Bagikan artikel ini :

Trailing The Star (Mengikuti Bintang)

Matius 2:1-12

BAHAN CARE GROUP

Kristus menjadi sentral dari berita dan perayaan Natal. Maka, bagaimana sikap dan respons kita terhadap-Nya menjadi sangatlah penting. Bukan sebuah kebetulan, jika dalam teks Matius 2:1-12 menampilkan tiga kategori tokoh yang berbeda dengan respons yang berbeda, yaitu Herodes, para imam kepala dan ahli Taurat dan para Majus. Herodes, yang tampaknya memiliki hati yang mencari Kristus! Tetapi nyatanya hanyalah gimmick. Dalam paranoidnya, baginya, Kristus adalah saingan yang sangat berbahaya bagi kelanggengan kekuasaannya dan harus disingkirkan. Mulutnya mencari Tuhan. Tapi dibalik itu, dalam kedalaman hatinya penuh kebusukan, tidak ada ketulusan dan diperdaya oleh egonya yang sempit. Berbeda dengan para imam kepala dan ahli Taurat. Mereka sangat dekat dengan wahyu khusus yag menyediakan informasi penting mengenai kelahiran Mesias, tetapi ironisnya sama sekali tidak berminat untuk mencari Kristus. Mereka bersikap biasa saja. Diam, bergeming dan tenggelam ke dalam sikap apatisnya. Dari semuanya itu, kontras dengan sikap para majus. Mereka memiliki antusiasme mencari Kristus. Sikap seperti apa yang Anda tampilkan selama ini? Sikap pencari yang palsu? Pencari yang apatis, atau justru sebagai pencari yang antusias?

EKSPLORASI FIRMAN

Para majus, yang tidak disebutkan identitas secara detail nya itu ditampilkan sebagai orang yang antusias mencari Kristus. Mereka melakukan perjalanan yang tidak mudah untuk meresponi panggilan Allah lewat tuntunan bintang yang mereka lihat ketika berada di timur. Bintang itu tampak berbeda dari bintang lainnya. Ini bukan fenomena alam biasa. Ada yang mengatakan itu konjungsi Mars, Yupiter dan Saturnus, atau beberapa konjungsi planet lain. Ada yang mengatakan itu adalah planet Venus yang saat itu sedang mencapai titik puncak terangnya. Ada juga supernova atau ledakan bintang yang sangat dahsyat, kekuatannya setara 20 miliar miliar miliar megaton bahan peledak TNT. Ada juga yang mengatakan itu adalah komet. Semua itu hanyalah dugaan sebagai upaya rasionalisasi, agar tampak masuk akal. Padahal tujuan kisah ini bukan untuk memberi catatan astronomi, tetapi memberitakan bahwa Kristus telah lahir. Dengan demikian, bintang itu ada karena intervensi Ilahi, diciptakan khusus sebagai tanda yang dapat dibaca oleh para Majus, yang merupakan para astronom dan astrolog. Inilah cara Allah untuk menarik perhatian para Majus dan memanggil mereka untuk datang kepada Kristus dan menjumpai-Nya. Jika bagi Musa, itu berupa semak yang menyala-nyala di padang gurun. Bagi para gembala, itu adalah malaikat. Maka, bagi para Majus, itu berupa bintang, yang menjadi petunjuk, membimbing mereka kepada Kristus. Semua bermula dari Allah yang memanggil mereka. Mereka ada dalam jangkauan kehendak-Nya.

Berfokus pada Kristus berdasarkan pengenalan yang otentik!

Apa yang paling penting, bukanlah bintang itu sendiri dengan segala keunikan, kedahsyatan, dan kesupranaturalannya. Sebab bagaimanapun itu adalah tanda, atau instrumen, yang bertujuan untuk menandai Kristus telah lahir. Jadi, Kristuslah yang utama. Dialah tujuan bintang itu ada. Kristuslah yang menarik perhatian para Majus. Yang dalam pemahaman mereka, dengan segala keterbatasannya, bahwa bintang itu sebagai pertanda seorang raja yang dijanjikan itu telah lahir. Bagi mereka pastinya, ia bukanlah raja biasa. Dia adalah seorang Mesias, raja di atas segala raja. Darimana mereka mengetahui janji kelahiran raja Yahudi itu? Besar kemungkinan, mereka berasal dari Babel, yang sudah mengetahui tentang pengharapan datangnya Mesias, dari orang-orang Yahudi yang ditawan di Babel. Pengenalan mereka akan Kristus itulah, yang membuat mereka mencari sang Raja itu dengan tujuan yang jelas dan menjadi fokus pencariannya, yaitu menyembah-Nya, "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia” (ay. 2)!

