Bagikan artikel ini :

Rejoice Always (Bersukacitalah Senantiasa)

Filipi 4:4-9; Yohanes 15:9-11

EKSPRESI PRIBADI

Pharrell Williams penyanyi asal Amerika Serikat ini pernah menyanyikan sebuah lagu berjudul ‘Happy’, yang pernah menjadi salah satu lagu yang paling banyak didengarkan orang. Lagu ini bernada begitu ceria dan membuat orang yang mendengarnya bisa bergoyang. Dalam sebuah wawancara, menurut Pharrell Williams, tidak ada batasan tentang siapa yang bisa menjadi bahagia dan bagaimana menjadi bahagia. Juga katanya hal-hal buruk terjadi pada Anda, tetapi ketika percaya pada kekuatan kebahagiaan, tidak ada yang bisa melawan Anda. Namun bukankah kenyataannya saat hidup kita dalam situasi buruk, kita pun secara natural tidak bahagia? Coba bagikan dengan anggota Care Group Anda, apakah Anda dapat merasakan kebahagiaan atau sukacita di saat hidup begitu sulitnya?

EKSPLORASI FIRMAN

Situasi Paulus ketika menuliskan ini bukan dalam keadaan yang nyaman, Paulus menulis surat ini ada di dalam penjara, dia tidak punya kebebasan untuk bergerak, ada sesuatu yang direnggut dalam hidupnya, secara fisik dan emosi sebenarnya dia dalam tekanan. Bahkan kalau kita baca di pasal 1, ada orang-orang yang mengaku Kristen sendiri yang berusaha menyusahkan Paulus. Kalau kita ada di posisi Paulus, mungkin kita akan mulai mempertanyakan Tuhan, kita sudah mati-matian pelayanan, kita gak pernah hitung-hitungan, kemudian malah diperlakukan tidak adil oleh orang-orang dan Tuhan pun ijinkan hal itu terjadi. Kita akan sangat bisa memaklumi kalau Paulus tidak bersukacita saat itu. Tetapi apa yang dikatakannya? Filipi 1:18 bagian akhir “Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita” Saudara ini pilihan Paulus, respon Paulus “Aku akan tetap bersukacita” satu ketetapan hati, apapun yang terjadi Saya akan tetap Bersukacita. Bersukacita ini bukan sekadar perasaan, tetapi sebuah ketaatan, sebuah penyerahan, sebuah sikap.

Satu hal yang cukup mengherankan adalah bersukacita ini adalah ditulis dalam bentuk perintah yang perlu dilakukan terus menerus. Tetapi apakah mungkin ini dapat dilakukan? Mari perhatikan kembali ayat ini (Flp.4:4) Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Dikatakan bersukacita di dalam Tuhan. Sukacita itu lahir dari relasi kita dengan Tuhan, melampaui keadaan kita. Saat situasi baik adalah wajar jika kita bersukacita karenanya, orang-orang yang tidak percaya pun demikian. Sebaliknya ketika situasi sulit, kita pun bisa bersedih dan susah hati, begitu pun orang-orang tidak percaya. Tetapi yang membedakan adalah waktu situasi sulit, kita bisa bersukacita ketika memandang kembali kepada Tuhan dalam relasi dengan kita.

Ada yang menuliskan, kita bersukacita, karena mengenal Dia adalah Allah yang Maha Tahu, berarti Allah mengetahui kebutuhan kita; kita mengenal Allah adalah Maha Kuasa, Allah tidak akan kekurangan cara untuk menolong dan menopang kita; Allah penuh belas kasihan dan setia, Allah tidak akan menutup mata terhadap segala pergumulan kita; juga Allah adalah Allah yang hikmat-Nya tidak terselami, rancangan-Nya tidak akan salah. Semuanya adalah karena Tuhan Yesus yang telah memberikan diri-Nya dalam penderitaan yang sangat mengerikan, supaya kita selalu memiliki sukacita selamanya, karena hubungan kita dengan Allah tidak akan terpisahkan selama-lamanya, apa pun kondisi kita. Seperti pemazmur mengatakan (Mzm.126:2) Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" Sukacita kita akan hadir karena pengharapan yang selalu ada di dalam Tuhan Yesus.

Maka rasul Paulus tidak memerintahkan kita menolak rasa sakit, kehilangan, menolak kenyataan hidup ini. Tetapi apa yang dikatakan firman Tuhan adalah di masa-masa paling sulit sekalipun, orang percaya dapat menikmati karya keselamatan Kristus, yang akan membuat kita tetap dapat bersukacita. Seperti kondisi Paulus menulis ini dalam penjara, maka surat kepada jemaat Filipi ini sering dikenal sebagai surat penjara. Namun ada satu sebutan lagi untuk surat Filipi ini, yaitu Nyanyian Sukacita Paulus. Paulus tetap bersukacita di dalam Kristus, meskipun situasi senantiasa sulit. Sukacita kita bukan saja suatu pengharapan kita akan mengalami persekutuan dengan Yesus di Sorga nanti, melainkan Yesus juga beserta, berjalan bersama dengan kita sekarang. Sekuat-kuatnya dan sehebat-hebatnya kita, semuanya sementara, semuanya akan berakhir cepat atau lambat. Tetapi sekalipun semuanya itu hilang dari kita, Kristus tidak akan pernah hilang dari hidup kita dan itu cukup untuk kita bersukacita.(RR)

APLIKASI KEHIDUPAN

Pendalaman

Mengapa hanya di dalam Kristus saja, Anda akan dapat tetap bersukacita?

Penerapan

Di saat hidup Anda sulit, apa yang bisa dipandang dari Kristus, yang membuat Anda tetap bersukacita?

SALING MENDOAKAN

Akhiri Care Group Anda dengan saling mendoakan satu dengan yang lain.