh seluruh anak laki-laki yang lahir dari keturunan Yahudi. Firaun khawatirjikalau orang Yahudi menjadi semakin banyak di Mesir, maka suatu hari mereka akan memberontak. Namun Yokhebed dengan berani dan diam-diam menyembunyikan anak laki-lakinya dan ketika semakin besar memasukkannya ke keranjang untuk diletakkan di tepi sungai Nil. Allah memakai keberanian Yokhebed untuk memelihara hidup Musa yang kelak akan menuntun bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan Mesir menuju sebuah tanah perjanjian yang telah Allah sediakan.

Ester memiliki peran berbeda namun tidak kalah unik. Sebagai seorang Yahudi yang sedang hidup dalam pembuangan di negara penjajah, ia terpilih menjadi ratu. Ester pada mulanya tidak menyadari peran yang Allah letakkan di pundaknya sehingga mula-mula ia gentar dan ragu untuk menyelamatkan orang-orang Israel. Hanya setelah ia menyadari panggilan Allah melalui perannya sebagai ratu, Ester berteguh hati bahkan bersedia mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan bangsanya. Allah memang memakai Ester untuk menyelamatkan bangsa pilihan Allah, agar melalui bangsa Israel nama Allah diberitakan hingga keseluruh dunia.

Ketika membuka Perjanjian Baru, kita berjumpa dengan kisah saat Tuhan Yesus berjalan ke Galilea melalui Samaria, suatu rute yang biasanya dihindari orang Yahudi yang saleh. Di sanaketika matahari membakar kulit, Ia duduk di tepi sumur sementara murid-murid-Nya membeli makanan. Lalu datanglah seorang wanita menimba sumur di siang terik itu, sesuatu yang tidak lazim karena biasanya wanita menimba air di pagi hari. Percakapan Yesus dengan wanita Samaria itu menyatakan siapa wanita itu dan siapa Diri Yesus. Wanita itu menyadari dirinya adalah orang yang tidak benar dan Yesus adalah Guru yang sekaligus merupakan Mesias. Wanita itu percaya dan dengan gembira pergi ke kota untuk memberitakan tentang Mesias itu kepada banyak orang. Wanita penuh dosa seperti ini pun dipakai oleh Tuhan untuk memberitakan tentang Mesias kepada orang-orang Samaria sehingga mereka menjadi percaya kepada Yesus Sang Mesias yang dijanjikan (Yoh. 4:42).

Kisah keempat wanita di atas tertulis di Alkitab namun Allah tetap bekerja memakai para wanita di zaman ini. Tracy Trinita, seorang wanita keturunan Tionghoa, Brasil, Kalimantan dan Minahasa, adalah seorang model populer dalam dunia fashiondi tahun 2000-an. Ia besar di Bali dan mendapat kesempatan untuk berkarya sebagai seorang model, bukan hanya di Indonesia tetapi sampai sampai ke New York, Brasil dan negara-negara besar lainnya. Alasan ia menjadi model adalah karena terpikat oleh kekayaan dan ketenaran yang ditawarkan. Suatu hari, ia berjumpa dengan Yesus yang mengisi hatinya. Sejak itu, ia pun memberitakan Kristus melalui hidupnya dan ia menolak beberapa tawaran yang bertentangan dengan iman kekristenannya. Hal itu jelas menarik perhatian rekan-rekannya dan kesempatan itu dipakai Tracy untuk memberitakan tentang Yesus Kristus. Akhirnya, ia meninggalkan karirnya di dunia penuh gemerlap tersebut dan belajar apologetika di Ravi Zacharias International Ministries. Allah memakai Tracy untuk bersaksi, mengabarkan Injil dan melakukan pembelaan iman Kristen melalui berbagai seminar apologetika di seluruh dunia.

Melalui kelima kisah wanita ini, kita melihat bagaimana Allah terus bekerja melalui kaum wanita untuk menjalankan rencana-Nya. Tentu masih banyak kisah para wanita yang dipakai Tuhan di dalam Alkitab seperti Rahab, Abigail, Rut, Hana, Maria, perempuan-perempuan yang pergi ke kubur Yesus di pagi hari kebangkitan-Nya, Lidia, Priskila, dan sebagainya. Belum lagi sedemikian banyaknya wanita dalam sejarah kekristenan yang dipakai Allah begitu luar biasa. Tetapi di luar nama-nama besar itu, ada jauh lebih banyak wanita yang namanya tidak tercatat di Alkitab maupun dalam sejarah gereja yang tertulis namun telah menjadi berkat bagi dunia di sekitarnya, baik untuk membawa kabar Injil maupun melakukan transformasi melalui peran panggilan mereka yang unik: untuk suami, anak, mertua, menantu, sahabat, masyarakat sekelilingnya bahkan dunia yang lebih luas. Oleh karena itu, kita patut menghargai dan mendukung para wanita di sekitar kita, agar para wanita menemukan panggilan yang Allah berikan bagi setiap dari mereka, dan mengerjakan panggilan tersebut dengan sungguh-sungguh agar nama Tuhan dimuliakan. Amin.