Bagikan artikel ini :

See: The New Heart to See (Hati yang Baru untuk Melihat)

Hosea 1:1-9, 3:1-5

BAHAN CARE GROUP

Dinamo penggerak memainkan peran vital dalam kehidupan modern. Alat ini merupakan komponen penting dalam berbagai mesin dan alat mulai dari kipas angin, mesin cuci, hingga mesin produksi di pabrik dan juga alat transportasi dengan teknologi berbasis listrik yang sedang happening saat ini. Mesin ini memiliki kegunaan mengubah energi listrik menjadi energi mekanik untuk menggerakan sebuah mesin atau kendaraan dengan bobot dan dimensi yang jauh lebih besar. Demikian halnya dengan pekabaran Injil harus digerakkan oleh hati yang mengasihi sebagai motor penggeraknya yang ada dalam dirinya. Hati dengan kualitas demikian memainkan peran yang sangat vital dalam diri orang percaya untuk bergerak melangkah menjangkau jiwa-jiwa yang terhilang. Tanpa hati yang mengasihi, penginjilan hanya dipersepsi dan dimaknai sebagai sebuah tugas gerejawi yang membebani atau sebuah sikap fanatik terhadap kepercayaan belaka. Terlalu dangkal jika kita terjebak dalam pemaknaan seperti itu. Sebab sesungguhnya penginjilan lebih dalam dari sekedar itu, yaitu menjadi bagian dari kehidupan yang hatinya digerakkan oleh kasih.

Apakah selama ini Anda mengabarkan Injil karena hati Anda digerakkan oleh kasih atau sekadar ritus keagamaan yang mengikat sebagai sebuah kewajiban? Sharingkanlah dalam Care Group Anda masing-masing.

EKSPLORASI FIRMAN

Kitab Hosea dikenal sebagai narasi yang sangat indah dalam melukiskan kasih Ilahi terhadap umat-perjanjian-Nya, Israel. Bukan kasih yang kaleng-kaleng yang Allah ungkapkan disini, tetapi kasih yang besar dan tidak terbatas. Jenis kualitas kasih yang langka dan jarang ditemui dalam kehidupan yang telah dikuasai oleh ego. Kasih seperti inilah yang seharusnya menggerakkan denyut hati setiap orang percaya dalam melangkah untuk menjangkau jiwa-jiwa yang terhilang di sekitarnya. Mari kita melihat sekilas hati Allah dimana disana bersemayam kasih yang menakjubkan lewat ilustrasi hidup yang diperagakan oleh Hosea sendiri sang penyambung lidah Allah bagi umat-Nya. Itulah cara unik Allah mengungkapkan pesan firman kepada umat-Nya.

Kasih yang tidak bersyarat

Allah berfirman kepada Hosea bahwa umat-Nya telah menodai relasi yang kudus dengan Diri-Nya oleh penyelewengan yang menjijikan. Mereka dengan vulgar mengumbar ketidaksetiaan kepada ilah palsu lewat mempersembahkan korban kepada Baal dan patung-patung, tetap dalam ketersesatannya dan tidak memiliki itikad untuk bertobat. Mereka benar-benar membelakangi Allah dan berhenti meninggikan nama-Nya. Kenyataan ini telah membuat Allah murka. Lalu Ia menginstruksikan Hosea untuk menikahi Gomer, sang perempuan sundal. Hubungan pernikahan itu digunakan Allah sebagai metafora untuk melukiskan hubungan yang telah rusak dengan umat-Nya. Hal itu tercermin melalui kelahiran tiga anak Gomer sebagai buah dari hubungan tersebut.Masing-masing diberi nama simbolis oleh Tuhan. Penjelasan dari tiap nama tersebut menekankan permasalahan yang terjadi dalam hubungan Allah dengan Israel dan sekaligus berfungsi sebagai simbol penghakiman Tuhan yang akan datang atas bangsa tersebut. Yizreelberarti “tersebar,” dan Israel akan segera diceraiberaikan di pengasingan oleh tentara Asyur yang menaklukkan. Lo-Ruhamahartinya “tidak ada belas kasihan.” Nama ini menegaskan akan datangnya penghakiman dan pengasingan terhadap Israel. Sedangkan Lo-Ammiberarti “bukan umat-Ku.”Nama ini mengingatkan bahwa bangsa Israel telah menolak dan menjauhkan diri dari Allah, dan mereka tidak lagi dianggap sebagaiumat-Nya.

