Hiduplah Kudus Sebab Allah Kudus
Yesaya 6:1-7
tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.
- 1 Petrus 1:15-16
Kevin DeYoung dalam bukunya, The Hole in Our Holiness, menuliskan: Lubang di dalam kekudusan kita sebagai orang Kristen adalah kita tidak peduli tentang kekudusan itu sendiri. Bagaimana pendapat Anda tentang pernyataan DeYoung ini? Apakah kita sebagai orang Kristen sudah tidak memedulikan kekudusan?
Dunia di sekitar kita menawarkan banyak hal untuk dinikmati, yang mungkin menjelaskan mengapa kita sering mengabaikan kekudusan. Namun, kekudusan adalah inti dari kekristenan karena Allah yang kita sembah adalah kudus. Karena itu, kita perlu memahami makna kekudusan dan konsekuensinya dalam kehidupan kita.
“Kudus” berarti berbeda, dipisahkan atau unik. Allah kita yang Mahakudus tidak dapat dibandingkan, tidak seperti siapa pun atau apa pun. Allah yang Mahakudus tidak terpengaruh oleh peristiwa duniawi, seperti yang dialami Nabi Yesaya di perikop bacaan, “Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.” (ay. 1). Yesaya menyaksikan kedaulatan Allah yang tidak berubah di tengah masa yang tidak menentu. Ia juga mengamati para Serafim menutupi wajah mereka di hadapan Allah (ay. 2-4). Penglihatan ini membuat Yesaya sadar akan dosanya dan kebutuhan untuk penyucian dari Allah supaya dapat berdiri di hadapan-Nya (ay. 5-7).
Kita di zaman ini tidak mendapat penglihatan seperti Yesaya, tetapi kita menyembah Allah yang sama, Allah yang kudus. Ayat emas menyampaikan panggilan bagi kita untuk hidup kudus, seperti Allah yang memanggil kita juga kudus. Kekudusan-Nya harus nyata dalam gaya hidup kita sehari-hari, bukan hanya ketika kita sedang beribadah ke gereja di hari Minggu.
Tidak ada yang dapat berdiri di hadapan Allah yang Kudus kecuali mereka yang telahdisucikan oleh darah Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Kita dikuduskan melalui karya penebusan Kristus di kayu salib (Ibr. 10:19-22) sehingga kita memiliki hak istimewa untuk melayani Allah yang Kudus secara dekat. Marilah mengambil komitmen untuk tidak hidup sembarangan, tetapi mencerminkan kekudusan Allah. Ingatlah, Allah yang kita sembah adalah Mahakudus. Dia layak menerima yang terbaik dalam kehidupan kita.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda sudah melayani Tuhan dengan hormat dan menjaga hidup Anda kudus sesuai standar-Nya?
- Apakah gaya hidup Anda selaras dengan kekudusan-Nya? Apakah ada aspek yang tidak kudus yang perlu Anda tangani?