365 renungan

Sabar dalam penantian

Mazmur 130

Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti dan aku mengharapkan firman-Nya.
- Mazmur 130:5

Anda pernah menanti sesuatu atau seseorang? Bagaimana rasanya? Tidak enak bukan, karena serba tak pasti. Dalam menanti diperlukan kesabaran tingkat tinggi. Sungguh tak mudah untuk menanti. Selain butuh ketahanan, menanti juga perlu kesetiaan.

Menanti itu sebuah seni. Seni menata hati dan seni menguatkan hati serta menyakini bahwa akan datang yang kita nanti. Dan setelah menanti terkadang kita harus menerima kenyataan yang mungkin tidak sesuai harapan. Dua ujian paling berat di dalam hidup: sabar dalam menanti waktu yang pas dan keberanian untuk menerima bahwa apa yang kita nantikan ternyata sia-sia.

Pemazmur juga pernah menanti, jiwanya berseru dalam penantian. Seperti di dalam ayat emas kita hari ini, pemazmur sedang menanti jawaban dari Tuhan, ia sangat mengharapkan firman-Nya berbicara. Penantian akan Tuhan menghasilkan kekuatan bagi kita dalam menghadapi segala permasalahan yang ada. Satu hal yang harus kita lakukan dalam pergumulan yang kita hadapi adalah tetap sabar dan tekun dalam menantikan jawaban dari Tuhan.

Rasanya kuingin beralih karena sudah mulai lelah kumenanti. Ingin juga rasanya kumemilih berhenti dari penantian ini.

Ooh rupanya kutak sendiri, ada banyak orang juga yang sedang menanti. Ada yang menanti pujaan hati, yang lain menanti bulan segera berganti. Banyak hal bisa kita pelajari dari menanti.

Aku jadi kenal diri dan tahu tingkatan batas kesabaranku. Jika diambil hikmatnya, kita juga bisa mengenal watak asli seseorang dari sikapnya saat sedang menanti. Bisa terlihat apakah ia orang yang sabar dan tenang. Kita juga bisa tahu seseorang kreatif dalam mengisi waktu saat menanti. Terakhir, kita bisa lihat apakah ia orang yang produktif atau tidak.

Sungguh bukan hal yang mudah lho untuk sabar menanti. Seperti diri saya ini juga sedang menanti. Mana sich? Biasanya jam segini sudah terdengar suara “tek..tek.. tek.. tek..”. Itu suara yang saya nanti karena perut saya sungguh sudah tak tahan lagi, lapar setengah mati. Yuk, sabar menanti.

Refleksi Diri:

  • Situasi apa yang baru-baru untuk menguji kesabaran Anda dalam menanti jawaban Tuhan?
  • Hikmat apa yang bisa Anda ambil dari pengalaman penantian tersebut?