Pembinaan

Membangun kebersamaan kristiani

MANUSIA SEBAGI MAKHLUK SOSIAL

Menciptakan kebersamaan sebagai sesama anak-anak Tuhan di dalam komunitas Kristen, menjadi PR (pekerjaan rumah) yang panjang dan belum terselesaikan secara keseluruhan. PR ini, jelas tidak mudah untuk dikerjakan dan direalisasikan secara penuh. Dibutuhkan perjuangan, pengorbanan dan komitmen yang kuat, tinggi, luhur dan mulia, yang harus senantiasa disadari dan dimiliki oleh setiap orang percaya.

Allah pada saat menciptakan dan menempatkan manusia di dalam dunia ini sebagai makhluk sosial, berkata: "Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku (Allah) akan menjadikan seorang penolong baginya yang sepadan dengan dia" (Kej 2:18). Esensi yang Allah ungkapkan adalah manusia tidak dapat hidup sendirian (soliter), tetapi bersama (komunitas).

Istilah "yang sepadan", ternyata mempunyai konotasi yang indah dan luas, yaitu dalam pengertian sama-sama sebagai manusia ciptaan Allah, tetapi saat diciptakan Allah, "disengaja" dibuat dengan pribadi-pribadi berbeda. Tidak ada yang sama, apalagi persis. Disini ada konsep teologi tentang "kekayaan" dari ciptaan Allah yang sangat mengagumkan, yang selalu membuat takjub dan terpesona; karena karya Allah orisinil dan tidak dapat dijiplak oleh siapapun.

SAMA TAPI BERBEDA

Biarpun dikatakan sama tapi perbedaan, tidak hanya menyangkut gender, tetapi kepribadian, karakter, pemikiran, emosi, kehendak, hati, susunan tubuh, sosial, suku, darah, bahasa, budaya, warna kulit, pendidikan, ekonomi, pekerjaan, talenta dsb. Yang perlu diingat, perbedaan selalu menghadirkan keindahan dan keluasan didalam kesepadanan sebagai sesama manusia. Hal ini patut dan layak disyukuri serta diterima tanpa dibenturkan, dipertentangkan satu dengan yang lainnya.

Kesepadanan yang berbeda ini, harus dijadikan penolong bukan musuh yang saling menyerang, menjelekkan, membully dan memfitnah. Sebaliknya kita harus hadir sebagai sesama, rekan, teman dan saudara, yang ada didalam Tuhan Yesus. Inilah komunitas sehat, yang menciptakan kerukunan, keakraban dan kerja sama di dalam membangun tubuh Kristus. Semangatnya bukan lagi Aku yang lebih ditonjolkan, melainkan kita atau kami sebagai anak-anak Tuhan. Mengedepankan kebersamaan, akan menolong setiap pribadi anak Tuhan untuk dapat melihat keragaman potensi yang tersimpan pada setiap orang yang Tuhan sudah karuniakan di dalam komunitas Kristen.

ANCAMAN YANG MENGERIKAN

Perusak dan penghancur terhebat didalam kebersamaan adalah masuk dan hadirnya paham "isme-isme" di dalam kehidupan manusia, seperti: Egoisme/pementingan diri sendiri, fanatisme/keyakinan yang berlebih-lebihan, anarkisme/kekerasan dan penindasan disertai ancaman, sektarisme/perbedaan dalam golongan, sekulerisme/pemisahan dengan agama, hedonisme/kesenangan dalam kenikmatan, konsumerisme/kesenangan di dalam berbelanja dan masih banyak lagi yang bisa diungkapkan. Semua ini racun yang mematikan bagi kehidupan bersama. Iblis dan dunia memakainya untuk menghancurkan kebersamaan didalam keluarga, gereja, masyarakat dan bangsa.

