365 renungan

Ditinggalkan tapi bersukacita (1)

Lukas 24:50-53

Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah.
- Ibrani 10:12

Mengapa murid-murid bersukacita meskipun ditinggalkan Yesus? Bukankah ditinggal seseorang yang selama ini hidup dekat dengan mereka seharusnya membuat bersedih? Alasan paling umum yang dikemukakan adalah mereka akan berjumpa dengan Yesus kembali. Dia akan datang kembali. Namun, bukan saja perjumpaan kembali yang membuat mereka bersukacita. Ada berkat-berkat lainnya yang akan mereka dapatkan. Berkat apa sajakah itu? Mari kita bahas dalam tiga hari perenungan ke depan.

Pertama, ketika Yesus naik ke sorga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, Dia mengesahkan untuk selama-lamanya karya salib. Dia menyatakan bahwa pengorbanan-Nya sempurna untuk menebus dosa manusia. Ibrani 10:11-12 menyatakan, “Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah...”

Setiap imam berdiri dalam memimpin upacara korban. Mengorbankan berulangulang domba atau lembu. Namun, Kristus membuat satu kali pengorbanan. Satu kali dan tuntas. Setelah itu ia duduk. Duduk artinya selesai, tuntas. Karya keselamatan Kristus bagi kita sudah tuntas.

Jadi jangan khawatir tentang keselamatan kita. Seolah kalau berdosa, nanti kita tidak selamat. Yesus sudah tuntaskan karya keselamatan bagi kita. Dosa sebelum kita percaya dan sesudah percaya diampuni Yesus. Dosa tidak lagi memengaruhi status keselamatan kita. Jangan percaya kata orang kalau kita berdosa jadi tidak selamat. Keselamatan hilang.

Namun, itu tidak berarti, “Kalau gitu, kita buat dosa aja. Gak ngaruh kok pada keselamatan.” Ini salah besar! Kalau Anda menghargai betapa besar pengorbanan Kristus demi pengampunan dosa, maka kita tidak akan main-main dengan dosa. Kalau saya tidak bisa berenang dan tercebur di laut, hampir mati, lalu ada seorang menyelamatkan saya, apakah besok-besok saya akan sengaja main-main ke laut, menceburkan diri, dan beranggapan pasti ada yang akan menolong saya? Coba kita renungkan dalam-dalam pengertian ini. Tuhan Yesus memberkati.

Refleksi Diri:

  • Apakah Anda sudah menerima karya keselamatan yang Tuhan Yesus anugerahkan kepada kita semua, manusia berdosa?
  • Jika sudah, bagaimana cara Anda menghargai keselamatan tersebut?