365 renungan

Hadapi dengan senyuman

Ayub 29

Aku tersenyum kepada mereka, ketika mereka putus asa, dan seri mukaku tidak dapat disuramkan mereka.
- Ayub 29:24

Permisi dulu, sebelum membaca renungan ini, bisa tolong ngaca dulu? “Maksud-nya, Bu?” Iya saya mohon bapak, ibu, saudara sekalian bercermin dulu sebentar. Satu, dua, tiga… sudah? Oke, tadi sewaktu ngaca, bagaimana wajah Anda? Apakah merengut? Sinis? Datar atau tersenyum?

Saudaraku, kita semua pasti pernah mendengar istilah ini. Wajah cerminan hati. Apa yang tadi Anda lihat di cermin adalah tampilan hati kita. Mungkin Anda bisa berkata, “Ya saya lagi bete, lagi ngga mood, kesal karena kerjaan numpuk, pikiran ruwet, makanya muka saya kusut ngga karuan gini.”

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, bukan kerjaan berat, masalah yang banyak, rekan kerja yang rese, dan alasan-alasan lainnya yang jadi penyebab utama wajah kita tidak tersenyum. Ini adalah masalah respons kita terhadap situasi yang terjadi. Reaksi itulah yang membuat kita jutek, muka sumpek, tak ada keceriaan di wajah.

Ayub mampu tersenyum. Walaupun sedang dirundung masalah, tekanan dari keluarga, masalah hidup, lingkungan tidak mendukung, tapi itu tidak dapat memadamkan senyum Ayub. Kok bisa? Karena hati Ayub terpaut hanya kepada Allah, bukan pada masalah dan tekanan yang dihadapinya. Problemnya bukan di luar diri kita, melainkan di dalam diri kita. Kondisi kita bisa suram, kesehatan merosot tajam, perkataan orang-orang mulai menghujam, dan akhirnya hati menjadi remuk redam. Tapi tetap ingat, kendalinya ada di dalam hati.

Ayub bisa tersenyum walaupun dikelilingi oleh keputusasaan. Ayub bisa tetap berseri saat yang lain mulai suram. Bukan karena ia tidak ada masalah. Ayub punya banyak masalah, airmata, ketidakpengertian, kepedihan hati, karena kehilangan anak-anaknya. Namun, ia mampu tersenyum lho. Semua karena Ayub memiliki relasi yang benar dengan Tuhan.

Dalam hidup ini pasti ada tantangan, masalah, dan tekanan. Jangan kalah dengan situasi yang mengurung Anda, kendalinya ada di dalam diri Anda. Tetaplah berada dekat di samping Tuhan Yesus maka Anda akan bisa tetap tersenyum dalam segala musim hidup.

Refleksi Diri:

  • Apa kesulitan hidup yang akhir-akhir ini membuat Anda sulit untuk tersenyum?
  • Apa yang akan Anda lakukan supaya tidak terpengaruh situasi yang menekan dan tetap bisa berelasi yang benar dengan Tuhan Yesus?