365 renungan

Kecewa dengan Tuhan? (2)

Mazmur 34:12-23

Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!
- Ratapan 3:22-23

Ketika Tuhan Yesus ditanya, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?” (ay. 20b), Dia menjawab, “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.” (ay. 22). Jawaban Yesus sepertinya gak nyambung. Namun, orang Israel seharusnya mengerti jawaban ini. Coba lihat Yesaya 29:18; 35:5-6; 61:1-2. Ayat-ayat ini berbicara tentang Mesias yang dinubuatkan dan Tuhan Yesus menggenapinya.

Yesus membawa Yohanes melihat kembali tujuan kedatangan-Nya di dunia. Dia mengajak melihat seluruh keberadaan diri-Nya, bukan secuplik-secuplik. Jawaban Yesus tidak melepaskan Yohanes dari penjara dan hukuman mati Herodes, tetapi mengajaknya untuk melihat karya-Nya dan kembali memercayai-Nya.

Saat kita kecewa kepada Tuhan, di situ tempat yang tepat untuk melihat siapa Tuhan bagi kita. Saat kecewa, lihatlah seluruh karya-Nya, apakah kasih-Nya hanya setengah-setengah kepada kita? Salib adalah bukti kasih yang terbesar dari-Nya untuk kita. Tuhan Yesus sendiri menyerahkan diri-Nya, Bapa pun membiarkan Anak-Nya yang tunggal itu ada dalam penderitaan yang paling mengerikan. Pada saat kecewa itulah kita justru bisa melihat kembali sebesar apa kasih Yesus kepada kita.

Apakah kita layak untuk diselamatkan? Apakah layak Tuhan Yesus mengorbankan diri-Nya untuk orang seperti kita? Jawabannya: tidak, semua hanya karena kasih karunia-Nya. Salib adalah tempat terbaik untuk kita datangi saat mempertanyakan kasih-Nya.

Pengkhotbah legendaris Charles Spurgeon dalam penderitaannya berkata, “Aku telah memilih Tuhan dalam tungku penderitaan. Kita dipilih bukan dalam istana tetapi kita dipilih dalam tungku tempat keindahan duniawi dihancurkan oleh kekuatan Allah yang melelehkan kita agar kita menjadi objek kemuliaan-Nya.” Spurgeon tahu artinya mengikut Tuhan Yesus bahwa seringkali ia tidak lepas dari penderitaan, yang terpenting nama Tuhan dimuliakan. Penderitaan tidak bisa memisahkan kita dari kasih-Nya.

Refleksi Diri:

  • Apa arti pengorbanan Kristus buat Anda?
  • Adakah dalam hidup Anda sesuatu yang lebih berharga daripada Tuhan Yesus?