Pembinaan

Berkat

Maksud dan keinginan Allah untuk memberkati manusia merupakan fokus utama dari hubungan perjanjian-Nya dengan manusia. Karena itulah konsep berkat memenuhi catatan Alkitab. Ada dua pokok pikiran utama yang berbeda terkait dengan berkat. Pertama, berkat adalah pernyataan di hadapan umum bahwa seseorang memiliki status istimewa di hadapan Allah. Kedua, berkat juga menghadirkan kuasa untuk mendapatkan kemakmuran dan keberhasilan. Dalam semua keadaan, berkat menjadi panduan dan motivasi untuk mengejar kehidupan dalam berkat itu.

Di dalam Perjanjian Lama, ada lebih dari 600 referensi tentang berkat, dengan memakai sejumlah istilah. Dari istilah-istilah itu, pokok pikiran utamanya terkait dengan kata "berlutut" karena di masa itu seseorang harus berlutut untuk menerima berkat.

Sejarah umat Israel dimulai dengan janji berkat. Kutukan yang mendominasi pasal-pasal pertama sejarah Alkitab (Kejadian 3:14, 17 ; 4:11 ; 5:29 ; 9:25 ), diimbangi dengan janji Allah kepada Abraham bahwa "olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej. 12:3). Sejarah masa lalu Israel paling baik dipahami sebagai hasil dari berkat dan kutuk ini (Ul. 27:1-28:68 ).

Lembaga kemasyarakatan seperti keluarga, pemerintahan dan agama adalah alat yang dipakai untuk menyalurkan berkat-berkat ini. Di dalam keluarga, ayah memberkati isteri dan anak-anaknya (Kej 27:27-29; 49:25-26 ; 1Sam. 2:20 ). Dalam konteks pemerintahan, penguasa memberkati bawahannya (2Sam. 6:18 ; 1Raj. 8:14, 8:55 ). Orang-orang yang berperan sebagai imam dianugerahi dengan hak istimewa akan berkat (Kej. 14:19 ; Im. 9:22 ). Suku Lewi dipisahkan "untuk memberi berkat demi nama-Nya" (Ul. 10:8 ; 21:5 ).

Ada tiga pokok utama dalam berkat di Perjanjian Lama. Pertama, yang memiliki lebih memberkati yang kurang. Hal inilah yang diangkat oleh penulis kitab Ibrani untuk memperlihatkan superioritas Melkisedek atas Abraham (Ibr. 7:6-7). Kedua, berkat adalah tanda perkenanan istimewa yang dimaksudkan untuk menghasilkan kemakmuran dan keberhasilan (Ul. 28:3-7). Ketiga, berkat adalah suatu upaya meminta berkat Allah: "Moga-moga Allah Yang Mahakuasa memberkati engkau..." (Kej. 28:3)

Di luar konteks upacara keagamaan, Alkitab menyatakan berkat bagi orang benar. Orang-orang yang menaati perintah Allah diberkati dengan kekayan dan kemenangan (Ul. 28:1-14). Di pihak lain, mereka yang tidak taat dikutuk (Ul. 28:15-68) dan menderita konsekuensi berupa kekeringan, penyakit dan kemiskinan. Selain itu, seseorang juga mungkin "memberkati" Allah. Istilah ini muncul sebagai respon atas berkat-berkat yang diberikan oleh Allah: "Bless the Lord, O my soul, and forget not all his benefits" (Mazmur 103:2 ; King James Version). Kata "bless" (memberkati) biasanya diterjemahkan dengan "pujian" dalam terjemahan modern seperti dalam terjemahan Indonesia: "Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!"

Ada kesejajaran erat antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam pemahaman akan berkat. Diberkati berarti menerima perkenanan Allah secara khusus yang membawa pada sukacita dan kemakmuran. Namun dalam Perjanjian Baru, penekanannya lebih kepada berkat rohani daripada berkat materi.

Janji Allah kepada Abraham adalah dasar semua berkat. Janji itu dipenuhi dalam pribadi dan karya Yesus Kristus (Gal. 3:8-14). Ia menanggung konsekuensi dosa untuk orang percaya (Gal. 3:13) dan memberkati mereka dengan pengampunan dosa (Rm. 4:6-9; Mzm 32:1-2). Orang percaya "dikaruniakan segala berkat rohani di dalam surga" (Ef. 1:3) dan sekarang mewarisi semua berkat yang dijanjikan oleh Perjanjian Lama (Ibr. 6:12, 15 ; 12:17 ; 1Ptr. 3:9 ). Sebagai konsekuensi atas berkat yang diterima, orang percaya dipanggil untuk menjadi sumber berkat kepada dunia, khususnya kepada mereka yang menganiaya orang percaya (Luk. 6:27-28 ; Rm. 12:14 ; 1Kor. 4:12 ; 1Ptr. 3:9 ; bdk. Yes. 19:24 ; Za. 8:13 ).

Secara umum istilah-istilah yang dipakai untuk berkat dalam Perjanjian Baru dipakai untuk menunjuk seseorang yang diperkenan oleh Allah, termasuk Yesus (Mrk. 11:9-10 ), anak-anak (Mrk. 10:13-16 ), Maria ( Luk. 1:42, 48), murid-murid (Luk. 24:50 ), orang-orang yang "tidak melihat namun percaya" (Yoh. 20:29 ), dan mereka yang menanggung pencobaan (Yak. 1:12 ; 5:11 ). Seperti juga di dalam Perjanjian Lama, ketika istilah ini dikenakan pada Allah, maka istilah ini lebih sesuai diberi makna "pujian" (Rm. 1:25 ; 9:5 ; 2Kor. 11:31 ).

Acuan paling dikenal tentang berkat datang dari pengajaran Yesus. Dia menyatakan bahwa meskipun ada kesusahan di masa sekarang, janji-janji keselamatan Allah dan kerajaan yang akan datang membawa pada kebahagiaan dan perkenanan dari Tuhan (Mat. 5:3-10 ; Luk. 6:20-22 ). Puncak penyataan Firman Tuhan menyatakan berakhirnya kutuk dan kondisi diberkati secara kekal pada umat Allah (Why. 22:3). (TDK)

Catatan: Bahan ini diambil dari artikel "Blessing" pada Baker's Evangelical Dictionary of Biblical Theology.