Jangan pikir bahwa bintang itu selalu ada dan bersinar dengan setia menuntun mereka hingga ke tujuan. Justru bintang yang mereka lihat di timur itu, menghilang dari pandangan mereka. Itulah yang membuat mereka pergi ke Yerusalem. Tentunya, seorang raja lahir di pusatkerajaan, politik dan agama saat itu. Tapi mereka tidak menemukannya. Justru mereka menemukan wahyu khusus, yang menjadi penyikap rahasia dimana Mesias lahir sebagaimana dinubuatkan nabi Mikha (ay. 5-6). Setelah mereka memperoleh petunjuk dari nubuatan Allah, dikatakan akhirnya, “bintang itu”muncul kembali dan memimpin mereka ke suatu tempat dimana sang raja itu berada (ay. 9).

Kita bisa bayangkan, bintang tersebut berada cukup rendah di langit sehingga dapat membedakan rumah tempat Yesus berada dari rumah-rumah lain di sekitarnya.Hal ini semakin mempertegas jika bintang itu dicipta khusus Tuhan untuk digunakan memimpin mereka datang kepada Yesus. Tepatnya, bukan di rumah yang megah tetapi sebuah rumah yang kecil, biasa, dan sangat sederhana. Lalu yang mereka temukan di rumah adalah seorang anak dengan penampilan biasa dan terkesan lusuh. Sebagaimana anak berusia satu tahunan (6-18 bulanan) yang didampingi oleh ibuNya,-Maria. Dengan kata lain, mereka sedang berhadapan dengan sebuah kondisi di luar dari apa yg mereka bayangkan sebelumnya, alias tidak sesuai dengan gambaran ideal seorang anak raja. Namun, mereka mengenal Anak ini melampaui penampilan lahiriah. Mereka memiliki pengenalan yang otentik, sesungguhnya, akan siapa Anak itu. Mereka meyakini bahwa Ia adalah raja yang mulia dan agung. Maka, tanpa ragu dan menunggu lama mereka langsung mengungkapkan penghormatan dan kekaguman, bukan dengan kata-kata, tetapi lewat sebuah gesture penyembahan “Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia” (ay. 11).

Berkomitmen memberi yang terbaik, hidup yang di tuntun oleh kehendak-Nya!

Para Majus datang mencari Kristus untuk menyembah-Nya. Hal itu ia ungkapkan dengan memberi persembahan yang terbaik yang sudah dipersiapkan sebelumnya dan dibawa di sepanjang perjalanan panjang yang diperuntukan khusus bagi Kristus. Bukan barang biasa dan murahan. Tapi barang yang berharga dan penuh makna! Mas, Mur dan Kemenyan, sebagaimana biasanya benda-benda itu dipersembahkan secara khusus bagi bayi-bayi raja.

Persembahan utama yang diberikan parta Majus adalah diri. Mereka datang dengan komitmen memberi diri kepada Kristus. Diri yang tunduk pada kehendak Allah. Dimulai dari ketaatan-Nya mengikuti tuntunan ilahi melalui bintang. Lalu juga ketika memutuskan ikut suara Tuhan, menempuh jalan yang lain dari pada mengikuti kehendak Herodes, ”Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.” (ay. 12, bdk 8). Mereka lebih taat dan menaklukan diri kepada Allah daripada kepada Herodes. Tentu saja, pilihan yang mereka ambil bukan perkara mudah. Tetapi mereka lakukan pilihan itu karena komitmen mereka hidup sesuai dengan tuntunan kehendak Allah.

Persembahan terbaik yang dapat kita berikan bukanlah harta semahal dan seberharga apapun, yang ada pada kita. Tetapi memberi diri kepada Tuhan, yaitu hidup yang mau taat kepada pimpinan dan kehendak-Nya. Hidup mengutamakan suara Allah daripada suara siapapun, suara orang lain, dan bahkan suara diri sendiri! Itulah persembahan yang paling layak kita berikan kepada Kristus. Kita serahkan ketaatan demi ketaatan kita kepada-Nya.

Natal seharusnya bukan hanya sebuah musim tetapi sebuah sikap. Bukan sekadar selebarasi, tetapi momentum menyerahkan hidup taat kepada-Nya sebagai satu-satunya persembahan yang layak!Sebuah sindiran tajam di kemukakan oleh Benyamin Franklin, sebagai bahan refleksi kita: “How many observe Christ’s birthday! How few, his precepts! O! ’tis easier to keep holidays than commandments.”[DA]

APLIKASI KEHIDUPAN

Pendalaman

Apa makna mencari Kristus, sebagaimana yang dilakukan oleh para Majus?

Penerapan

Bagaimana membangun kehidupan yang menyembah Kristus berdasarkan pengenalan-Nya yang otentik?

SALING MENDOAKAN

Akhirilah Care Group Anda dengan saling mendoakan satu dengan yang lain.