365 renungan

Enggan memuji Tuhan

Keluaran 15:1-21

Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.
- Efesus 5:19b

Saya mau jujur, suara saya kalau nyanyi tidak bagus. Saya pernah mencoba beryanyi sewaktu khotbah tapi hanya ingat nada awalnya, padahal sudah berlatih keras semalaman. Nada selanjutnya saya lupa, akhirnya saya menyanyi dengan versi sendiri. Saya lihat dari atas mimbar ada ibu yang meneteskan air mata, mungkin dalam hatinya berpikir, gimana cara berhentiin hamba Tuhan ini nyanyi dengan nada ngaco? Pengalaman tersebut tak terlupakan dan saya jadi agak trauma kalau menyanyi sendirian sewaktu khotbah. Meski begitu, saya selalu bernyanyi bersama jemaat saat beribadah. Sayangnya, dari pemandangan saya di atas mimbar, ada banyak jemaat yang tidak tergerak untuk ikut bernyanyi memuji Tuhan. Pandangan mereka bagai sedang nonton ibadah, mirip seperti menyaksikan sebuah pagelaran musikal.

Saat Musa dan bangsa Israel berhasil keluar dari Mesir atas pertolongan Tuhan, mereka melantunkan nyanyian bagi Tuhan. Perikop ini adalah nyanyian yang pertama kali ada di dalam Alkitab. Tidak diceritakan apakah sebagian bangsa Israel yang menyanyi memuji Tuhan dan sebagian lagi hanya menonton. Namun, seluruh bangsa Israel telah mengalami pengalaman yang luar biasa bersama dengan Tuhan. Menyanyi bagi Tuhan adalah sebuah respons atas anugerah Tuhan dalam hidup mereka.

Tuhan Yesus pun pernah menyanyi (Mat. 26:30). Dia bernyanyi saat kita menyanyi di dalam ibadah. Menyanyi bagi Tuhan adalah ekspresi dari seorang yang dipenuhi Roh Kudus (Ef. 5:18-19). Seseorang yang sudah mengalami kebaikan, kemurahan, dan pertolongan Tuhan, pasti memiliki kerinduan untuk memuji Tuhan.
Ibadah adalah kesempatan kita berjumpa dengan Tuhan Yesus. Di dalam ibadah kita bisa memandang kebesaran-Nya, kasih-Nya, dan kebaikan-Nya. Kita bernyanyi bagi Dia. Janganlah enggan bernyanyi untuk memuji Tuhan. Firman Tuhan banyak sekali memberi ajakan untuk memuji Tuhan (Mzm. 40:4; 104:33; 96:1-2).
Paulus dan Silas pun bernyanyi ketika di dalam penjara (Kis. 16:25-26). Karena itu, meskipun suara kita kurang merdu, itu bukanlah yang utama. Bagaimana nyanyian keluar dari dalam hati yang sudah mengalami Tuhan, itulah yang terpenting.

Refleksi Diri:

  • Apa yang membuat Anda enggan untuk bernyanyi memuji Tuhan di dalam ibadah?
  • Mengapa bernyanyi dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan dalam ibadah itu penting?