Bagikan artikel ini :

Pengorbanan Untuk Misi Kristus

Di dalam Yohanes 12:1–8, kita melihat tindakan luar biasa dari Maria yang mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu yang sangat mahal. Ini bukan hanya tindakan simbolis, tetapi ekspresi kasih, penyembahan, dan pengorbanan yang tulus. Minyak narwastu seharga satu tahun upah bukanlah sesuatu yang diberikan sembarangan. Namun, Maria memberikannya tanpa ragu. Baginya, Yesus jauh lebih berharga daripada harta duniawi. Walaupun Yudas Iskariot mengkritiknya dan menyebut tindakan itu sebagai pemborosan, Yesus membela Maria, dan bahkan menyatakan bahwa perbuatannya adalah bagian dari persiapan untuk penguburan-Nya.

Kisah ini menyampaikan pesan penting bahwa pengorbanan yang dilakukan dengan kasih kepada Kristus tidak akan pernah sia-sia. Bahkan, pengorbanan tersebut menjadi bagian dari karya keselamatan Allah bagi dunia. Inilah dasar dari pengorbanan untuk misi – ketika kita memberi, melayani, dan mengorbankan sesuatu demi menjangkau jiwa-jiwa, kita sedang mengambil bagian dalam karya penebusan yang lebih besar. Ini berarti menyerahkan waktu, tenaga, kemampuan, dan sumber daya untuk menjangkau mereka yang belum mengenal Injil. Tuhan bisa memakai siapa saja – dari anak-anak, orang muda hingga orang lanjut usia, dari profesional hingga ibu rumah tangga, untuk menjadi bagian dari rencana keselamatan-Nya. Kita bisa terlibat secara langsung dan full-time di ladang misi, atau secara tidak langsung melalui doa dan dana, atau cukup menjadi volunteer misi di gereja atau di mana pun kita berada.

Maria tidak memberi karena terpaksa. Ia memberi karena mengerti siapa Yesus sebenarnya. Pengorbanannya lahir dari pengenalan dan hubungan pribadi dengan Tuhan. Sebaliknya, Yudas, yang begitu dekat secara fisik dengan Yesus, tetapi jauh secara hati, memperlihatkan sikap yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Ini menjadi peringatan bagi kita bahwa tanpa kasih dan penyerahan diri, kita bisa saja terlibat dalam aktivitas rohani tetapi kehilangan makna misi yang sesungguhnya. Misi bukan hanya acara tahunan atau program gereja. Misi adalah gaya hidup. Ini adalah respons dari hati yang telah disentuh dan diubah oleh kasih Kristus. Ketika kita memahami betapa dalam kasih Tuhan bagi dunia ini, kita tidak akan bisa diam. Kita akan terdorong untuk berbuat sesuatu – besar atau kecil, demi membawa lebih banyak orang mengenal kasih itu.

Menariknya, dalam perjamuan itu hadir juga Lazarus – seseorang yang pernah mati, namun dibangkitkan oleh Yesus. Kehadirannya menjadi gambaran kuat dari tujuan misi Kristus, yaitu membangkitkan manusia dari kematian rohani menuju kehidupan baru. Setiap kali Injil diberitakan, setiap kali pengorbanan diberikan untuk menjangkau yang terhilang, kita sedang membuka jalan bagi orang-orang untuk mengalami kuasa kebangkitan itu – dari kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib, dari maut menuju hidup kekal.

Setiap tindakan kasih, setiap rupiah yang dipersembahkan, setiap jam yang dicurahkan untuk melayani, dan setiap langkah yang diambil untuk memberitakan Injil tidak akan pernah sia-sia. Pengorbanan yang lahir dari kasih sejati adalah cermin dari karakter Kristus yang hidup dalam diri kita. Dunia mungkin tidak mengerti, bahkan mencemooh tindakan kita. Tapi Tuhan melihat hati kita, dan Dia tidak pernah lalai menghargai setiap persembahan yang lahir dari kasih. Kiranya semangat pengorbanan ini membakar hati kita untuk terus bergerak menjangkau jiwa-jiwa, agar nama Tuhan dimuliakan di seluruh bumi dan Injil diberitakan sampai ke ujung dunia. ** YM