365 renungan

Aktor rohani

Galatia 2:11-14

Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.
- Galatia 2:20

Media sosial (medsos) sudah jadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang-orang zaman now. Medsos sering dipakai sebagai sarana eksis. Tempat orang lain bisa melihat kegiatan kita, seperti liburan ke mana, makan apa atau ketemuan dengan siapa. Bahkan medsos dipakai juga sebagai sarana curhat, orang lain biar tahu pergumulan kita, sakit apa, perasaan kita sedang sedih atau senang. Padahal sebetulnya medsos hanya mewakili 10% dari kehidupan seseorang. Malah ada (memang tidak semua) orang-orang yang ingin terlihat baik dan oke di mata dunia, padahal kenyataan hidupnya tidaklah demikian.

Petrus bukanlah orang Kristen kemarin sore. Ia murid langsung dari Tuhan Yesus. Ia juga pengkhotbah hebat, gembala jemaat Yerusalem. Namun, Petrus tidak menampilkan 100% jati dirinya pada saat itu. Kelakuan Petrus bahkan disebut munafik oleh Paulus karena apa yang diimani oleh Petrus tidak sama dengan apa yang dilakukannya. Kata “munafik” pada masa lalu dipakai untuk menunjuk kepada seorang aktor yang bermain di teater. Seorang aktor berperan bukan sebagai dirinya sendiri, sekalipun tahu jati dirinya siapa. Begitu pun dengan Petrus. Ia pasti sadar jati dirinya adalah orang Kristen dan memahami Injil bukan hanya terbatas kepada orang Yahudi saja, tetapi termasuk untuk orang non-Yahudi (Kis. 15:7-11). Namun, tindakannya saat itu berbanding terbalik dengan jati dirinya. Petrus seperti seorang aktor rohani.

Jangan sampai kita kehilangan jati diri. Ingatlah selalu, kita adalah anak Tuhan dan saksi-Nya. Memang untuk mempraktikkannya tidaklah mudah, tapi jangan biasakan berdalih, “Kalau saya tidak lakukan ini saya kehilangan pekerjaan saya.”; “Ya saya selingkuh juga, karena suami saya duluan selingkuh.”; “Kalo saya nggak ikut-ikutan kelakuan buruk mereka, saya nggak diterima mereka.” Sebagai anak Tuhan, kita wajib menampilkan jati diri Kristiani kita, jika tidak kita berarti telah gagal menjadi saksi-Nya. Kita bukanlah aktor rohani, yang bertingkah seperti bunglon yang menyesuaikan diri dengan situasi yang diingini dunia. Kita adalah saksi Kristus. Hiduplah sesuai identitas kita.

Refleksi Diri:

  • Apakah Anda pernah mengalami situasi dilematis, di mana Anda harus ikut arus dunia atau mengikuti kehendak Tuhan? Apa yang Anda lakukan saat itu?
  • Bagaimana wujud nyata kesetiaan Anda, hidup di dalam jati diri sebagai anak Tuhan dalam keseharian?