Bagikan artikel ini :

Panggilan Tuhan kepada Orang Kristen untuk Memberitakan Injil bagi Dunia Ini

Injil adalah kabar baik tentang keselamatan yang Allah berikan kepada manusia melalui karya penebusan Yesus Kristus di kayu salib. Injil adalah pusat dari iman Kristen dan dasar dari gereja Tuhan. Injil juga adalah pesan yang harus disampaikan oleh orang Kristen kepada dunia yang belum mengenal Allah. Dengan demikian, memberitakan Injil adalah panggilan Tuhan kepada setiap orang Kristen yang mengasihi-Nya dan taat kepada-Nya.

Bagaimana kita dapat memahami dan menjalani panggilan Tuhan ini dengan benar? Apa dasar Alkitabiah, motivasi, dan cara yang efektif untuk memberitakan Injil bagi dunia ini? Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan yang dirangkum dari berbagai sumber (artikel dari internet).

Dasar Alkitabiah

Apa alasan yang Alkitabiah terhadap panggilan Tuhan kepada orang Kristen untuk memberitakan Injil bagi dunia ini? Beberapa alasan, antara lain:

Pertama, perintah Yesus Kristus. Sebelum Yesus naik ke surga, Ia memberikan perintah yang dikenal sebagai Amanat Agung kepada para murid-Nya, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Barangsiapa percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi barangsiapa tidak percaya akan dihukum” (Markus 16:15-16; lihat juga Matius 28:18-20; Lukas 24:46-49; Kisah Para Rasul 1:8). Dari perintah ini, kita dapat melihat bahwa memberitakan Injil adalah tugas dan tanggung jawab yang diberikan oleh Yesus kepada gereja-Nya.

Kedua, kasih Allah kepada dunia. Allah tidak menghendaki siapa pun binasa, tetapi supaya semua orang berbalik dan beroleh hidup yang kekal (2 Petrus 3:9). Oleh karena itu, Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, ke dunia untuk mati bagi dosa-dosa manusia dan bangkit dari kematian, sehingga barangsiapa percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).

Ketiga, kehendak Allah bagi gereja. Gereja adalah tubuh Kristus, yang terdiri dari orang-orang yang dipanggil oleh Allah dari segala bangsa, suku, bahasa, dan warna kulit untuk menjadi milik-Nya. Gereja adalah saksi Allah di dunia, yang harus menunjukkan kemuliaan, kebenaran, dan kasih-Nya kepada dunia. Gereja juga adalah garam dan terang dunia, yang harus mencegah dunia menjadi busuk dan gelap oleh dosa dan kejahatan. Gereja juga adalah pengantin Kristus, yang harus bersiap-siap untuk menyambut kedatangan-Nya kembali dengan cara hidup kudus dan saleh. Dengan demikian, memberitakan Injil adalah salah satu cara bagi gereja untuk memenuhi kehendak Allah bagi dirinya.

Motivasi

Apa motivasi yang menggerakkan kita untuk memberitakan Injil? Motivasi yang benar akan membuat kita lebih bersemangat, berani, dan berbuah dalam memberitakan Injil. Beberapa motivasi yang dapat kita miliki adalah:

Pertama, kasih kepada Allah. Kasih kepada Allah adalah motivasi utama yang harus kita miliki dalam memberitakan Injil. Kita harus mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal, dan kekuatan kita (Markus 12:30). Kita harus mengasihi Allah karena Ia lebih dahulu mengasihi kita dan mengurbankan Anak-Nya bagi kita (1 Yohanes 4:19; 10). Kita harus mengasihi Allah karena Ia adalah sumber segala yang baik dan sempurna (Yakobus 1:17). Kita harus mengasihi Allah karena Ia adalah Allah yang berkuasa, bijaksana, setia, dan pengasih (Mazmur 145:3-9). Kita harus mengasihi Allah karena Ia adalah Bapa kita yang mengasihi dan mengurus kita (Matius 6:25-34). Kita harus mengasihi Allah karena Ia adalah Tuhan kita yang berhak atas hidup kita (Roma 14:7-9). Kasih kepada Allah akan membuat kita taat kepada perintah-Nya untuk memberitakan Injil (Yohanes 14:15). Kasih kepada Allah juga akan membuat kita berbagi kasih-Nya kepada orang lain melalui Injil (2 Korintus 5:14).

Kedua, kasih kepada sesama. Kita harus mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri (Markus 12:31). Kita harus mengasihi sesama kita tanpa membeda-bedakan, tanpa memandang muka, dan tanpa pamrih (Yakobus 2:1-9; 1 Korintus 13:4-7). Kita harus mengasihi sesama kita dengan tulus, dengan mengasihi kebenaran dan membenci kejahatan (Roma 12:9). Kita harus mengasihi sesama kita dengan mengasihi jiwa mereka, dengan menginginkan keselamatan mereka (Roma 10:1). Kita harus mengasihi sesama kita dengan mengasihi hidup mereka, dengan berbuat baik kepada mereka dan menolong keperluan mereka (Galatia 6:10). Kasih kepada sesama akan membuat kita peduli kepada orang-orang yang belum mengenal Allah dan Injil-Nya. Kasih kepada sesama juga akan membuat kita bersaksi dengan hidup dan perkataan kita tentang kasih Allah yang telah kita alami.

