Pembinaan

Kasih

Kita sudah mendengar perintah: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Yesus berkata inilah satu perintah yang menjadi summary dari keseluruhan Alkitab. Untuk memahami maksud ajaran ini sepenuhnya maka kita perlu melihat kata “kasih” dalam Alkitab. Ada beberapa kata dalam bahasa asli Alkitab yang dipakai untuk kata “kasih” ini. Dalam Perjanjian Lama kita bertemu perintah ini dalam 2 momen yang terpisah. Perintah mengasihi Tuhan muncul pada Ulangan 6:4-5 yang biasa dikenal dengan shema. Bagian ini adalah rangkaian perintah Musa yang ia sampaikan terakhir kalinya sebelum Israel memasuki Kanaan, agar Israel mengiingat siapa yang sudah menyelamatkan mereka, menuntun mereka, dan membawa mereka masuk Kanaan. Perintah untuk mengasihi sesama kita jumpai pada Imamat 19:18, dimana umat Israel dipanggil untuk mengasihi baik kaum keluarganya, bangsanya, sukunya, namun juga orang asing yang menumpang pada mereka. Pada kedua perintah ini kata kasih yang dipakai adalah Ahavah. Kata Ahavah ini adalah kata yang selalu kita jumpai dan dipakai para penulis Alkitab untuk menyatakan kasih Tuhan kepada bangsa Israel. Dalam Ulangan 7:7-8 Musa mengingatkan bangsa Israel bahwa atas dasar kasih Ia memilih dan menyelamatkan Israel dan menjadikan mereka milik kepunyaan Tuhan. Tuhan tidak memilih Israel karena layak menerimanya namun semata karena Tuhan yang adalah kasih. Karenanya nabi Yeremia (Yer. 31:3) mengatakan kasih Allah tak berkesudahan, karena Allah adalah kasih, selama ada Allah maka kasih akan selamanya ada, dan Allah adalah kekal. Akan tetapi kasih Allah ini, yakni Ahavah bukanlah sebatas perasaan melainkan juga action. Kasih Allah ditunjukan pada Israel ketika Ia mengeluarkan mereka dari tanah Mesir, melepaskan mereka dari perbudakan. Musa mengatakan dalam Ulangan 4:37, karena kasih Allah kepada nenek moyang bangsa Israel, Ia membawa mereka keluar dari Mesir.

Dalam Perjanjian Baru kita bertemu kata Agape. Kita bertemu satu peristiwa dalam Perjanjian Baru, ketika ada seorang yang bertanya pada Yesus apakah hukum yang terutama, dan Yesus menjawab, kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu. Kedua perintah ini disandingkan, karena bagi Yesus, mengasihi sesama dan mengasihi Allah adalah dua sisi dari satu mata koin, ia tidak terpisahkan. Karena itu, kasih bukan sekedar perasaan, ia bicara soal tindakan. Tindakan yang mengutamakan kesejahteraan orang lain daripada kepentingan sendiri. Kasih terhadap Allah terekspresi dalam kasih terhadap sesama, dan demikian juga berlaku sebaliknya. Hal ini nampak jelas ketika kita melihat kata “kasih” yang dipakai dalam menyatakan kedua perintah ini ialah Agape. Kasih kita kepada Allah dinyatakan juga lewat cara kita memperlakukan sesama. Dan bagi Yesus sesama dalam hal ini ialah setiap orang yang ada di sekitar kita, termasuk mereka yang dalam kesulitan dan tidak mungkin membalas kebaikan kita, mereka yang membenci kita, dan juga mereka yang kita benci.

Kata yang dipakai Tuhan untuk menyatakan kasih-Nya pada kita adalah kata yang sama yang dipakai dalam perintah Tuhan agar kita mengasihi Tuhan dan sesama. Dengan cara ini Tuhan mengajarkan kita untuk membalas kasih yang sudah diberikan-Nya kepada kita dengan membagikan kasih itu kepada sesama kita manusia. Karena sama dengan kasih Tuhan bukanlah perasaan semata, melainkan juga sebuah tindakan nyata, demikian perintah untuk kita mengasihi Tuhan dan sesama harus memiliki wujud, yakni dalam perbuatan yang kita lakukan bagi Tuhan dan bagi sesama kita. Mengasihi Tuhan bukan sekedar perasaan namun ada dalam satu keutuhan antara pikiran dan perbuatan yang dalam dalam Ulangan 10:12-13 digambarkan dengan indah dengan kalimat: “Apakah yang Tuhan Allahmu minta darimu selain daripada takut akan Tuhan, berjalan bersama Tuhan, melayani-Nya, dan memelihara segala perintah-Nya.” Perintah untuk mengasihi Tuhan dan berbagi kasih kepada sesama ini didasari pada kasih yang Allah sudah tunjukkan kepada setiap kita, dan kita dipanggil untuk membagikan kasih Allah kepada setiap orang yang ada di sekitar kita.  Alkitab memberikan kita beberapa contoh perbuatan kasih, mengasihi anggota keluarga kita, mengasihi pemimpin, mengasihi rekan-rekan, mengasihi orang-orang yang ada di lingkungan kita, perhatian kepada orang-orang yang membutuhkan yakni janda dan orang yatim piatu, memberikan upah yang baik kepada orang-orang yang bekerja pada kita, memperlakukan orang asing dengan baik. Pertanyaanya adalah sudahkah kita menjadi orang-orang yang mengasihi Allah dan sesama? Mari memasuki masa Natal ini kita sambut dalam sebuah perubahan tataran value kita, menempatkan kesejahteraan sesama di atas segala kepentingan dan kenyamanan kita dengan mewujudkan #loveinaction.   [DK]