Meskipun Israel tidak setia dan layak menerima penghakiman, Allah tetap setia dan mengasihi mereka. Cinta Allah tidak berubah kepada mereka, dan melampaui segala keburukan dan kebejatan yang dilakukan oleh umat-Nya itu. Buktinya, pada bagian ini diakhiri (ay. 10-11) dengan kata-kata pengharapan, termasuk harapan akan penggenapan janji Allah. Lebih jelasnya, seperti yang Allah analogikan melalui sikap Hosea terhadap Gomer. Sekalipun ia bersundal kembali dengan kekasih baru, Allah ingin ia kembali mencintainya. “Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti TUHAN juga mencintai orang Israel, sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis" (Hos 3:1). Seolah tidak pernah habis cinta Allah kepada mereka. Kembali dan terus kembali untuk mencintainya. Itulah cinta yang tidak bersyarat. Cinta yang tidak pernah kapok dan menyerah untuk tetap mencintai. Cinta yang tidak akan pernah mati itu adalah cinta yang melampaui apapun yang paling buruk dapat terjadi. Disini kita melihat sebuah paradoks yang diperlihatkan Allah antara kemarahan yang ekstrim bergantian dengan ekspresi kelembutan dan belas kasihan yang paling mengharukan!

Kasih yang mengungkapkan diri secara nyata

Allah menyatakan kasih-Nya kepada Israel bukan dengan basa-basi atau berhenti sekadar teori yang manis diucapkan. Tetapi kasih yang mengungkapkan dirinya secara konkrit melalui tindakan nyata. Itulah kasih sejati. Senyata kisah dramatis Hosea mencari kembali Gomer yang telah berpaling darinya demi mendapatinya kembali karena kasih. Memang beberapa komentator memaknai kisah Hosea berdasarkan pendekatan alegoris, sebagai kisah imajinatif yang tidak benar-benar terjadi. Tidak bukan hanya perumpamaan saja. Mereka berpikir hal itu tidak akan pernah terjadi karena Tuhan tidak akan pernah membiarkan seorang nabi menikahi seorang pelacur. Namun jika kisah Hosea tidak mungkin nyata, maka kasih Allah kepada umat-Nya juga tidaklah nyata. Bahkan kisah keselamatan juga tidak nyata karena itulah tepatnya yang telah dilakukan Kristus bagi kita!

Kisah Hosea adalah true story, senyata Allah menunjukkan kepada kita kasih-Nya yang mencari, melalui Kristus yang datang untuk mencari kita yang terhilang dan tersesat dalam dosa, “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk. 19:10). Bahkan Ia rela mati bagi kita saat kita masih berdosa (Rm 5:8). Itulah cara Allah mencintai kita dengan cara yang paling nyata dan sempurna (Yoh 3:16; 1 Yoh 4:9).

Kita yang telah mencicipi kasih Ilahi dan memiliki hati yang telah diperbarui, seharusnya hal itu menggerakkan kita untuk mencari yang terhilang. Denyut kasih Ilahi-lah yang mendorong kita untuk memberitakan Injil kepada mereka dengan segala cara dan pelbagai upaya. Sebagaimana gairah besar nan kudus dari Paulus, “Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.” (1 Kor. 9:23). Asalkan Injil diberitakan kita rela lakukan apapun. Itulah cara yang paling agung dan nyata untuk menyatakan kasih, sebagaimana yang Kristus lakukan kepada kita.[DA]

APLIKASI KEHIDUPAN

Pendalaman

Apa hubungan antara kasih Allah dengan antusiasme memberitakan Injil?

Penerapan

Bagaimana Anda mengungkapkan kasih kepada mereka yang terhilang, yang selama ini Anda lakukan?

SALING MENDOAKAN

Akhirilah Care Group Anda dengan saling mendoakan satu dengan yang lain