Ketiga, kemuliaan Allah. Kita harus menginginkan agar nama Allah dipermuliakan di seluruh dunia (Matius 6:9). Kita harus menginginkan agar kerajaan Allah datang dan kehendak Allah terjadi di bumi seperti di sorga (Matius 6:10). Kita harus menginginkan agar Injil Allah tersebar ke seluruh bangsa dan suku, sehingga semua orang dapat mengenal dan menyembah Allah (Wahyu 7:9-10). Kita harus menginginkan agar gereja Allah bertumbuh dan dibangun dalam iman, kasih, dan pengharapan (Efesus 4:11-16). Kita harus menginginkan agar Allah mendapat pujian, hormat, dan syukur dari semua ciptaan-Nya (Roma 11:36). Kemuliaan Allah akan membuat kita bersemangat dan berani dalam memberitakan Injil, karena kita tahu bahwa itu adalah tujuan utama dari hidup kita. Kemuliaan Allah juga akan membuat kita rendah hati dan bergantung kepada-Nya, karena kita tahu bahwa itu adalah kuasa dan anugerah-Nya yang memampukan kita.

Cara yang Efektif

Bagaimana cara yang efektif untuk memberitakan Injil? Cara yang efektif adalah cara yang sesuai dengan kehendak Allah, kondisi orang yang kita Injili, dan situasi yang kita hadapi. Berikut adalah beberapa tips yang dapat kita terapkan dalam memberitakan Injil dengan cara yang efektif:

Pertama, berdoa. Doa adalah senjata rohani yang paling penting dalam memberitakan Injil. Tanpa doa, kita tidak akan memiliki kuasa, hikmat, dan pengarahan dari Allah. Doa juga menunjukkan ketergantungan kita kepada Allah, yang merupakan sumber segala kemungkinan. Kita harus berdoa sebelum, selama, dan sesudah memberitakan Injil. Kita harus berdoa untuk diri kita sendiri, agar kita dapat menjadi saksi yang setia, berani, dan berbuah. Kita harus berdoa untuk orang yang kita Injili, agar hati mereka dibuka dan ditumbuhkan oleh Roh Kudus. Kita harus berdoa untuk situasi yang kita hadapi, agar kita dapat menemukan kesempatan, cara, dan waktu yang tepat untuk memberitakan Injil.

Kedua, beradaptasi. Beradaptasi berarti menyesuaikan diri dengan orang yang kita Injili, tanpa mengorbankan kebenaran Injil. Beradaptasi memungkinkan kita untuk menjangkau orang-orang dari berbagai latar belakang, budaya, dan kebutuhan. Beradaptasi juga memungkinkan kita untuk menggunakan berbagai metode, media, dan bahasa yang relevan dan menarik. Beradaptasi membutuhkan pengetahuan, pengertian, dan keterampilan yang dapat kita peroleh dari pengalaman, pembelajaran, dan bimbingan. Rasul Paulus adalah contoh orang yang pandai beradaptasi dalam memberitakan Injil (baca 1 Korintus 9:20-22).

Ketiga, bersaksi. Bersaksi berarti memberikan kesaksian tentang apa yang telah Allah lakukan dalam hidup kita. Bersaksi adalah cara yang efektif untuk memberitakan Injil, karena bersaksi adalah cerita nyata yang dapat menyentuh hati dan pikiran orang. Bersaksi juga menunjukkan bukti dari kebenaran Injil, karena bersaksi adalah buah dari iman kita kepada Kristus. Bersaksi membutuhkan kejujuran, kesederhanaan, dan kerendahan hati, yang dapat kita tunjukkan dengan cara bercerita. Rasul Petrus memberikan nasihat yang baik tentang bersaksi (baca 1 Petrus 3:15).

Keempat, mengikutsertakan. Mengikutsertakan berarti mengajak orang yang kita Injili untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan iman Kristen. Mengikutsertakan adalah cara yang efektif untuk memberitakan Injil, karena mengikutsertakan adalah proses yang dapat membantu orang untuk mengenal, mengalami, dan bertumbuh dalam Kristus. Mengikutsertakan juga menunjukkan kasih dan perhatian kita kepada orang yang kita Injili, karena mengikutsertakan adalah komitmen yang membutuhkan waktu, tenaga, dan sumber daya. Mengikutsertakan membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kreativitas yang dapat kita lakukan dengan cara mengundang, membimbing, dan mendampingi. Beberapa contoh kegiatan yang dapat kita gunakan untuk mengikutsertakan orang yang kita Injili adalah mengajak mereka untuk menghadiri ibadah, persekutuan, atau pelayanan; mengajak mereka untuk belajar Alkitab, berdoa, atau menyembah bersama; mengajak mereka untuk berbagi, melayani, atau bersaksi bersama; dan mengajak mereka untuk bermain, makan, atau berlibur bersama.

Penutup

Memberitakan Injil adalah panggilan Tuhan kepada setiap orang Kristen yang mengasihi-Nya dan taat kepada-Nya. ** Ar2