Pembinaan

Gap antar generasi

Dalam buku Milennial Nusantara (Gramedia Pustaka Utama, 2017) disebutkan bahwa Baby boomers adalah generasi yang family-oriented dan cenderung loyal ditempat kerja, Gen X adalah generasi awal yang mengenal internet, lebih loyal terhadap profesi dibanding tempat kerjanya. Sementara itu milenial adalah generasi yang memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap internet dan memiliki kecenderungan menjadi seorang entrepreneur.

Ada juga temuan yang menarik, ketika mereka ditanyakan topik apa yang menarik untuk diperbincangkan, ternyata antar generasi juga menunjukkan perbedaan yang signifikan. Tiga topik pembicaraan favorit milenial adalah olahraga, musik/film, dan IT. Gen X menyukai pembicaraan soal sosial/politik, ekonomi, dan budaya. Sementara Baby Boomers lebih suka memperbincangkan soal keagamaan.

Semua penelitian yang di atas, adalah sedikit dari sekian banyaknya pengupasan-pengupasan tentang "gap antar generasi." Pemikiran yang perlu senantiasa dikembangkan dan dibangun secara tepat dan benar bahwa yang namanya "history," itu selalu menghadirkan dan melibatkan semua generasi di dalam perjalanan kehidupan manusia. Tidak ada "history" yang hanya dimonopoli dan dikuasai oleh satu generasi tertentu. Meminjam istilah dari Pengkotbah, dikatakan bahwa: "Segala sesuatu ada masa dan waktunya" (Pkh 3:1).

Ini artinya menunjuk kepada konsep generasi yang silih berganti datang dan pergi untuk saling mengisi, menggantikan dan melanjutkan, sehingga "history" manusia itu akan tetap berlangsung. Tidaklah mengherankan gap antar generasi itu pasti terjadi dan akan terus bergulir, sampai berakhirnya kehidupan manusia di dalam dunia ini.

Selama bumi berputar, maka "history" panjang yang melibat antar generasi tidaklah terhindarkan. Tidak terhindarkan, karena ada "perjumpaan" yang seharusnya saling memberikan "daya tarik" masing-masing. Saling mendekat untuk menciptakan "interaksi" yang sehat dan benar di dalam membangun "peradaban manusia" yang baru dan memberikan pengharapan. "Perjumpaan" antar generasi menjadi sebuah "ikatan," yang tidak hanya bersangkut paut dengan fisik, pemikirian, jiwa, tapi juga spirit untuk saling "memberi" yang terbaik

2 PENDEKATAN

Ada 2 pendekatan yang dapat ambil, yaitu:
(1). Secara negative: Gap antar genarasi menjadi "momok" yang menakutkan baik bagi generasi Baby boomers, X dan Melenial. "Momok" ini, dapat terjadi, karena setiap generasi melakukan pendekatan perspektif dari sudut pandang "keperbedaan". Dimana "keperbedaan" ini, sebenarnya, kalau dilihat lebih dalam menjadi "ciri khasnya" masing-masing generasi, yang dapat menjadi titik kekurangan dan sekaligus kelebihan.
(2). Secara positif: Gap antar generasi menjadi "kekayaan" yang tersedia, yang perlu diolah dan digunakan. Yang pasti, "manusia," itu tidak bisa berdiri sendiri, perlu "orang lain," khususnya dalam konteks tulisan ini menunjuk kepada "generasi yang lain," sebagai "tongkat estafet" untuk melanjutkan

2 pendekatan ini akan membawa baik itu keluarga, gereja, lembaga pendidikan, perusahaan & negara, pada satu pilihan yg harus diputuskan, yaitu, apakah masih ingin tetap ada: "Seperti katak di dalam tempurung" atau sebaliknya keluar dari "tempurung" untuk melihat dunia yang riil. Persaingan untuk mendapatkan pengaruh dan keuntungan dalam bidang apapun, itu bukan hanya untuk mempertahankan heritage-nya semata, yaitu kaum generasi tua, tapi juga untuk future-nya, yaitu untuk generasi muda.

Tidak bisa dipungkiri perjalanan sejarah manusia dan dunia, tidak hanya berhubungan dengan masa lampau (past), tetapi yang lebih dalam lagi adalah berhubungan dengan masa sekarang (now) dan masa yang akan datang (future).

