365 renungan

Mental jalan pintas

2 Korintus 12:7-10

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”
- 2 Korintus 12:9

Seorang bercerita tentang sakit yang dialaminya. Sakitnya cukup serius apalagi jika dibiarkan berlarut-larut. Kebetulan orang ini masih percaya pada pengobatan tradisional, ia mencoba-coba mencari penyembuhan melalui pengobatan tradisional. Selain itu, ia juga mengharapkan mukjizat kesembuhan. Saya mendorongnya untuk menempuh pengobatan medis yang lebih jelas, tetapi ia tak bergeming.

Saya ingin menyebut mereka yang bermental selalu minta mukjizat sebagai orang bermental jalan pintas. Tidak mau ikut proses. Merasa saya anak Raja dan karena itu layak menikmati fasilitas Raja. Saya diistimewakan. Orang lain sakit dan terus sakit bahkan sampai mati, saya sakit dan diberi kesembuhan melalui mukjizat. Mental anak Sang Raja.

Kepada Anda yang selalu meminta mukjizat, pikirkan beberapa hal berikut ini.
Mukjizat terjadi bukan begitu saja. Anda tetap harus berusaha. Masalahnya, sejauh mana Anda telah berusaha mengatasi masalah Anda. Menjalani pengobatan medis bukanlah tanda Anda tidak beriman. Beriman bukan berarti melepaskan diri dari pengobatan medis. Jangan sampai Anda meminta mukjizat karena Anda takut menderita atau takut menanggung penderitaan yang berat dan panjang karena efek samping proses pengobatan (lebih-lebih jika penyakitnya kanker, yang dibayangkan orang adalah penderitaan berat karena kemoterapi/radioterapi yang bisa terus berlangsung setelah pengobatan selesai).

Tuhan memberi rasio, hikmat. Gunakan sebaik-baiknya. Tuhan masih mengerjakan mukjizat. Ya, pasti. Akan tetapi apakah Anda tahu kapan Tuhan akan mengerjakan itu? Kepada siapa? Kepada setiap orang yang beriman? Anda yakin? Bahkan Rasul Paulus pun tidak mengalami mukjizat seperti yang disampaikannya melalui perikop bacaan hari ini. Apakah Paulus kurang beriman? Jadi, selama Anda tidak tahu kepada siapa Tuhan akan beri mukjizat, berlakulah seolah-olah Anda tidak akan menerimanya. Tentu Anda berdoa dan berharap, tetapi Anda tidak bisa memastikan. Bukan Anda penentunya. Sambil Anda berharap, berusahalah seolah-olah usaha Anda-lah yang menentukan pemulihan Anda. Perjuangan Anda bukan tanda Anda tidak beriman.
Justru hanya berdiam diri adalah tanda kenaifan iman Anda. Ayo lakukan sesuatu, mukjizat tidak terjadi begitu saja. Ada suatu tindakan yang menjadi bagian Anda.

Refleksi Diri:

  • Seberapa besar Anda percaya atas perkataan Yesus bahwa dalam kelemahan Anda justru kuasa-Nya bekerja dengan sempurna?
  • Apakah Anda sudah melakukan usaha dengan iman agar mukjizat bisa terjadi atas pemulihan kondisi yang Anda hadapi sekarang?