365 renungan

Bukan sekadar janji manis

Bilangan 30:1-5

Apabila seorang laki-laki bernazar atau bersumpah kepada TUHAN, sehingga ia mengikat dirinya kepada suatu janji, maka janganlah ia melanggar perkataannya itu; haruslah ia berbuat tepat seperti yang diucapkannya.
- Bilangan 30:2

Konteks ayat yang kita baca adalah peraturan Tuhan bagi orang yang bernazar atau berjanji. Baik janji itu diucapkan oleh suami kepada istri dan sebaliknya, atau orangtua kepada anak dan sebaliknya. Perluasan aturan selanjutnya juga tentang semua janji tinggi yang harus dipenuhi dan tekad kuat yang harus dibuktikan. Itulah nazar yang harus dipenuhi.

Saya melihat seorang wanita dengan mata berkaca-kaca, sementara yang pria tertunduk diam. Lalu wanita itu berteriak, “Memang pandai kamu bersilat kata, memutar balikkan fakta!” Saya menyaksikan itu semua di depan mata. Ooh, rupa-nya ini kisah tentang janji yang dikhianati, hati yang dilukai. Kok saya jadi terbawa emosi karena tak tega melihat wanita tersebut terluka akibat dikhianati oleh janji yang diingkari.

Mengapa seseorang sebetulnya berani berjanji? Kenapa orang yang lain memberi harapan yang tak pasti? Kenapa mesti berjanji setia, kalau akhirnya diingkari? Coba kita ingat, pernahkah kita membuat janji? Janji setia, janji melayani, janji datang, janji membantu, dan sebagainya. Janji manis akan begini dan begitu. Janji setia sehidup semati, kenyataannya membuat hidup setengah mati. Manusia acap kali lain di bibir, lain di hati.

Jangan terlalu cepat berjanji kalau tak mampu kita tepati. Dan sebaliknya, jangan terlalu cepat terbuai dengan janji. Jangan telan bulat-bulat janji manis itu, supaya tidak terlalu sakit ketika menghadapi kenyataan, supaya tidak hancur ketika janji diingkari. Hanya Tuhan yang selalu menepati janji dan tidak berubah hati-Nya.
Bagaimana dengan umat Tuhan? Aah, terlalu sering saya dapati janji manis yang hanya pemanis bibir belaka. Umat Tuhan pandai berjanji tapi soal menepatinya, nah itu lain lagi. Berjanji akan setia kepada Tuhan, tapi kenyataannya sering ingkar di tengah perjalanan iman. Berjanji akan melayani dengan setia jika disembuhkan, tapi setelah sembuh malah melupakan pelayanan.

Ayat di atas berkata bahwa janji harus ditepati. Karena itu, jangan mudah berjanji. Pikirkan dulu dalam-dalam sebelum mengucap janji. Jika Anda tidak yakin bisa menepatinya, lebih baik jangan berjanji.

Refleksi Diri:

  • Apakah Anda pernah mengucapkan janji yang sampai saat ini belum Anda penuhi?
  • Bagaimana Anda bisa lebih bijak untuk mengucapkan janji?