Artinya proses perkembangan dan kemajuan zaman yang melahirkan segala keperbedaan antar generasi, sesungguhnya tidak pernah bisa diberhentikan dan dilawan. Pertanyaan kritisnya adakah apakah generasi Baby Boomers dan X ini mau "memenangkan" (pahami: menyelamatkan) generasi milenial untuk sebuah masa depan yang "lebih baik"?

Fakta mengungkapkan, pada saat pengabaian generasi muda itu terjadi, maka "krisis" masa depanpun secara otomatis terjadi pula. Terjadi, karena mau tidak mau harus diakui bahwa generasi muda dan milenial inilah yang akan menjadi pewaris dan penerus masa depan bagi keluarga, gereja, perusahaan, masyarakat dan negara. Ini, jelas sangatlah strategis! Alangkah naïf, tidak bertangung jawab dan berdosa, kalau perhatian untuk generasi penerus itu tidak dilakukan.

Perlu memiliki dan mengembangkan hati untuk generasi mendatang! Tujuannya sangatlah jelas, yaitu, legowo mengurangi dominasi dan menyerahkan peran yang lebih kepada yang muda. Inilah yang namanya membagikan kebajikan dan kebijaksanaan kepada yang muda. Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi!

"KACA MATA" IMAN

Tentunya yang dimaksudkan dengan "kaca mata" iman adalah berkenaan dengan "perhatian" yang Allah berikan melalui Firman Tuhan kepada kaum muda. Biarpun Alkitab tidak secara defenitif mengungkap gap antar generasi, tetapi tetap memberikan bobot untuk mengerjakan dan menggarap orang-orang muda, termasuk anak-anak sebagai "aset" masa depan. Didalam beberapa bagian Firman Tuhan, hal ini sangat jelas ditemukan, baik dalam bentuk nasehat, dorongan maupun perintah. Misalnya:

  • Ulangan 6:7 yang memberikan bobot penekanan pada: Haruslah engkau berulang-ulang mengajarkan kepada anak-anakmu. Caranya dengan membicarakan dimanapun dan dalam kesempatan apapun. Ini sebuah panggilan yang tidak boleh diabaikan.
  • Amsal 22:6 yang memberikan bobot penekanan pada: Didiklah orang muda. Ini artinya ada tanggung jawab bersama dalam kelembagaan untuk mendidik generasi muda, tidak hanya di dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam prilaku, moralitas, pengalaman hidup, iman dan kesempatan "magang" di dalam pekerjaan.
  • Pengkotbah 11:9 yang memberikan penekanan pada: Dorongan untuk bersukacita pada masa muda. Alasannya sederhana masa muda datang hanya satu kali, oleh sebab itu perlu kesadaran bersama untuk mendorong orang-orang muda "menikmati" masa-masa muda itu, untuk tetap dalam prinsip takut akan Tuhan
  • Ratapan 3:27-29 yang memberikan penekanan pada: Memberikan kuk pada masa muda. Kuk disini lebih pada pengertian memberikan "tanggung jawab" untuk memikul segala macam tantangan dan kesulitan didalam menghadapi kehidupan yang tidak makin mudah. Ini merupakan sebuah "pelatihan diri" bagi kaum muda

Sesungguhnya titik krusial yang perlu disimak didalam penjabaran semua Firman Tuhan ini adalah: Jadikan generasi muda dan milenial menjadi generasi untuk Tuhan, bukan untuk gadget, dunia, setan maupun diri sendiri!

Kalau konsep pemikirannya demikian, jangan jadikan urusan gap antar generasi, diperuncing untuk dipertentangkan, tetapi lebih dilihat secara proposional. Dalam pengertian tidak mendiskreditkan dan menegatifkan kaum milenial, melainkan lebih menerima dan mamahami keberadaan generasi ini secara utuh. Pada prinsipnya adalah memberikan sebanyak mungkin kesempatan dan peluang bagi kaum muda dan milenial untuk mengembangkan diri mereka seoptimal mungkin dengan arahan dan bimbingan para "senior" di dalam lingkungan yang sehat dan benar, khusunya dalam keluarga, gereja dan masyarakat. [LHP]