Kehancuran ini membuat manusia hidup dan ada didalam kesendiriannya masing-masing, tidak mau diganggu dan disibukkan dengan urusan dan keberadaan orang lain. Tembok-tembok pemisah dibangun dan didirikan dalam keluarga, pekerjaan, agama, gereja, masyarakat dan bangsa, untuk membangun teritorial masing-masing, yang tidak boleh dilanggar untuk dimasuki oleh orang lain

PRINSIP KEBENARAN

Ungkapan "berdua lebih baik dari pada seorang diri","tidur berdua menjadi lebih panas" serta "tali tiga lembar tidak mudah diputuskan " (Pkh 4:9,11,12) menjadi kebenaran umum (general truth). Kebenaran ini, hanya dapat dipahami secara tepat, ketika dihubungkan dengan kebenaran khusus (special truth), yaitu: Kesatuan manusia (human unity), sebagai sesama gambar dan rupa Allah (the image of God). – baca Kej 1:26-27.

Kebenaran ini Allah ungkapkan sendiri, yaitu: "Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita". Kita menjadi penyebutan "jatidiri" Allah saat penciptaan manusia. Ini artinya tidak tunggal, tapi majemuk, lebih dari satu Pribadi. Bahasa teologianya: "A Plural of Majesty" (keagungan yang jamak). Jelas menunjuk pada pribadi dari Tritunggal, yaitu: Bapa, Anak dan Roh Kudus. Eksistensi Allah bukanlah sendirian (solitary being), tetapi keberadaan yang bersekutu dengan "yang lain" (Fellowship with "others")

Jelas ini kebenaran yang luar biasa, yaitu: Dasar Allah menciptakan manusia adalah menurut pola Allah sendiri, yaitu: Tidak sendirian tapi perlu "yang lain" untuk bersama-sama (fellowship together). Yang perlu diingat! "yang lain" disini bukanlah menunjuk kepada binatang, tumbu-tumbuhan, benda-benda penerang tetapi yang sepadan, yaitu sesama manusia yang lain.

Artinya hakekat dari manusia yang Allah ciptakan adalah bersama dan bersekutu dengan sesama manusia yang berbeda, tapi sepadan yang adalah gambar dan rupa Alllah. Sehingga dapat dikatakan bahwa kesamaan antara Allah Tritunggal dengan manusia yaitu sebagai sama-sama pribadi yang esensinya butuh pribadi yang lain. Inilah yang disebut dengan ketergantungan yang mengikat satu dengan yang lain, artinya membutuhkan satu dengan yang lain. Inilah kekuatan yang sejati kebersamaan.

YANG HARUS DILAKUKAN

Kasih menjadi semen yang menguatkan relasi didalam kebersamaan. Kasih adalah esensi dari karakter atau sifat Allah, karena Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8). Kasih menjadi pengikat dan pemersatu hubungan Allah Tritunggal, sehingga menghadirkan "kebersamaan kekal" (eternal togetherness). Yang pasti Kasih Allah ini ada pada pribadi-pribadi Tritunggal yang adalah sama-sama Allah, yang juga sama-sama memiliki kasih Allah yang sempurna.

Kasih Allah harus dihadirkan, dalam kebersamaan. Tuhan Yesus di Matius 22:37-40 memberikan perintah kepada setiap orang percaya untuk: Mengasihi Tuhan dan sesama. Kasih itu hanya dapat terjadi, pada saat Allah yang adalah kasih dihadirkan dan dijadikan Tuhan terlebih dahulu dalam kehidupan ini. Itu artinya bagaimana kasih Allah dirasakan dan dialami terlebih dahulu. Kasih yang tidak bersyarat, tapi yang rela memberikan penebusan dan keselamatan bagi orang berdosa. Inilah kesejatian kasih Allah, yaitu: "Allah terlebih dahulu mengasihi kita dan memberikan anakNya untuk pendamaian" (Yoh 3:16, 1 Yoh 4:10). Kalau mengalami kasih, harus terlebih dahulu ada didalam kasih itu. Kasih Allah menjadi pengikat yang menyatukan relasi dengan Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Mengasihi Allah pasti akan memberikan "buah kasih" yaitu mengasihi sesama. "Buah" yang harus ditemukan didalam kehidupan anak Tuhan. Kasih Allah memampukan setiap anak Tuhan mewujudkan dan mengkongretkan kasih Allah didalam tindakan kasih kepada sesama. Kuncinya pasti: Hidup didalam kasih Allah dan saling mengasihi pasti menghadirkan kebersamaan yang menghidupkan (1 Yoh 4:7). Soli Deo Gloria (LHP)